KANAL

REGIONAL

Rabu, 11 FEBRUARI 2026 • 12:55 WIB

GreenTrans Edu Patenkan Potensi Energi Terbarukan dan Dampaknya bagi Masyarakat

GreenTrans Edu Patenkan Potensi Energi Terbarukan dan Dampaknya bagi MasyarakatPeneliti GreenTrans Edumemetakan potensi energi terbarukan dan masyarakat penggunanya. (Dok. President University)

INDOZONE.ID - Perlahan, rombongan itu menyusuri semak dan hutan kecil. Sungai Terojogan, bagian dari Sungai Ciwayang, Desa Selasari, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran adalah titik yang mereka tuju. Sebagian anggota rombongan menceburkan diri. Current meter pun diturunkan. Inilah alat yang akan mencatat laju air Sungai Terojogan hingga 12 jam setelahnya. Pengukuran ini dilakukan untuk melihat kekuatan arus air sungai, mengukur potensi untuk dijadikan sumber listrik. 

Dari sungai, sebagian rombongan peneliti EU-ASEAN Sustainable Connectivity Package – Higher Education Programme (SCOPE-HE) dari President University, Universitas Pancasila (Indonesia), Mindanao State University (MSU) Filipina, Universite Technologie Compiegne (UTC), Prancis serta FH Erfurt dan TU Ilmenau (Jerman) bergerak ke bagian lain desa itu. Di sebuah lahan yang dipayungi pohon-pohon buah berusia tua, mereka berhenti.

Dani, Erwin, Agus, Rijal dan anggota rombongan lain menyebar ke beberapa titik. Sebagian menggunakan sendok, mengikis tepian galian tanah dengan hati-hati. Satu sentimeter demi satu sentimeter. Masing-masing tanah itu kemudian dimasukkan ke dalam sejumlah kantong kecil dengan kode khusus.

Baca juga: Dosen Ghosting, Mahasiswa Terombang-Ambing: Mengapa Intervensi Kampus Gagal Menjamin Profesionalisme?

Di titik yang lain, beberapa orang mengambil sampel tanah sedalam hingga 40 cm dari permukaan menggunakan hand soil auger. Tak jauh dari sana, beberapa peneliti lain menggunakan soil ring sampler untuk mengambil tanah permukaan. 

Dari tanah di bawah rindang pohon-pohon buah berusia tua di Desa Selasari, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, mereka pindah ke sebuah lahan pertanian di Desa Cintakarya di kecamatan dan kabupaten yang sama. Dalam sengatan matahari siang, mereka melakukan aktivitas serupa. 

Di lokasi pertama, para peneliti mengambil sampel tanah organik atau tanah yang bertahun-tahun dibiarkan begitu saja secara alami. Tanah jenis ini biasanya terdapat di hutan-hutan yang jarang dijamah. Di lokasi kedua, mereka mengambil sampel tanah di lahan pertanian yang sudah mengalami perlakuan tertentu seperti pembajakan, penggemburan, dan pemberian pupuk.

Sampel-sampel tanah ini akan diteliti dan dibandingkan. Misalnya, apa saja perubahan karakteristik yang muncul ketika tanah sudah mengalami sejumlah perlakuan seperti aktivitas pertanian. Minggu ini, sampel-sampel tersebut akan dibawa ke laboratorium. 

Dari analisis di laboratorium, nantinya akan diperoleh data genetik tanah dan perkembangan yang terjadi pada dua tipe tanah itu. Hasil penelitian ini akan memandu kita tentang kebijakan pengolahan tanah ke depannya. 

Baca juga: Di Tepi Komodo, Negara Diuji: Skandal Pertambangan Ilegal dan Agenda Pembersihan Sumber Daya

Tim peneliti sendiri terdiri dari tiga kelompok kerja, yakni tanah, energi terbarukan, dan komunikasi. Bukan hanya penelitian hard science seperti penciptaan sarana energy terbarukan dan pemetaan potensi tanah, para peneliti juga memetakan sumber informasi yang diperoleh masyarakat desa dan bagaimana dampaknya terhadap pengambilan keputusan mereka, mulai dari cara bertani, pola pemakaian energi, dan lainnya.  

Penelitian serupa akan dilakukan di Filipina dan Jerman dengan seting masyarakat yang berbeda. Karenanya, hasil penelitian bersama ini diharapkan cukup dalam dan luas dan akan menjadi bagian dari kurikulum pendidikan terkait perubahan iklim. Saat ini para peneliti sedang memaparkan hasil temuan mereka pada penelitian sebelumnya di sebuah konferensi ilmu komunikasi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, 9-10 Februari 2026. 

“Kurikulum dan bahan ajar yang kami buat nantinya bisa diadopsi oleh siapa pun, termasuk oleh perguruan tinggi dan lembaga kemasyarakatan di luar anggota konsorsium,” kata Agus Fernando, anggota Pokja Tanah GreenTrans Edu.

“Mahasiswa terbaik peserta GreenTrans Edu dari perguruan tinggi anggota konsorsium akan dibiayai untuk mengikuti Winter School di Eropa,” lanjut Agus. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Penelitian

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

GreenTrans Edu Patenkan Potensi Energi Terbarukan dan Dampaknya bagi Masyarakat

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!