Kamis, 19 MARET 2026 • 13:02 WIB

Menikmati Privasi dan Fleksibilitas Mudik dengan Kendaraan Pribadi

Author

Ilustrasi mudik menggunakan kendaraan pribadi (Freepik)
INDOZONE.ID - Ada yang berbeda dengan musim mudik tahun ini. Setidaknya itu yang dirasakan Eva Sri Rahayu yang tengah mempersiapkan sepeda motornya untuk mudik ke kampung halamannya di kota seberang. 

Semenjak ada kebijakan bekerja dari mana saja atau WFA, sosok penulis asal Bandung itu tak perlu susah payah menunggu pasangannya untuk menunggu cuti bersama dan mudik serentak bersama warga lainnya. Eva dan pasangan bisa mudik lebih awal dan mempersiapkan kendaraannya untuk mudik.  

Tidak ada koper besar atau tiket yang harus dicek berulang kali. Ia hanya memastikan kondisi motornya siap, memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas, serta menyiapkan obat-obatan dan multivitamin sebagai bekal di jalan. Bagi Eva, persiapan mudik tidak pernah rumit, tapi penuh kesadaran bahwa perjalanan panjang akan menanti di depan.

Eva terbiasa mengamati hal-hal kecil dalam perjalanan mudik, mengingat sebagai seorang penulis membutuhkan referensi untuk bahan tulisan. Mungkin itu pula yang membuatnya memilih motor sebagai kendaraan mudik. Baginya, perjalanan bukan hanya tentang sampai, tetapi tentang bagaimana setiap momen bisa dirasakan dengan utuh.

Baca juga: Ada 10 Posko dan 297 Bengkel Siaga dari Toyota untuk Pengguna Kendaraan Pribadi saat Mudik

“Momen paling serunya itu bisa memperhatikan dan menikmati suasana mudik dengan bebas. Karena pakai motor, tubuh nggak merasa terkungkung, termasuk saat macet,” tuturnya kepada Indozone.

Ilutrsi menggunakan mudik menggunakan motor (Freepik)

Di tengah padatnya arus mudik, Eva justru menemukan ruang yang tidak dimiliki pengguna kendaraan lain. Ia bisa merasakan angin, melihat langsung wajah-wajah pemudik, hingga menikmati detail perjalanan yang sering terlewat ketika berada di balik kaca mobil.

Namun perjalanan panjang tidak selalu mulus. Ia pernah mengalami kejadian yang masih membekas dalam ingatannya.

“Pernah jatuh dari motor di tikungan tajam. Untungnya nggak terpental jauh, jadi selamat. Cuma lecet-lecet saja,” kenangnya.

Pengalaman itu tidak membuatnya kapok, justru menjadi pengingat untuk lebih berhati-hati. Sejak saat itu, ia lebih peka terhadap kondisi jalan, terutama saat harus menghadapi tikungan atau cuaca yang tidak menentu. Kendati naik mudik naik motor capek dan beresiko, tapi praktis dan keamanan privasi menjaid pilihannya.

“Kalau bosan atau ngantuk, bisa istirahat dulu. Lapar juga tinggal makan dulu. Senang aja rasanya bisa berhenti sesuka hati,” ujarnya.

Baca juga: Arus Mudik Mulai Terasa di Tol Malang, Lebih dari 36 Ribu Kendaraan Tercatat Melintas

Mudik dengan kendaraan pribadi memang beresiko, tapi lebih nyaman

Ternyata bukan hanya Eva yang memilih kendaraan untuk mudik. Dua karyawan swasta asal Jakarta, Nadhira dan Sagita mengaku lebih memilih mudik menggunakan pribadi. Sealam masih di Pulau Jawa dan Sumatera, mereka lebih memilih naik kendaraan pribadi, seperti mobil keluarganya. 

