INDOZONE.ID - Rutinitas Keyla Melodia setiap malam hampir selalu sama seperti Gen Z pada umumnya: scroll TikTok sebelum tidur, berharap menemukan sesuatu yang menghibur.
Sampai akhirnya algoritma Tiktok membimbingnya ke sebuah live dari seorang pembaca tarot dengan tumpukan kartu di depannya dengan ribuan penonton yang terus bertambah. Kolom komentar bergerak cepat—orang-orang bertanya tentang cinta, karier, masa depan.
Meski tak ikut bertanya, Keyla mengamati apa yang terjadi di live Tiktok tersebut terkait pembacaan kartu tarot. Salah satu yang ia pahami adalah sebagian anak muda seumurannya telah menjadikan tarot sebagai ruang alternatif untuk merasa didengar.
Di sisi lain, adalah Aisyah Fitriana, seorang karyawan muda asal Jakarta yang justru pernah menggunakan jasa pembaca tarot setelah mendapat rekomendasi dari kawannya. Kebetulan tarot reader-nya orang dengan latar psikologi, sehingga sarannya menggabungkan antara guide dari tarot dan numerologi sekaligus dari sisi psikologi yang tentunya bukan 'kaleng-kaleng'.
"Temenku ada yang coba jasa baca tarot online dan ternyata jawabannya bisa akurat, gak 100% memang tapi sekitar 80%-90% dia bisa tau tentang hal yang kita bahas cuma dari nama dan tanggal lahir," kata Aisyah kepada Indozone.
Baca juga: Ketika Pembaca Tarot Jadi Tempat Curhat Para Gen Z: Bentuk Pertumbuhan Emosional dan Spiritual
Aisyah mengakui memilih jasa pembaca Tarot karena sedang bingung tentang jalan hidupnya, khususnya tentang karir, keluarga dan percintaan.
"Saat itu karena aku lagi masa-masa bingung antara karir, jalan hidup maupun percintaan jadi akhirna coba pakai jasa itu untuk tanya-tanya buat bayangan aja kira-kira cocoknya gimana. Yang aku dapat kayak guide gitu sih lebih ke kayak arahan 'oh ternyata aku bener cocoknya ambil jalan ini, ya kurang lebih begitu,'" cerita Aisyah.
Dari penjelasan sang pembaca tarot, baik Keyla dan Aisyah juga menangkap hal baru. Tarot ternyata bukan sekadar ramalan masa depan seperti yang selama ini ia kira dan banyak orang yang masih salah kaprah tentang tarot.
Tarot sebagai Terapi para Gen Z yang lebih Terjangkau
Apa yang dialami Keyla dan Aisyah membuktikkan beberapa pertanyaan mengapa para Gen Z lebih memilih datang ke pembaca tarot ketimbang psikolog.
Menurut laporan Forbes Health tahun 2022, lebih dari 67% responden Generasi Z mengatakan mereka menggunakan alat spiritual seperti tarot, menulis jurnal, dan astrologi untuk menenangkan diri, memahami emosi , dan mengatasi kecemasan.
Baca juga: Profesi Pembaca Tarot Bisa Jadi Sampingan, Kliennya Kebanyakan Gen Z yang Butuh Curhat
Tarot adalah sahabat terbaik yang cerdas secara emosional yang tidak pernah dialami semasa mereka tumbuh kembang, tanpa ada bias dan penghakiman. Para pembaca tarot mengatakan apa adanya, tetapi dengan sedikit gaya.
Seorang pembaca tarot asal Surabaya bernama Kuntari Puspita Januwarsi yang menggunakan pseudonim Enchantaree, mengungkapkan banyaknya gen z yang menjadi kliennya dalam satu hari.
"Sebagian besar gen z. Misalnya sebulan ada 15 klien, 10 dari mereka gen z," tutur Enchantaree.
Ia juga mengalami fenomena di mana para kliennya tidak hanya dibacakan kartunya, tapi juga bercerita tentang kehidupan mereka.
"Umumnya tentang percintaan dan karier, tapi akan selalu nyentuh hubungan dengan orangtua pada akhirnya," jelasnya.
Fenomena meningkatnya minat Gen Z terhadap tarot juga menjadi sorotan. Menurut psikolog Kasandra A. Putranto dari Universitas Indonesia., ada faktor persepsi yang membuat tarot terasa lebih menarik dibandingkan pendekatan ilmiah.
“Sebagian anak muda meyakini bahwa pembaca tarot memiliki kemampuan paranormal. Sementara psikolog menggunakan pendekatan berbasis bukti ilmiah yang mungkin terasa lebih formal. Ini membuat tarot dianggap lebih mudah diakses secara emosional.”
Di sisi lain, seorang pembaca tarot Reza Atmaja melihat tarot sebagai ruang alternatif yang lebih santai dan fleksibel.
Baca juga: Mengenal Reza Atmaja, Pembaca Tarot yang Gabungkan Pendekatan Psikologi dan Spiritual
“Banyak orang datang bukan cuma untuk jawaban, tapi untuk ngobrol panjang. Mereka pengen diskusi dari berbagai aspek hidup, dari karier sampai hubungan. Itu yang kadang tidak mereka dapatkan di tempat lain,” ungkap Reza saat mengunjungi kantor Indozone beberapa waktu lalu.
Penjelasan Psikologi: Efek Pikiran yang Bekerja
Dari sudut pandang psikologi, Kasandra menjelaskan bahwa fenomena tarot bisa dipahami melalui dua pendekatan: paranormal dan non-paranormal.
“Ada yang percaya tarot bisa mengungkap motif tersembunyi dan memberi kejelasan hidup. Namun secara ilmiah, banyak fenomena tarot bisa dijelaskan melalui efek psikologis seperti efek Barnum dan pembacaan dingin.”
Efek Barnum membuat seseorang merasa deskripsi umum terasa sangat personal, sementara pembacaan dingin memanfaatkan observasi untuk menciptakan kesan “mengetahui”.
“Pernyataan dalam tarot sering kali bersifat umum dan bisa berlaku untuk siapa saja. Namun karena individu sedang mencari jawaban, mereka cenderung menganggapnya relevan secara personal. Ini yang membuat tarot terasa ‘akurat’ bagi banyak orang.”
Baca juga: Apakah Kartu Tarot Bergantung dengan Shio atau Zodiak? Simak Penjelasannya!
Tarot Bukan Ramalan, Tapi Alat Membaca Arah
Bagi Reza, salah satu kesalahpahaman terbesar tentang tarot adalah anggapan bahwa tarot bisa meramal masa depan secara pasti. Ia menegaskan bahwa tarot lebih tepat dipahami sebagai alat bantu, bukan penentu nasib.
“Tarot itu bukan ramalan dan bukan solusi instan. Aku selalu bilang tarot itu kayak Google Maps, kita tahu tujuan, tapi kartu membantu melihat rute mana yang bisa ditempuh. Jadi keputusan tetap ada di tangan klien, bukan di kartu.”
Ia juga menambahkan bahwa proses pembacaan tarot seharusnya bersifat dua arah, bukan sekadar menerima jawaban.
“Yang sering salah, orang datang ke tarot untuk disuapin jawaban. Padahal seharusnya ini ruang diskusi, kita bedah masalahnya bareng. Kalau terlalu bergantung, justru bisa bikin ketergantungan dan kehilangan kemampuan mengambil keputusan sendiri.”
Hal yang sama juga sempat diucapkan Vannisa Vasca, seorang pembaca tarot yang populer di Tiktok dengan akun Miss Vasca. Ia mencoba meluruskan tentang fakta sesungguhnya dari pembacaan tarot.
"Tarot itu tidak meramal nasib, Tarot tidak berbicara tentang takdir mutlak. Tapi Tarot membantu kita melihat pola dan kemungkinan dari apa yang kita jalani," kata Vannisa Vasca saat dihubungi Indozone.
Baca juga: Makna dan Filosofi Tarot: Membaca Pola dan Kemungkinan, Bukan Meramal atau Membaca Takdir
"Apakah pola ini membawa ke puncak gunung kesuksesan, atau membawa kita jatuh ke jurang," lanjutnya.
Pendekatan Tarot yang Lebih Reflektif
Berbeda dari stigma mistis, Reza justru menggabungkan tarot dengan pendekatan psikologis seperti jurnaling. Ia mengajak klien memahami masalahnya terlebih dahulu sebelum menggunakan kartu.
“Kadang aku ajak klien jurnaling dulu, kita breakdown masalahnya satu-satu. Setelah itu baru kita pakai kartu untuk melihat kemungkinan atau perspektif lain. Jadi bukan satu arah, tapi diskusi yang lebih dalam.”
Menurutnya, tarot bukan tentang kartu semata, tetapi interaksi antara pembaca dan klien. Oleh karena itu ia lebh banyak membuka jasa secara luring ketimbang daring lantaran lebih menyenangkan berinteraksi bersama orang langsung.
“Tarot itu bukan cuma soal kartu, tapi soal koneksi dan kenyamanan. Kita butuh didengar dan dipahami, bukan sekadar dikasih jawaban. Makanya penting cari reader yang bikin kita nyaman.”
Baca juga: Kartu Tarot Udah Bicara, Gimana Romansa Zodiak Kamu di Maret 2026?
Antara Refleksi dan Ketergantungan
Salah satu kekhawatiran paling signifikan seputar tarot adalah potensi kecanduannya. Ketika menghadapi ketidakpastian atau kesusahan, mungkin akan timbul godaan untuk berulang kali berkonsultasi dengan kartu, berharap mendapatkan kepastian.
Ketergantungan ini dapat dengan cepat berubah menjadi obsesi yang tidak sehat, di mana keputusan dibuat berdasarkan ramalan tarot daripada intuisi pribadi atau penalaran logis.
Seiring waktu, ketergantungan ini dapat mengikis kepercayaan diri dan menciptakan siklus tanpa akhir…
Seorang pengguna tarot aal Amerika bernama Marie Claire menulis diari keseharannya bagaimana ia terobsesi dengan tarot dan menjadi selalu cemas/
"Seiring meningkatnya obsesi saya terhadap tarot, kecemasan saya pun meningkat. Ketika saya bertanya kepada kartu tentang keuangan dan mendapatkan Lima Pentakel— kartu kerugian finansial—saya meringkuk dalam posisi janin dengan putus asa selama berjam-jam," katanya.
Dulu aku percaya tarot adalah satu-satunya sumber keamananku di dunia yang tak terduga. Tapi kenyataannya, rasa sakit tak bisa dihindari, dan sebagian besar akan datang secara tiba-tiba. Tak ada firasat yang bisa mengubah itu. Dan bahkan ketika tarot memperingatkanku tentang kesulitan yang akan datang, itu hanya membuatku putus asa karena aku tidak percaya pada ketahanan diriku sendiri."
Adiksi seperti ini kadang tak bisa dihindari, ketika seorang terlalu menggantungkan hidupnya apa kata tarot yang sejatinya hanya sebah pilihan jalan mencapai tujuan atau menghindari masalah. Baik Reza maupun Kasandra sepakat bahwa tarot bisa memberi manfaat, tetapi juga memiliki risiko jika digunakan secara berlebihan.
Baca juga: Fakta tentang Bulan yang Bikin Melongo: Dari Satelit Bumi sampai Jejak Manusia Pertama di Permukaan
“Tarot bisa jadi (menimbulkan adiksi)” jelas Kasandra.
"Penggunaan kartu Tarot terus berkembang, bahkan di masyarakat Barat, dan popularitas kartu Tarot bukanlah indikasi keandalan atau validitasnya, melainkan sebuah tinjauan tentang bagaimana penggunaan kartu dapat memengaruhi proses berpikir dan keadaan mental kita,"
Reza pun mengakui hal serupa dari sisi praktik.
“Kalau orang merasa tanpa tarot dia tidak bisa mengambil keputusan, itu sudah jadi ketergantungan. Tarot seharusnya membantu berpikir, bukan menggantikan keputusan.”
Sejatinya, tarot berada di antara dua dunia: spiritualitas dan psikologi. Ia bisa menjadi alat refleksi yang membantu, tetapi juga bisa menyesatkan jika disalahpahami.
Dari sisi pembaca tarot dan para psikolog sepakat bahwa kunci utamanya adalah kesadaran. Tarot bukan jawaban mutlak, melainkan alat bantu untuk melihat kemungkinan.
Di tangan yang tepat, tarot bisa menjadi ruang refleksi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara, Analisis Redaksi