Ilustrasi mudik menggunakan kendaraan pribadi (Freepik)
INDOZONE.ID - Ada yang berbeda dengan musim mudik tahun ini. Setidaknya itu yang dirasakan Eva Sri Rahayu yang tengah mempersiapkan sepeda motornya untuk mudik ke kampung halamannya di kota seberang.
Semenjak ada kebijakan bekerja dari mana saja atau WFA, sosok penulis asal Bandung itu tak perlu susah payah menunggu pasangannya untuk menunggu cuti bersama dan mudik serentak bersama warga lainnya. Eva dan pasangan bisa mudik lebih awal dan mempersiapkan kendaraannya untuk mudik.
Tidak ada koper besar atau tiket yang harus dicek berulang kali. Ia hanya memastikan kondisi motornya siap, memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas, serta menyiapkan obat-obatan dan multivitamin sebagai bekal di jalan. Bagi Eva, persiapan mudik tidak pernah rumit, tapi penuh kesadaran bahwa perjalanan panjang akan menanti di depan.
Eva terbiasa mengamati hal-hal kecil dalam perjalanan mudik, mengingat sebagai seorang penulis membutuhkan referensi untuk bahan tulisan. Mungkin itu pula yang membuatnya memilih motor sebagai kendaraan mudik. Baginya, perjalanan bukan hanya tentang sampai, tetapi tentang bagaimana setiap momen bisa dirasakan dengan utuh.
Baca juga: Ada 10 Posko dan 297 Bengkel Siaga dari Toyota untuk Pengguna Kendaraan Pribadi saat Mudik
“Momen paling serunya itu bisa memperhatikan dan menikmati suasana mudik dengan bebas. Karena pakai motor, tubuh nggak merasa terkungkung, termasuk saat macet,” tuturnya kepada Indozone.
Ilutrsi menggunakan mudik menggunakan motor (Freepik)
Di tengah padatnya arus mudik, Eva justru menemukan ruang yang tidak dimiliki pengguna kendaraan lain. Ia bisa merasakan angin, melihat langsung wajah-wajah pemudik, hingga menikmati detail perjalanan yang sering terlewat ketika berada di balik kaca mobil.
Namun perjalanan panjang tidak selalu mulus. Ia pernah mengalami kejadian yang masih membekas dalam ingatannya.
“Pernah jatuh dari motor di tikungan tajam. Untungnya nggak terpental jauh, jadi selamat. Cuma lecet-lecet saja,” kenangnya.
Pengalaman itu tidak membuatnya kapok, justru menjadi pengingat untuk lebih berhati-hati. Sejak saat itu, ia lebih peka terhadap kondisi jalan, terutama saat harus menghadapi tikungan atau cuaca yang tidak menentu. Kendati naik mudik naik motor capek dan beresiko, tapi praktis dan keamanan privasi menjaid pilihannya.
“Kalau bosan atau ngantuk, bisa istirahat dulu. Lapar juga tinggal makan dulu. Senang aja rasanya bisa berhenti sesuka hati,” ujarnya.
Baca juga: Arus Mudik Mulai Terasa di Tol Malang, Lebih dari 36 Ribu Kendaraan Tercatat Melintas
Ternyata bukan hanya Eva yang memilih kendaraan untuk mudik. Dua karyawan swasta asal Jakarta, Nadhira dan Sagita mengaku lebih memilih mudik menggunakan pribadi. Sealam masih di Pulau Jawa dan Sumatera, mereka lebih memilih naik kendaraan pribadi, seperti mobil keluarganya.
Nadhira, yang rutin mudik dari Depok ke Bandung lalu ke Sumedang, mengaku perjalanannya selama ini jauh dari kata melelahkan. Ia bahkan lebih sering menghabiskan waktu di mobil dengan tidur.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara, ANTARA, Reportase