KANAL

REGIONAL

Kamis, 16 APRIL 2026 • 18:40 WIB

Bucin atau Butuh Aman? Ketika Hubungan Jadi Tempat Healing hingga Ketergantungan

Bucin atau Butuh Aman? Ketika Hubungan Jadi Tempat Healing hingga KetergantunganIlustrasi hubungan bucin. (Freepik)

INDOZONE.ID - Carin memandang ayahnya yang tergeletak di tempat tidur. Cairan obat menetes pelan dari botol ke selang yang tersambung ke tangan kirinya yang tampak lemah.

Bunyi sepatu dari langkah pelan di luar ruangan terasa menghentak di telinga Carin. Perempuan 24 tahun itu menghela napas panjang, lalu menghembuskannya dengan tertahan.

"Hai Ayang," suara Damar memecah kesunyian itu. 

Carin melonjak dari duduknya, memburu Damar yang menyambutnya dengan pelukan. Usapan lembut tangan Damar di punggung Carin yang berguncang pelan menahan tangis terasa menenangkan. 

Carin tersenyum saat mengangkat kepala dan menggeser badannya dari tubuh Damar. "Makasih Ayang," kata Carin yang dibalas senyuman Damar yang terasa hangat di dada Carin.

Saat berbincang dengan tim Indozone, Carin mengaku momen itu terasa sangat spesial di saat dirinya merasa berada di titik terendah dalam hidup. Apalagi Damar yang awalnya hanya menjanjikan pertemuan sebentar karena kesibukan pekerjaan, akhirnya menemani Carin di rumah sakit hingga keesokan harinya. 

"Emang bucin banget sih itu. Tapi menurut gua wajar sih, namanya juga sayang, pasti pengen selalu melibatkan pasangan dalam segala hal," kata Carin.

Di kalangan Gen Z, istilah “bucin” sering dipakai untuk menggambarkan seseorang yang terlalu tenggelam dalam hubungan. Terlalu perhatian, terlalu butuh kabar, atau terlalu takut kehilangan.

Tapi bagaimana kalau itu bukan sekadar soal cinta yang berlebihan? Sebab bagi sebagian orang, hubungan bukan cuma soal sayang, tapi juga tentang rasa aman.

Menurut Carin, perasaan bucin pada Damar yang sama-sama berkuliah di Politeknik Tempo itu paling terasa saat sendirian, karena ia merasa ingin ditemani. Bentuknya tak melulu harus hadir secara fisik, sebab hal sederhana seperti terhubung lewat telepon pun sudah terasa cukup.  

“Misalnya waktu gua harus pulang malem sendirian naik motor, gua bakal jalan sambil teleponan sama dia. Itu udah cukup buat bikin gua ngerasa aman."

Rasa Aman yang Hanya Ada di Satu Orang

Bucin atau Butuh Aman? Ketika Hubungan Jadi Tempat Healing hingga KetergantunganIlustrasi hubungan bucin. (Freepik)

Ayundia punya pengalaman yang serupa. Mahasiswi Universitas Pamulang berusia 25 tahun itu mengaku hampir selalu bergantung pada pasangannya dalam hubungan. Dia selalu ingin ditemani oleh pasangannya kemana pun dia pergi.

"Gue bergantung banget, karena butuh ditenangin sama divalidasi. Intinya gue butuh dia ada buat gue," ujar Ayundia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Bucin atau Butuh Aman? Ketika Hubungan Jadi Tempat Healing hingga Ketergantungan

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!