Ilustrasi anak muda yang ikut program MagangHub dari Kementerian Ketenagakerjaan RI. (AI Generated)
INDOZONE.ID - Di tengah hiruk-pikuk gedung perkantoran Jakarta dan Depok, ribuan mahasiswa Gen Z tengah berjuang menjemput masa depan. Bukan sekadar mencari nilai SKS, mereka terjun ke dunia profesional melalui program Magang Hub Kemnaker. Dari urusan riset komunitas kesehatan hingga liputan gadget terbaru, mari mengintip keseharian para pemagang yang sedang bertransformasi menjadi profesional muda.
Pagi itu di PT Diagnos Laboratorium, Muhammad Gema Azzani (22) tampak sibuk dengan tumpukan rencana acara. Mahasiswa Universitas Gunadarma yang menjabat sebagai Event Intern ini mengaku awalnya sempat ragu dengan program besutan pemerintah.
"Awalnya aku pikir bakalan kaku karena ini program pemerintah," ujarnya kepada INDOZONE.
Namun, kekhawatiran itu sirna saat ia merasakan atmosfer kerja yang suportif. Baginya, daya tarik utama Magang Hub adalah kredibilitas informasi dan kepastian uang saku yang sesuai standar.
Hal senada dirasakan Salsabilla Mutiara (23) di meja redaksi salah satu media online di Jakarta. Bagi lulusan Politeknik Tempo ini, kepastian bayaran setara UMP Jakarta menjadi faktor realistis di tengah sulitnya mencari pekerjaan tetap setelah lulus. Meski mengaku sempat jenuh terus-menerus menjadi "anak magang", program ini menjadi pilihan paling logis untuk bertahan di tengah badai layoff industri.
Dunia kerja tentunya tidak selamanya mulus dan sesuai dengan yang dibayangkan. Gema sempat merasa overwhelmed saat diberi tugas mencari komunitas kesehatan di wilayah Depok untuk diajak kolaborasi.
"Aku sempat satu bulan kontak-kontak komunitas, dan dari sebanyak itu cuma lima yang balas. Namun, berkat bimbingan mentor yang membantu membagi kategori komunitas, tantangan tersebut berhasil dilalui,” ungkapnya.
Sementara itu, Salsabilla harus banting setir dari zona nyamannya di topik lifestyle ke dunia gadget dan sains yang teknis. Ia harus belajar cepat memahami perbedaan baterai 7.000 mAh hingga standar kamera HP flagship.
"Awalnya aku bener-bener gak tau banyak. Pas awal liputan rasanya deg-degan karena harus paham betul teknisnya agar skrip tidak blank," tuturnya.
Mentor menjadi kunci adaptasi mereka. Gema merasa beruntung karena timnya tidak hanya memberi tugas, tetapi memastikan ia benar-benar mengerti proses event planning dari budgeting hingga teknis layout venue. Melalui proses ini, Gema meng-upgrade kemampuan komunikasi profesional dan manajemen waktunya.
Di sisi lain, Salsabilla kini sudah mahir mengedit video dengan cepat dan menulis skrip dengan gaya bahasa yang tepat berkat bimbingan mentor yang komunikatif di Detik.com. Ia yang awalnya mengandalkan inisiatif sendiri menonton tech reviewer, kini merasa jauh lebih percaya diri dengan kemampuannya.
Meskipun memberikan pengalaman berharga, program ini memicu diskusi mendalam tentang masa depan. Gema melihat Magang Hub sebagai bridge atau jembatan bagi Gen Z yang sering merasa kurang percaya diri karena minim pengalaman.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Dan Wawancara