INDOZONE.ID - Kasus mengejutkan terjadi di salah satu SMA negeri di Jakarta. Insiden yang berujung pada ledakan di lingkungan sekolah ini bukan hanya mengguncang publik, tapi juga membuka mata banyak pihak tentang rapuhnya kesehatan mental remaja Indonesia.
Di balik berita soal bom di sekolah ini, para ahli mengingatkan bahwa masalahnya jauh lebih dalam, menyangkut kondisi psikologis, tekanan sosial, hingga efek dari lingkungan digital yang semakin brutal.
Menurut Pendiri dan Ketua HCC Dr. Ray Wagiu Basrowi, seorang psikiater anak dan remaja, masa SMA adalah fase paling krusial dalam perkembangan otak manusia. Di usia ini, bagian otak yang mengatur empati, simpati, dan kendali emosi yaitu prefrontal cortex sedang berkembang pesat.
“Remaja di usia ini sedang dalam tahap mencari otonomi, ingin merasa punya kendali atas hidupnya. Tapi di sisi lain, lingkungan sekolah dan keluarga justru penuh aturan dan kontrol. Ini benturan dua kutub yang sering kali jadi sumber konflik batin,” jelas dr. Ray.
Ia menambahkan, sekolah memegang peran penting karena sebagian besar waktu produktif remaja dihabiskan di sana. Jika lingkungan sekolah tidak suportif, misalnya guru abai, atau teman-teman justru melakukan perundungan, maka dampaknya bisa sangat besar pada perkembangan psikologis anak.
Fenomena perundungan atau bullying di sekolah, baik di negeri maupun swasta, masih menjadi masalah besar. Menurut dr. Ray, perundungan menyebabkan anak mengalami tekanan psikologis yang memengaruhi fungsi otak bagian empati.
“Saat remaja sering dirundung, otaknya akan merekam bahwa respon terhadap lingkungan harus dengan cara yang keras juga. Ini bukan karena mereka jahat, tapi karena otak mereka belajar dari pengalaman negatif,” paparnya.
Jika kondisi ini terjadi terus-menerus, anak bisa mulai menutup diri dari interaksi sosial nyata dan mencari pelarian lewat dunia digital, media sosial atau game online. Sayangnya, justru di sana banyak ditemukan konten kekerasan, ekstremisme, dan perilaku brutal yang bisa memperkuat pola pikir agresif.
Baca juga: My Body dan Kapitalisme Tubuh Perempuan: Antara Empowerment dan Eksploitasi
Dalam kasus yang menimpa siswa SMA 72 Jakarta, disebut pemicu aksi brutal ini didapatkan karena game online. dr Ray juga mengungkap berbagai studi menunjukkan hubungan antara paparan game penuh kekerasan dengan meningkatnya agresivitas pada remaja laki-laki.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara Langsung