KANAL

REGIONAL

Selasa, 07 OKTOBER 2025 • 16:00 WIB

Berjalan Tanpa Henti di Dunia yang Menuntut Kepatuhan

Berjalan Tanpa Henti di Dunia yang Menuntut KepatuhanIlustrasi seorang pekerja merasa frustrasi. (Freepik)

INDOZONE.ID - Apa yang tersisa dari manusia ketika tubuhnya hanya dijadikan alat untuk bertahan hidup?

Pertanyaan ini menjadi pembuka yang kuat saat menyaksikan film The Long Walk, sebuah kisah yang menghadirkan drama suram tentang bagaimana kekuasaan bekerja dengan halus namun efektif dalam menundukkan manusia

Dunia dalam film ini bukan sekadar panggung perlombaan mematikan, tetapi juga cerminan dari realitas distopia sebuah tatanan di mana kontrol sosial dan ekonomi tak lagi dilakukan melalui kekerasan terbuka, melainkan melalui kepatuhan yang dibungkus rapi dalam logika kompetisi dan nasionalisme. 

Sebagai antitesis dari utopia, dunia distopia menawarkan gambaran masa depan yang kacau, menindas dan penuh penderitaan.

Ciri khasnya, pemerintah atau sistem yang terlalu mengatur hidup warganya bahkan sampai pada kontrol besar-besaran pada teknologi atau kekuasaan yang terlalu terpusat sehingga membuat manusia kehilangan kebebasan.

Baca juga: Respon Komisi IV DPRD Kab.Serang Soal Kemacetan Bojonegara

Film adaptasi dari novel Stephen King ini menawarkan dunia yang menuntut kepatuhan. Distopia selalu berhasil menarik perhatian karena ia tidak pernah benar-benar jauh dari realitas. Ibaratnya, ia semacam kacamata hitam yang menutup “cahaya fakta” untuk mengaburkan wajah masyarakat. 

Film semacam ini dapat dibaca sebagai pesan kritik sosial tentang bagaimana kekuasaan dapat membentuk makna, menciptakan narasi, dan mengontrol pikiran kelompok tertentu tanpa perlu repot mengotori tangan dengan darah.

Film dimulai dengan percakapan antara seorang ibu dan anaknya. Mereka berselisih paham karena sang anak memutuskan untuk mengikuti kontes jalan kaki yang sepertinya kontes tahunan sebagai pembuktian cinta pada tanah air. 

Kalau dipikir dengan logika sederhana, jalan kaki seharusnya bukan perkara besar. Ada orang yang bahkan ikut lomba lari puluhan kilometer. 

Baca juga: Dua Dekade Mengabdi, Pria Tunarungu di Gorontalo Resmi Jadi PPPK

Jadi, apa bedanya dengan ini? Masalahnya adalah, lomba jalan kaki ini tidak punya garis akhir. Pesertanya harus terus berjalan tanpa henti, tanpa boleh melakukan apa pun selain berjalan. Ya, semuanya termasuk makan, tidur, bahkan buang air harus dilakukan sambil tetap melangkah.

The Long Walk sekilas mirip dengan kondisi di buku 1984 karya George Orwell. Keduanya menghadirkan dunia distopia yang menyoroti bagaimana kekuasaan bekerja secara halus namun efektif dalam menundukkan manusia. 

Jika 1984 menampilkan bentuk kontrol melalui pengawasan dan manipulasi bahasa, di sisi lain The Long Walk memperlihatkan bentuk kontrol tubuh manusia yang dibungkus dengan rasa nasionalisme. Benang merahnya, kedua cerita ini melahirkan masyarakat yang “nrimo” pada sistem yang menindas mereka. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Amatan Penulis

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Berjalan Tanpa Henti di Dunia yang Menuntut Kepatuhan

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!