Ilustrasi perempuan dan feminisme (Handout)
INDOZONE. ID - "Memoar My Body" yang ditulis oleh seorang supermodel Emily Ratajkowski tampak seperti kisah sempurna tentang pembebasan perempuan yang berusaha untuk menuliskan ulang pengalaman hidupnya. Sebuah kisah yang jarang sekali diceritakan dari sudut pandang orang yang bekerja dalam industri model yang sangat visual, transaksional dan sering kali tidak manusiawi. Emily punya misi yang suci, ia mengaku ingin merebut kembali narasi tentang tubuhnya.
Emily datang dari keluarga yang penuh privilese, tidak berkekurangan dan sejak kecil sudah diarahkan untuk menjaga bentuk tubuh alih-alih jati dirinya. Tubuh dalam konteks cerita Emily pada buku ini menjadi mata uang sosial sekaligus simbol kebanggaan. Dalam kisahnya, Emily menolak untuk dianggap sebagai objek, tapi di saat yang sama ia menikmati sorotan yang datang dari objektifikasi itu. Ia merasa terpenjara oleh lampu kamera, tapi juga merasa jauh lebih hidup karenanya.
Ratajkowski menulis dari posisi yang istimewa: ia perempuan kulit putih, berpendidikan, dan lahir dalam keluarga yang mapan secara ekonomi. Perspektif ini penting karena dalam kerangka feminisme interseksional (bell hooks, Kimberlé Crenshaw), kebebasan tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial dan ekonomi yang melingkupinya.
Emily mengklaim bahwa ia bebas menentukan bagaimana tubuhnya dilihat, ia merasa punya cukup kekuatan untuk menentukan itu, sebuah ruang aman yang tidak dimiliki oleh banyak perempuan lain di industri ini. Terkadang, pilihan untuk menampilkan tubuh tidak lahir dari kebebasan tapi karena tuntutan ekonomi agar bisa bertahan hidup.
Baca juga: Antara Keadilan dan Kedaulatan: Menimbang Ulang Gelombang Penolakan Imigran Dunia
Namun, kesadaran akan kebebasan yang dimiliki Emily bukan tanpa bayaran. Ia menuliskan tentang tubuhnya sebagai bentuk kepemilikan dan kontrol tubuh, tapi tubuh yang sama tetap beroperasi di sistem, yang mengedepankan logika kapitalisme. Ia berpose “atas kemauannya sendiri”, tetapi pose itu masih tunduk pada standar yang ditentukan oleh industri yang sama yang membesarkannya. Ia menyebut kemampuannya mengontrol citra sebagai bentuk kekuasaan, padahal kekuasaan itu bersifat semu.
Ilustrasi perempuan dan feminisme (Handout)
Relasi Ratajkowski dengan ibunya juga memperlihatkan bagaimana patriarki bekerja melalui jalan yang halus dan terselubung. Kasih ibu tiada akhir, membuat ibunya punya banyak kendali untuk menuntut Emily menjaga bentuk tubuh karena inilah syarat mutlak untuk diterimanya perempuan di ruang publik. Kondisi male gaze reproduksi oleh perempuan yang menginternalisasi pandangan ini.
Buku ini memancarkan semangat pemberdayaan, tetapi juga menghadirkan kebingungan: Emily ingin bicara tentang otoritas tubuh, namun posisinya tidak pernah benar-benar jelas. Ia marah karena tubuhnya dieksploitasi, tapi juga bangga karena tubuh itu memberinya kekuasaan. Ia mengkritik sistem yang menindasnya, tapi juga merasa nyaman di dalamnya, seperti seseorang yang tahu air itu dalam, namun memilih untuk mengapung daripada berenang keluar.
Terus semacam ada ide yang berputar di satu titik yang sama dan melelahkan, tidak pernah ada jalan keluar yang jelas atau upaya pembebasan berarti dari penulisnya dalam kisah memoar ini. Emily tampak ingin mematahkan pandangan patriarki, tapi pada saat yang sama ia justru memperkuat logika yang sama: bahwa tubuh perempuan adalah modal utama untuk memperoleh pengakuan.
Baca juga: Generasi Z: Kuat Berinovasi, Lemah Berkomunikasi?
Ambiguitas ini dapat dibedah dari teori feminisme neoliberal yang menekankan pada tanggung jawab individu atas kebebasan dan keberhasilan daripada melihat ketimpangan sebagai persoalan struktural yang mengakar. Dalam kacamata teori ini, perempuan akan dianggap berdaya jika mampu mengelola tubuh, karir dan citranya sendiri meskipun semua itu tetap dikomandoi oleh kebutuhan pasar dan pandangan laki-laki. Narasi kebebasan semu akibat dari bagaimana pasar membungkus eksploitasi.
Perempuan diminta untuk mencintai tubuhnya, punya otoritas atas citranya atau menentukan caranya untuk tampil terdengar sebagai pernyataan yang membebaskan namun posisis perempuan tetap sebagai komoditas.
Tulisan Emily ini mengingatkan pada kisah nyata yang diangkat ke layar lebar: sekelompok jurnalis perempuan yang menggugat CEO kantor berita karena kekerasan seksual di tempat kerja (Bombshell, 2019). Bedanya, tokoh-tokoh dalam film itu mengalami transformasi yang nyata. Mereka berangkat dari posisi korban, lalu menemukan kekuatan dalam solidaritas, sebuah perlawanan kolektif yang mengguncang sistem. Sementara Emily, dalam My Body, tampak terjebak dalam refleksi personal yang tak berujung.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: