INDOZONE.ID - Apa yang tersisa dari manusia ketika tubuhnya hanya dijadikan alat untuk bertahan hidup?
Pertanyaan ini menjadi pembuka yang kuat saat menyaksikan film The Long Walk, sebuah kisah yang menghadirkan drama suram tentang bagaimana kekuasaan bekerja dengan halus namun efektif dalam menundukkan manusia.
Dunia dalam film ini bukan sekadar panggung perlombaan mematikan, tetapi juga cerminan dari realitas distopia sebuah tatanan di mana kontrol sosial dan ekonomi tak lagi dilakukan melalui kekerasan terbuka, melainkan melalui kepatuhan yang dibungkus rapi dalam logika kompetisi dan nasionalisme.
Sebagai antitesis dari utopia, dunia distopia menawarkan gambaran masa depan yang kacau, menindas dan penuh penderitaan.
Ciri khasnya, pemerintah atau sistem yang terlalu mengatur hidup warganya bahkan sampai pada kontrol besar-besaran pada teknologi atau kekuasaan yang terlalu terpusat sehingga membuat manusia kehilangan kebebasan.
Baca juga: Respon Komisi IV DPRD Kab.Serang Soal Kemacetan Bojonegara
Film adaptasi dari novel Stephen King ini menawarkan dunia yang menuntut kepatuhan. Distopia selalu berhasil menarik perhatian karena ia tidak pernah benar-benar jauh dari realitas. Ibaratnya, ia semacam kacamata hitam yang menutup “cahaya fakta” untuk mengaburkan wajah masyarakat.
Film semacam ini dapat dibaca sebagai pesan kritik sosial tentang bagaimana kekuasaan dapat membentuk makna, menciptakan narasi, dan mengontrol pikiran kelompok tertentu tanpa perlu repot mengotori tangan dengan darah.
Film dimulai dengan percakapan antara seorang ibu dan anaknya. Mereka berselisih paham karena sang anak memutuskan untuk mengikuti kontes jalan kaki yang sepertinya kontes tahunan sebagai pembuktian cinta pada tanah air.
Kalau dipikir dengan logika sederhana, jalan kaki seharusnya bukan perkara besar. Ada orang yang bahkan ikut lomba lari puluhan kilometer.
Baca juga: Dua Dekade Mengabdi, Pria Tunarungu di Gorontalo Resmi Jadi PPPK
Jadi, apa bedanya dengan ini? Masalahnya adalah, lomba jalan kaki ini tidak punya garis akhir. Pesertanya harus terus berjalan tanpa henti, tanpa boleh melakukan apa pun selain berjalan. Ya, semuanya termasuk makan, tidur, bahkan buang air harus dilakukan sambil tetap melangkah.
The Long Walk sekilas mirip dengan kondisi di buku 1984 karya George Orwell. Keduanya menghadirkan dunia distopia yang menyoroti bagaimana kekuasaan bekerja secara halus namun efektif dalam menundukkan manusia.
Jika 1984 menampilkan bentuk kontrol melalui pengawasan dan manipulasi bahasa, di sisi lain The Long Walk memperlihatkan bentuk kontrol tubuh manusia yang dibungkus dengan rasa nasionalisme. Benang merahnya, kedua cerita ini melahirkan masyarakat yang “nrimo” pada sistem yang menindas mereka.
Menariknya, di The Long Walk, kontrol itu tidak lagi berbentuk kekerasan fisik secara sengaja kecuali para peserta melawan aturan, tapi seluruh peserta diperintah dengan kompetisi. Iming-iming uang adalah senjata utama dalam control game ini dengan persuasi sebagai senjata pendukung sehingga penderitaan nampaknya perkara sederhana yang membuat segala penderitaan tampak masuk akal.
Dalam konteks komunikasi, hal ini sejalan dengan teori Spiral of Silence dari Elisabeth Noelle-Neumann, yang menjelaskan bahwa individu cenderung diam ketika opini atau pilihan mereka bertentangan dengan arus dominan. Tidak ada yang berani menolak atau mempertanyakan sistem, karena semua sudah diyakinkan bahwa “berjalan” adalah satu-satunya jalan untuk hidup layak.
Yah, sebenarnya ada upaya untuk menerobos sistem yang ditunjukkan oleh beberapa tokoh melalui pemberontakan, misalnya merebut senjata sebagai simbol otoritas. Tindakan ini menandakan keinginan mereka untuk menentang kondisi yang menindas.
Namun, di sisi lain, mayoritas memilih diam, seolah menegaskan bahwa selalu ada orang yang bertahan hidup dengan tidak menentang sistem dan merasa tidak perlu berusaha lebih untuk meraih kebebasan. Diam menjadi cara bertahan, tapi sekaligus bentuk penerimaan terhadap struktur yang menindas.
Ketika setiap orang memilih bungkam, sistem kekuasaan justru semakin kokoh. Dan disitulah letak ironi The Long Walk: manusia berkompetisi untuk bertahan hidup dalam permainan yang sejak awal sudah didesain untuk menghancurkan mereka.