Nadhira, yang rutin mudik dari Depok ke Bandung lalu ke Sumedang, mengaku perjalanannya selama ini jauh dari kata melelahkan. Ia bahkan lebih sering menghabiskan waktu di mobil dengan tidur.

“Aku lebih banyak tidur sebenarnya. Karena dari Depok ke Bandung itu kan kurang lebih tiga jam doang, jadi nggak pernah ngerasain macet atau capek di jalan,” ujarnya ceria, meski perjalanan mudiknya belum seperti kebanyakan orang yang sudah melintas berkilo-kilo jaraknya. 

Hal serupa juga dirasakan Sagita. Ia biasanya mudik ke Karawang untuk bertemu neneknya, dengan jarak tempuh yang relatif dekat. Perjalanan singkat itu membuatnya jarang mengalami kemacetan.

“Kalau sekarang-sekarang ini sih di mobil cuma tidur aja. Tahu-tahu bangun udah nyampe, jadi ya santai banget,” ungkapnya kepada Indozone.

Meski terdengar nyaman, Sagita tetap lebih memilih kendaraan pribadi dibandingkan transportasi umum. Baginya, fleksibilitas menjadi alasan utama.

Ilustrasi mudik lebih nyaman (Freepik)

Kalau pakai kendaraan pribadi tuh lebih enak, mau makan di mobil bisa, mau ngopi juga bisa, dengerin lagu juga nyaman. Beda kalau naik kendaraan umum yang rame,” jelasnya.

Kebijakan WFA membuat perjalanan mudik lebih nyaman?

Baik Nadhira dan Sagita mengapresiasi kebijakan WFA dari pemerintah yang memberikan waktu lebih lebar untuk mudik sehingga tak perlu menumpuk di jalanan. Kebijakan kerja fleksibel menjelang Lebaran cukup membantu mengurai kepadatan pemudik.

“Menurut aku WFA itu membantu banget, jadi orang bisa mudik duluan dan nggak numpuk di satu waktu,” kata Sagita.

Baca juga: 3 Langkah Cek Kelistrikan Rumah Sebelum Mudik Lebaran

“Yang penting nggak numpuk di satu dua hari, jadi macetnya juga bisa berkurang,” tambah Nadhira.

Sebelumnya, pemerintah resmi menetapkan kebijakan WFA pada periode libur Lebaran 2026 dan mengimbau perusahaan untuk tidak memotong jatah cuti tahunan pegawai. Mengutip ANTARA, skema WFA berlaku pada tanggal 16 dan 17 Maret 2026 pada arus mudik serta 25, 26, dan 27 Maret 2026 pada arus balik.

“Untuk mengoptimalkan mobilitas masyarakat dan memudahkan masyarakat merencanakan perjalanan selama libur Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri, diberikan fleksibilitas dalam penetapan hari kerja,” kata Menko Perekonomian Airlangga Hartanto dalam konferensi pers beberapa waktu lalu.

Kebijakan WFA itu tentunya dapat membantu para pemudik, baik yang menggunakan angkutan umum ataupun kendaraan pribadi tidak berjejalan di jalanan. Dengan mengurangi kepadatan transportasi, risiko kecelakaan dan kemacetan dapat ditekan, sementara sektor logistik tetap berjalan berkat sistem WFA yang fleksibel. 

Kesiapan aparat untuk mudik yang lebih nyaman 

Dari sisi fasilitas, keduanya menilai masih ada hal yang bisa ditingkatkan untuk menunjang kenyamanan pemudik, terutama di jalur tol. Sagita menyoroti pentingnya penambahan fasilitas dasar.

“Rest area sama SPBU itu menurut aku perlu diperbanyak, apalagi yang ke arah Jawa Tengah sama Jawa Timur, soalnya jaraknya masih jauh-jauh,” jelasnya.

Sementara Nadhira melihat ke depan, terutama dengan mulai banyaknya pengguna mobil listrik.

