INDOZONE.ID - Di tengah riuhnya kantin sebuah SMA di Jakarta, Alisha duduk terpaku menatap layar ponselnya. Jempolnya berhenti melakukan scrolling tepat pada sebuah video TikTok yang masuk ke FYP-nya.
Video itu menampilkan visual estetik kartu tarot dan tabel astrologi dengan narasi suara yang berat: "Hati-hati, zodiak ini akan menghadapi ujian berat dan energi negatif sepanjang tahun 2026."
"Bagaimana kalau ini benar?" bisiknya dalam hati, sembari memperhatikan ribuan komentar dari orang-orang yang merasakan hal yang sama.
Kekhawatiran itu mulai berakar. Di antara riuhnya notifikasi, Alisha justru merasa terisolasi oleh kecemasan.
Ia membayangkan skenario terburuk seperti nilai-nilai ujian yang merosot padahal ia mengincar jalur prestasi, atau konflik tak terduga dengan sahabat karibnya.
Bagi Alisha, ramalan itu bukan lagi sekadar hiburan digital, melainkan sebuah awan mendung yang seolah membuntuti langkahnya melintasi koridor sekolah.
Di tengah ambisinya yang besar, bayang-bayang ketidakberuntungan yang viral itu menjadi beban tak kasat mata yang membuatnya ragu untuk sekadar melangkah dengan percaya diri.
Ramalan zodiak jadi salah satu konten favorit anak muda di media sosial. Banyak yang merasa “relate”, meski mengaku tidak sepenuhnya percaya.
Astrologer menilai zodiak populer sering disederhanakan dan keliru konteks. Sementara psikolog menyebut faktor identitas, tekanan hidup dan algoritma medsos.
Fenomena ramalan zodiak bukan lagi sekadar tren. Namun, pelan-pelan, bahkan sudah menjadi bagian dari generasi muda untuk.
Zodiak menentukan, memilih hubungan, bahkan “pegangan” hidup sehari-hari.
Buat sebagian Gen Z, membaca ramalan zodiak bukan soal mencari kebenaran mutlak. Lebih ke rasa “kok gue banget”.
Apalagi jika ramalan zodiak menyentuh soal perasaan, hubungan asmara atau konflik ke diri sendiri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Narasumber, Liputan