Dalam film ini, setiap peserta tidak lagi disebut dengan nama, melainkan nomor. Ini bukan sekadar detail estetis, tapi simbol kuat tentang bagaimana identitas individu dihapus demi kepentingan sistem. Mereka bukan lagi manusia melainkan angka yang bisa dihitung dan digantikan.
Kondisi ini dapat dijelaskan dengan konsep dehumanisasi dalam teori media bagaimana manusia bisa direduksi menjadi objek tontonan. Semakin mereka menderita, semakin besar atensi publik. Ironisnya, kita sebagai penonton juga menjadi bagian dari sistem itu.
Selain berjalan, salah satu pusat utama dalam film ini adalah dialog antar tokoh yang harus diakui, pada pertengahan film rasanya agak stretchy karena cukup membosankan, apalagi ketika pembicaraan mereka mulai berputar di tema yang sama: ketakutan, kelelahan, dan alasan masing-masing mengikuti lomba ini.
Tapi justru di titik itulah kekuatan film ini terasa. Dialog yang repetitif itu perlahan memperlihatkan bagaimana manusia berusaha tetap waras.
Puncak simbolisme film terasa ketika Mayor, pemegang otoritas tertinggi dalam permainan ini, ditembak oleh Rey Garraty, sang pemenang. Adegan ini bisa dibaca sebagai pembalikan kekuasaan sistem yang menindas runtuh oleh beban kekuasaannya sendiri.
Tindakan Garraty bukan sekadar pemberontakan fisik, melainkan juga penolakan terhadap sistem yang memperalat manusia atas nama kehormatan dan nasionalisme.
Pemandangan terakhir, dimana tokoh utama berjalan sendirian di jalan gelap, menyisakan renungan: kebebasan tidak selalu berarti kemenangan yang riang. Kadang, kebebasan adalah perjalanan sunyi yang panjang, seperti berjalan di malam tanpa ujung.
Selain itu, film ini juga menyoroti hal yang lebih tajam: kenapa manusia harus rela menderita, bahkan sampai nyawa dipertaruhkan, demi uang? Peserta ikut lomba karena mereka merasa tidak punya pilihan lain.
Negara atau sistem absen; pemegang kekuasaan duduk santai menonton, sementara masyarakat saling menyingkirkan satu sama lain demi bertahan.
Bahkan ada anak di bawah umur yang ikut, orang-orang yang patah kaki dipaksa terus berjalan, dan semua dikontrol oleh jam tangan yang mengatur ritme yang lambat sedikit, langsung mendapat ancaman.
Ini adalah bentuk kritik tajam terhadap ketidakadilan struktural dan kapitalistik: manusia dipaksa bertaruh nyawa demi kesempatan hidup yang seharusnya dijamin secara dasar.
Jika dibandingkan dengan Squid Game, konsepnya mirip tapi lebih “light” dalam penyajian isu. Squid Game brutal dan spektakuler, sementara The Long Walk lebih sunyi, personal, dan panjang.
Tidak ada saling membunuh eksplisit, tapi penderitaan psikologis dan fisik terasa lebih lama dan menghantui. Saat menonton di bioskop, kami pun ikut merasakan kelelahan setiap kali jarak yang ditempuh bertambah, 500 kilometer tanpa henti? Gila!
Namun, di luar layar, tidakkah manusia modern juga sedang melakukan “perjalanan panjang” versinya sendiri? Bedanya, tidak ada senapan yang mengancam di belakang, melainkan tuntutan hidup yang datang dari segala arah.
Setiap orang berlomba-lomba untuk tetap relevan, berprestasi, atau sekadar bertahan dalam sistem ekonomi yang membuat siapa pun merasa bersalah jika berhenti sejenak.
The Long Walk pada akhirnya menjadi alegori tentang zaman ini ketika manusia berjalan tanpa tahu kapan boleh berhenti, karena rasa takut tertinggal lebih besar daripada keinginan untuk beristirahat.
Dalam konteks yang lebih luas, film ini mengingatkan bahwa bentuk kekuasaan paling efektif bukanlah yang memaksa manusia tunduk, tetapi yang membuat manusia percaya bahwa tunduk adalah pilihan mereka sendiri.
Itulah bentuk kontrol paling halus dari sistem kapitalisme modern: penderitaan dijadikan rutinitas, dan kelelahan dikemas sebagai kebanggaan.
The Long Walk akhirnya tidak sekadar kisah tentang bertahan hidup, tetapi juga tentang bertahan menjadi manusia di tengah dunia yang terus berusaha menghapus kemanusiaan itu sendiri.
Di luar layar, kita pun sedang berjalan di lintasan yang sama—tanpa tepuk tangan, tanpa garis akhir, hanya langkah-langkah yang terus dipaksa maju oleh sistem yang tak memberi pilihan untuk berhenti.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan Penulis