“Sekarang kan udah ada mobil listrik, jadi mungkin tempat charging di rest area juga bisa diperbanyak biar lebih gampang,” ujarnya.

Harapan Sagita dan Nadhira ternyata sejalan dengan apa yang sudah diagendakan pihak pemerintah melalui Kepolisian Republik Indonesia. Salah satu fokus utama tahun ini yang disoroti Wakapolri Dedi Prasetyo adalah kenyamanan pemudik, terutama pengguna kendaraan pribadi yang menempuh perjalanan jauh. Pemerintah dan kepolisian menyiapkan berbagai fasilitas pendukung, termasuk rest area berkapasitas besar.

Di KM 57A misalnya, tersedia rest area yang mampu menampung hingga 1.000 kendaraan. Selain itu, inovasi juga dilakukan melalui kehadiran pos pelayanan tematik.

Di situ disiapkan takjil, makanan, minuman, sehingga masyarakat bisa istirahat dengan baik dan melanjutkan perjalanan dengan lebih fresh,” ujar Dedi kepada wartawan.

Tak hanya itu, terdapat pula Posyan Masjid yang memungkinkan pemudik beristirahat sekaligus beribadah.

Untuk mengantisipasi kepadatan, Polda Jawa Barat menyiapkan tim pengurai serta patroli reaksi cepat yang akan bergerak jika terjadi penumpukan kendaraan, terutama di rest area.

Ilustrasi mudik asyik (Gemini AI)

“Tim pengurai ini sebagai quick response apabila manajemen rest area padat,” jelas Dedi.

Bahkan, patroli yang melibatkan Polwan dan TNI juga disiapkan untuk memberikan bantuan langsung kepada pemudik. Petugas juga aktif mengingatkan pemudik agar tidak berhenti di bahu jalan tol karena berisiko tinggi.

Baca juga: Mudik Naik Motor Bebek? Ini 5 Persiapan Penting yang Wajib Dilakukan sebelum Mulai Perjalanan!

“Patroli Senyum membagikan air minum, snack, dan membantu masyarakat di rest area,” tambahnya.

Rekayasa lalin hingga menurunnya angka kecelakaan

Untuk menjaga kelancaran perjalanan kendaraan pribadi, rekayasa lalu lintas seperti contraflow hingga one way telah disiapkan berdasarkan kepadatan kendaraan.

Dedi menjelaskan, keputusan tersebut didasarkan pada traffic counting secara real-time.

Kalau sudah 5.500 kendaraan per jam akan dilakukan contraflow satu jalur, dan jika mencapai 8.300 per jam akan dilakukan one way,” ungkapnya.

Selain itu, jalur alternatif seperti arteri dan jalur wisata juga disiapkan untuk mendistribusikan kepadatan.

Upaya pengamanan yang dilakukan menunjukkan hasil positif. Hingga periode WFA diberlakukan angka kecelakaan lalu lintas mengalami penurunan signifikan.

“Laka lantas mengalami penurunan 92 persen, bahkan untuk yang meninggal dunia saat ini zero,” kata Dedi.

Meski demikian, ia tetap mengingatkan pemudik untuk tidak memaksakan diri saat lelah.

Kalau lelah, harus istirahat. Ini penting untuk memitigasi fatalitas kecelakaan,” ujarnya.

Petugas juga aktif mengingatkan pemudik agar tidak berhenti di bahu jalan tol karena berisiko tinggi.

Pemudik juga dapat memanfaatkan layanan hotline 110 untuk mendapatkan bantuan cepat selama perjalanan.

Dengan berbagai strategi yang telah disiapkan, Dedi memastikan bahwa mudik tahun ini diharapkan berjalan lebih aman dan nyaman, khususnya bagi pengguna kendaraan pribadi.

Ilustrasi mudik menggunakan kendaraan pribadi (Freepik)

“Kami ingin memberikan jaminan kepada masyarakat untuk mudik dengan aman dan bahagia,” pungkasnya.

