KANAL

REGIONAL

Rabu, 13 MEI 2026 • 15:36 WIB

Tidak Ada Kompromi soal Nyawa di Perlintasan Kereta

Tidak Ada Kompromi soal Nyawa di Perlintasan KeretaSalah satu perlintasan sebidang ilegal di kawasan Tanah Kusir, Kebayoran Lama, Jakarta. (ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddi)

INDOZONE.ID - Pagi itu Dwi sedang terburu-buru untuk berangkat ke kantornya yang berada di daerah Cideng, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Demi mempersingkat waktu, ia pun meminta ke abang ojol untuk menyeberang di perlintasan sebidang yang berada di dekat rumahnya.

Perlintasan sebidang itu sejatinya bukanlah perlintasan resmi dengan palang otomatis dan penjaga dari pihak KAI, namun perlintasan ilegal yang dibuat oleh inisiatif warga sekitar.

Hal tersebut dilakukan lantaran demi memotong jalan agar warga yang berada di daerah Kebon Baru yang ingin pergi ke daerah Tebet dan sekitarnya jadi lebih mudah. Sebab jika tidak, mereka harus memutar di daerah Kampung Melayu untuk bisa menyeberangi perlintasan KRL.

Perlintasan Liar Tumbuh Karena Kebutuhan Warga

Namun pada faktanya, keberadaan perlintasan sebidang ilegal ini tengah menjadi kontroversi. Selain tidak resmi dari pihak KAI, keselamatan perlintasan liar ini pun dipertanyakan.

Di tengah polemik ini, Indozone mencoba melihat persoalan ini dari sisi masyarakat yang hidup berdampingan langsung dengan rel kereta api.

Indozone mendatangi langsung sebuah lokasi perlintasan sebidang ilegal di daerah Tebet, Jakarta Selatan. Di tengah kebisingan suara klakson motor dan deru KRL, Indozone mewawancarai Bowo, penjaga perlintasan liar.

Bowo mengaku perlintasan ilegal tersebut sudah ada sejak tahun 2004, bahkan sebelum ia tinggal di daerah tersebut. Menurutnya, perlintasan ini ada karena kebutuhan warga agar akses ke Tebet atau Saharjo jadi lebih cepat.

"Perlintasan ini sudah ada sejak sebelum saya pindah ke sini tahun 2004. Warga malah merasa terbantu, terutama sejak penyeberangan di dekat Stasiun Tebet ditutup untuk keperluan stasiun," kata Bowo kepada Indozone.

Ia mengatakan, tanpa jalur ini warga terpaksa memutar cukup jauh sampai ke Kampung Melayu atau Gudang Peluru cuma untuk menyeberangi rel kereta.

"Kalau nggak ada ini, warga harus muter sampai Kampung Melayu atau Gudang Peluru, sih mas” katanya.

Tak Kantongi Izin dari KAI

Bowo mengatakan, perlintasan liar ini tak mengantongi izin resmi dari pihak KAI. Meski begitu, perlintasan ini tetap ada dan dijaga secara swadaya oleh warga sekitar. 

Ia juga mengklaim bahwa selama ini semua berjalan aman, tak pernah ada kecelakaan. Hal itu dikarenakan perlintasan ini dijaga minimal dua orang setiap hari untuk membantu pengendara melintas.

“Kalau ada gerobak nyangkut di rel langsung kita bantu. Yang sering malah ojol-ojol bandel nggak sabaran mau nyebrang,” ujarnya.

Meski tak pernah terjadi kecelakaan fatal di lokasi, namun hal itu belum bisa menjamin bahwa perlintasan liar aman dari risiko. Hal ini dikarenakan perlintasan itu dibikin menggunakan alat seadanya seperti kayu atau bambu. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Tidak Ada Kompromi soal Nyawa di Perlintasan Kereta

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!