Jumat, 14 NOVEMBER 2025 • 18:16 WIB

Mengapa Anak SMA Berani Bertindak Brutal Karena Bullying? Apa Ya Kata Para Ahli?

Author

Ilustrasi bullying. (Freepik)

INDOZONE.ID - Kasus mengejutkan terjadi di salah satu SMA negeri di Jakarta. Insiden yang berujung pada ledakan di lingkungan sekolah ini bukan hanya mengguncang publik, tapi juga membuka mata banyak pihak tentang rapuhnya kesehatan mental remaja Indonesia. 

Di balik berita soal bom di sekolah ini, para ahli mengingatkan bahwa masalahnya jauh lebih dalam, menyangkut kondisi psikologis, tekanan sosial, hingga efek dari lingkungan digital yang semakin brutal.

Baca juga: Kementerian Pertanian Andi Amran Sulaiman Ungkap Pentingnya Hilirisasi di Acara 'Indonesia Punya Kamu'

Kesehatan Mental Remaja, Titik Paling Rawan

Ilustrasi bullying. (Freepik)

Menurut Pendiri dan Ketua HCC Dr. Ray Wagiu Basrowi, seorang psikiater anak dan remaja, masa SMA adalah fase paling krusial dalam perkembangan otak manusia. Di usia ini, bagian otak yang mengatur empati, simpati, dan kendali emosi yaitu prefrontal cortex sedang berkembang pesat.

“Remaja di usia ini sedang dalam tahap mencari otonomi, ingin merasa punya kendali atas hidupnya. Tapi di sisi lain, lingkungan sekolah dan keluarga justru penuh aturan dan kontrol. Ini benturan dua kutub yang sering kali jadi sumber konflik batin,” jelas dr. Ray.

Ia menambahkan, sekolah memegang peran penting karena sebagian besar waktu produktif remaja dihabiskan di sana. Jika lingkungan sekolah tidak suportif, misalnya guru abai, atau teman-teman justru melakukan perundungan, maka dampaknya bisa sangat besar pada perkembangan psikologis anak.

Bullying Pemicu Ledakan Emosi yang Sering Tak Terlihat

Ilustrasi bullying. (Freepik)

Fenomena perundungan atau bullying di sekolah, baik di negeri maupun swasta, masih menjadi masalah besar. Menurut dr. Ray, perundungan menyebabkan anak mengalami tekanan psikologis yang memengaruhi fungsi otak bagian empati.

“Saat remaja sering dirundung, otaknya akan merekam bahwa respon terhadap lingkungan harus dengan cara yang keras juga. Ini bukan karena mereka jahat, tapi karena otak mereka belajar dari pengalaman negatif,” paparnya.

Jika kondisi ini terjadi terus-menerus, anak bisa mulai menutup diri dari interaksi sosial nyata dan mencari pelarian lewat dunia digital, media sosial atau game online. Sayangnya, justru di sana banyak ditemukan konten kekerasan, ekstremisme, dan perilaku brutal yang bisa memperkuat pola pikir agresif.

Baca juga: My Body dan Kapitalisme Tubuh Perempuan: Antara Empowerment dan Eksploitasi

Game Online dan Konten Brutal Ruang Pelarian yang Salah Arah

Dr. Ray Wagiu Basrowi, seorang psikiater anak dan remaja, masa SMA adalah fase paling krusial dalam perkembang otak manusia. (INDOZONE/Dewi Kania)

Dalam kasus yang menimpa siswa SMA 72 Jakarta, disebut pemicu aksi brutal ini didapatkan karena game online. dr Ray juga mengungkap berbagai studi menunjukkan hubungan antara paparan game penuh kekerasan dengan meningkatnya agresivitas pada remaja laki-laki. 

Meski tidak semua gamer menjadi agresif, dr. Ray mengingatkan bahwa remaja dengan kondisi mental rapuh lebih mudah terseret.

“Kalau interaksi sosialnya terbatas, dan yang dia konsumsi setiap hari adalah game atau konten brutal, maka respons emosionalnya bisa tumpul. Dia belajar bahwa kekerasan adalah cara yang valid untuk menyelesaikan masalah,” tegasnya.

Pemerintah sendiri dikabarkan tengah mempertimbangkan pembatasan game online yang dinilai berisiko tinggi terhadap psikologis anak, langkah yang menurut para ahli perlu dilakukan segera sambil tetap memberikan alternatif hiburan yang lebih edukatif.

Kenapa Laki-Laki Lebih Rentan Bertindak Brutal

Secara biologis, remaja laki-laki memang memiliki kadar hormon testosteron yang lebih tinggi. Ini berpengaruh langsung pada dorongan agresif. Namun, dr. Ray menekankan bahwa hormon bukan satu-satunya faktor.

“Laki-laki memang punya potensi lebih tinggi untuk agresif karena testosteron. Tapi jika lingkungan mereka positif, kalau mereka punya ruang untuk menyalurkan energi dan emosinya secara kreatif, misalnya lewat olahraga, seni, atau kegiatan sosial atau agresifitas itu bisa berubah jadi produktivitas,” katanya.

Sebaliknya, tanpa bimbingan dan ruang ekspresi yang sehat, agresifitas ini bisa berkembang menjadi perilaku brutal, bahkan ekstrem.

Pencegahan Dimulai dari Rumah

Ilustrasi bullying. (Freepik)

Meski sekolah dan dunia digital punya peran besar, keluarga tetap menjadi benteng utama. Anak-anak belajar dengan cara meniru terutama dari orang tua. Ketika di rumah tidak ada komunikasi yang terbuka atau kehangatan emosional, maka anak kehilangan tempat untuk menyalurkan stres dan konflik batinnya.

“Salah satu hal paling sederhana tapi terbukti efektif adalah makan malam bersama tanpa gawai. Interaksi tatap muka di meja makan itu membantu menetralisir stres dan agresivitas yang anak bawa dari luar,” ujar dr. Ray.

Kebiasaan sederhana seperti ini, lanjutnya, bisa menjadi gerakan nasional baru, “Kembali ke Meja Makan Keluarga”, sebagai upaya membangun kembali komunikasi dan empati dalam rumah tangga Indonesia.

Saatnya Sekolah dan Keluarga Bergerak Bersama

Kasus SMA 72 Jakarta ini bukan semata tragedi, tapi peringatan keras bahwa kesehatan mental remaja harus menjadi prioritas nasional. Kurikulum pendidikan yang lebih kreatif, ruang bermain yang edukatif, pembatasan konten digital penuh kekerasan, dan komunikasi keluarga yang sehat, ya semua harus berjalan beriringan.

“Anak remaja bukan sekadar generasi penerus, tapi generasi yang sedang mencari jati diri. Kalau kita gagal memahami dinamika itu, maka kekerasan di sekolah bisa jadi bom waktu yang terus berulang,” tutup dr. Ray.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wawancara Langsung

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU