KANAL

REGIONAL

Rabu, 23 JULI 2025 • 17:35 WIB

Menyelamatkan Anak Lewat Layar: Urgensi Media Sehat untuk Generasi Emas

Author
Dr. Cosmas Gatot Haryono, M.Si.
Dr. Cosmas Gatot Haryono, M.Si. Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Ciputra

Menyelamatkan Anak Lewat Layar: Urgensi Media Sehat untuk Generasi EmasIlustrasi anak-anak menonton TV. (Freepik)

INDOZONE.ID - Hari ini, 23 Juli 2025, kita kembali memperingati Hari Anak Nasional—sebuah momentum reflektif untuk menengok sejauh mana bangsa ini melindungi, mendampingi, dan membekali anak-anak sebagai generasi penerus. 

Di tengah gegap gempita perayaan seremonial, ada pertanyaan mendasar yang patut diajukan: Sudahkah kita memberi anak-anak ruang tumbuh yang layak, khususnya melalui media yang mereka konsumsi setiap hari? Sebab dalam era digital, layar bukan sekadar alat hiburan; ia telah menjadi ruang belajar, ruang bermain, sekaligus ruang pembentukan karakter.

Anak-anak adalah investasi jangka panjang bangsa. Mereka adalah calon pemimpin, inovator, dan warga negara aktif yang akan mewujudkan visi besar Indonesia Emas 2045. Namun, investasi ini bisa gagal jika lingkungan tumbuh mereka tercemar oleh paparan konten yang tidak sehat. 

Sayangnya, ruang digital anak-anak saat ini justru dipenuhi dengan tayangan sensasional, kekerasan yang dinormalisasi, bahasa yang kasar, hingga konten viral yang miskin nilai edukatif. Layar yang seharusnya menjadi jendela pembelajaran, kini perlahan berubah menjadi lorong gelap yang menyesatkan arah masa depan.

Baca juga: Mau Survive di Industri Hiburan Jakarta? Hindari Jadi Artis yang Gak Punya Etos dan Etika

Kita patut bertanya lebih jauh: apakah bangsa ini sungguh serius mempersiapkan generasi emas jika layar mereka justru dikuasai oleh konten destruktif? Dalam situasi di mana waktu anak di depan layar terus meningkat, media seharusnya menjadi mitra pendidikan (Tkacova et a., 2022), bukan musuh dalam selimut. 

Namun yang terjadi, tontonan yang layak dan membangun justru semakin langka. Tayangan anak-anak di televisi menurun drastis, sementara platform digital membanjiri anak dengan konten yang belum tentu sesuai usia dan nilai.

Peran media dalam membentuk karakter anak tidak bisa dianggap sepele. Media bukan hanya cermin realitas sosial, tetapi juga alat yang membentuk wacana, nilai, dan orientasi moral (Robertson, & William, 2024). Apa yang dilihat, didengar, dan diserap anak-anak hari ini akan menjadi fondasi cara pandang mereka terhadap dunia esok hari.

 Jika kita ingin mencetak generasi emas, maka pembangunan karakter mereka tidak bisa dilepaskan dari kualitas media yang mereka konsumsi setiap hari. Menyelamatkan anak lewat layar bukan sekadar pilihan, tetapi sebuah keharusan moral dan strategis.

Baca juga: Bukan Cuma Bikin Capek, Macet Jakarta Picu Stres hingga Depresi, Ini Penjelasan Psikolog

Krisis Konten Media Anak

Krisis konten media anak kini menjadi ancaman serius bagi tumbuh kembang generasi muda Indonesia. Di berbagai platform, mulai dari televisi hingga media sosial seperti YouTube dan TikTok, anak-anak terpapar pada konten yang tidak ramah usia: kekerasan verbal dan fisik, bahasa kasar, body shaming, glorifikasi kekayaan instan, hingga konten sensasional yang miskin nilai edukatif. 

Konten seperti ini bukan hanya mengganggu proses belajar anak, tetapi juga membentuk persepsi yang salah tentang realitas sosial. Bahkan, banyak dari mereka meniru gaya bicara atau perilaku yang mereka lihat tanpa bisa membedakan mana yang pantas atau tidak sesuai norma (UNICEF, 2021).

Kondisi ini diperparah oleh minimnya tayangan anak yang berkualitas di media arus utama. Televisi nasional kini hampir sepenuhnya meninggalkan program anak-anak. Menurut laporan tahunan KPI, jumlah tayangan khusus anak di televisi nasional terus menurun drastis sejak 2015, bahkan pada 2022 hanya 2,4% dari total jam siar yang dialokasikan untuk program anak (KPI, 2022). 

Kekosongan ini akhirnya diisi oleh platform digital, yang meski memberi ruang lebih luas bagi konten kreator, tetap tak menjamin kualitas dan keamanan konten yang dikonsumsi anak-anak secara luas. Sayangnya, regulasi dan pengawasan terhadap konten digital untuk anak masih sangat lemah.

Undang-Undang ITE dan berbagai kebijakan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika belum mampu menandingi derasnya arus konten digital yang menyasar anak, baik secara langsung maupun terselubung. Algoritma platform seperti YouTube dan TikTok lebih mengutamakan jumlah klik dan durasi tonton daripada kualitas moral atau edukatif konten (Kominfo, 2023). 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Amatan

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Menyelamatkan Anak Lewat Layar: Urgensi Media Sehat untuk Generasi Emas

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!