KANAL

REGIONAL

Rabu, 25 FEBRUARI 2026 • 11:04 WIB

Beban Finansial dan Mental di Balik Ritual Bukber

Beban Finansial dan Mental di Balik Ritual BukberIlustrasi bukber. (Freepik)

INDOZONE.ID - Sore menjelang magrib, ponsel Zamara Zein bergetar berkali-kali. Grup WhatsApp angkatan yang lama sepi mendadak ramai. Ada yang mengirim polling lokasi, ada yang menyodorkan tanggal, ada yang menagih kepastian, jadi atau tidak?

Di bulan Ramadan, hidup memang seperti punya ritme sendiri. Tak cuma menambah ibadah, orang-orang juga bergerak menuju tempat makan, mengejar kursi kosong, memburu momen sebelum adzan, yaitu buka bersama alias bukber. 

Sementara Zamara masih di kamarnya dengan perasaan ragu. Lelaki 21 tahun itu memandangi layar ponsel sambil merasakan lelah yang datang bahkan sebelum acara dimulai.

“Capek, pengen di rumah aja,” katanya. “Tapi takut dianggap sombong atau nggak peduli kalau nggak datang," kata Zamara saat berbincang dengan tim Indozone.

Bagi Zamara, bukber bukan cuma soal makanan atau nostalgia yang hangat. Ia malah merasa tradisi tahunan ini sebagai ujian kecil, tarik-menarik antara menjaga relasi dan kenyamanan hati. Karena itu, kadang ia datang meski hati menolak.

Zamara pernah ikut bukber yang membuatnya merasa tak nyaman. Dalam suasana yang ramai penuh orang, dia merasa momen itu jadi acara pamer pencapaian. 

Zamara yang saat itu berada di fase hidup yang stagnan, jadi merasa kecil di tengah pencapaian teman-temannya yang tampak melesat.

Karena itu, dia menganggap bukber akan menyenangkan bagi yang sedang 'naik, tapi berubah jadi seperti kaca yang memantulkan segala kekurangan bagi orang-orang yang proses hidupnya tertinggal.

“Capek mental,” ujar Zamara. “Pulangnya bukan cuma kenyang, tapi juga overthinking. Kadang jadi insecure, mempertanyakan diri sendiri."

Jika sudah seperti ini, dia butuh waktu sendiri untuk menetralkan perasaan dan mengingatkan diri bahwa hidup bukanlah sebuah perlombaan.

Hal yang sama dirasakan Halifa Febriyanti. Namun meski terbebani dengan rasa capek, ingin berhemat, hingga sedang tidak mood bertemu banyak orang, dia tetap hadir ke acara-acara bukber yang mengundangnya. 

Bagi perempuan 22 tahun itu, terpaksa bukan selalu datang dari tekanan yang keras, melainkan dari rasa “nggak enak” yang halus.

“Kalau kita doang yang nggak ikut, rasanya kayak ‘menyimpang dari kebersamaan’," katanya.

Pengaruh Media Sosial

Beban Finansial dan Mental di Balik Ritual BukberIlustrasi bukber. (Freepik)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Beban Finansial dan Mental di Balik Ritual Bukber

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!