Imbauan dari pakar buat pemudik kendaraan pribadi

Meskipun para pemudik kendaraan pribadi seperti Eva, Nadhira dan Sagita sepakat bila naik kendaraan lebih nyaman dan praktis, bahkan sudah dipersiapkan fasilitasnya oleh kepolisian setempat, tapi resiko mudik menggunakan kendaraan pribadi tetap nyata adanya. Seperti cerita Eva yang sempat terjatuh saat naik motor, atau beberapa pemudik yang kelelahan, juga menjadi data akan resiko tersebut.

Baca juga: Bantu Kelancaran Arus Mudik, Kwarcab Boyolali Terjunkan Ratusan Anggota Pramuka

Oleh karena itu, beberapa pakar mengingatkan akan resiko yang ada agar para pemudik bisa lebih siap dan bisa menimasinya. 

Waktu Tempuh Panjang dan Risiko Kelelahan

Perjalanan mudik menggunakan kendaraan pribadi memang menawarkan kenyamanan dan fleksibilitas. Namun di balik itu, ada sejumlah risiko yang perlu diantisipasi, terutama terkait durasi perjalanan yang lebih panjang dari biasanya.

Pakar keselamatan berkendara dari Jakarta Defensive Driving Consulting, Jusri Pulubuhu, menyebut bahwa karakter mudik di Indonesia identik dengan waktu tempuh yang meningkat drastis, kondisi tubuh yang lelah, serta beban kendaraan yang sering berlebih.

Perjalanan yang normalnya hanya memakan waktu 6–7 jam bisa berubah menjadi lebih dari 12 jam saat musim mudik. Kondisi ini membuat kelelahan menjadi faktor utama yang tidak boleh dianggap remeh.

“Letih dan lelah menjadi teman perjalanan. Ini yang tidak boleh disepelekan oleh pengendara,” ujarnya seperti yang dikutip dari Antara.

Karena itu, pemudik disarankan menyiapkan kondisi fisik sejak awal dan mengatur waktu istirahat agar tetap fokus selama berkendara.

Jaga Kesehatan dan Atur Waktu Istirahat

Dari sisi kesehatan, Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang, Dini Anggraeni, menekankan pentingnya menjaga kondisi tubuh selama perjalanan.

Ia menyarankan pemudik untuk beristirahat setiap empat jam atau saat mulai merasa lelah dan mengantuk. Langkah ini penting untuk mencegah risiko kecelakaan akibat kelelahan.

“Perjalanan mudik biasanya memakan waktu panjang dan melelahkan, jadi kondisi kesehatan harus benar-benar dipersiapkan,” jelasnya, seperti dikutip dari Antara.

Selain itu, menjaga pola hidup sehat sebelum dan selama perjalanan juga sangat dianjurkan, termasuk memanfaatkan layanan pemeriksaan kesehatan sebelum berangkat.

Jangan Memaksakan Diri, Utamakan Keselamatan

Baik dari sisi keselamatan maupun kesehatan, pemudik diingatkan untuk tidak memaksakan diri saat kondisi tubuh sudah tidak fit. Jika mengalami keluhan, pemudik dapat memanfaatkan posko kesehatan yang tersedia di sepanjang jalur mudik.

Langkah sederhana seperti memakai masker saat kurang sehat, rajin mencuci tangan, serta menghindari asap rokok juga dapat membantu menjaga kondisi tubuh tetap prima.

Dengan memadukan kesiapan fisik dan kesadaran akan keselamatan, perjalanan mudik dengan kendaraan pribadi bisa tetap berjalan aman, nyaman, dan menyenangkan.

Meski mudik dengan kendaraan lebih praktis dan nyaman, namun ada baiknya para pemudik perlu menjaga diri agar semua baik-baik saja tanpa ada kurang suatu apapun.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wawancara, ANTARA, Reportase

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU