Banjir Kemang: Kawasan Elit yang Sulit Menemukan Solusi Saat Terkepung Genangan Banjir
INDOZONE.ID - Fenomena banjir di kawasan Kemang, Jakarta Selatan seolah bukan lagi hal yang mengejutkan. Orang tak lagi bertanya-tanya: 'kok bisa kawasan elit seperti itu tergenang banjir setiap hujan besar turun?'.
Semua orang yang tinggan atau bekerja di kawasan yang mendapatkan predikat 39 Coolest Neighbourhoods in the World in 2025 dari Time Out tersebut adalah kawasan langganan banjir. Tak peduli perumahan dengan lingkungan apartemen yang eksekutif pun, banjir selalu terjadi bila curah hujan cukucp tinggi.
Seperti halnya yang terjadi pada Kamis (30/10/2025) sore lalu, hujan besar telah menyebabkan Kemang seolah terkepung dari banjir. Tim Indozone yang harus pulang kerja kesulitan menemukan akses untuk keluar dari Kemang lantaran tertutup karena banjir.
Salah satu akses jalan yang tak bisa dilalui adalah jalan Kemang Utara menuju Mampang Prapatan Raya, Duren Tiga, ataupun Warung Buncit tak bisa dilalui karena air dari kali Mampang meluap.
Baca juga: Penyebab Kemang Banjir Diungkap Gubernur DKI Jakarta
Pada pukul 18.30 WIB, beberapa warga terlihat berjaga di kawasan Kemang Timur yang ingin mengakses jalur Kemang Utara dan Duren Bangka. Mereka memberi arahan jalur lain yang bisa dllewati, yaitu jalur Kemang Timur menuju Ampera dan Pejaten.
Salah seorang karyawan bernama Salsabila Az Zahra yang bekerja di kawasan Kemang Raya juga sempat kebingungan saat harus pulang kerja di sore itu. Hampir kebingungan karena kendaraan tak bergerak imbas banjir, dan kesulitan mendapatkan pjek online untuk mengatarkannya pulang.
"Aku balik kantor sore jam 5 an, biasanya aku balik emang pake busway. Sebenernya agak kaget juga ngeliat sepanjang jalan kemang itu beneran macet isinya mobil," kata Salsabila saat ditanya Indozone.
"Pas aku nunggu busway, temen kantorku ngechat kalo katanya busway gak bakalan beroperasi karena banjir, yang busway arah Ragunan aja tuh katanya gak jalan. Cuma aku masih berusaha positif lah, karena busway yg dari kiri (6N blok m-via kemang). Ternyata nunggu sejaman, beneran gak ada ternyata dan aku mutusin buat pesen ojol akhirnya," tambahnya.
Sayangnya, tak ada satu pun ojol yang mau ambil, bahkan sempat ada yang membatalkan. Tidak ada pengemudi yang mau menembus kawasan yang dikepung banjir ini.
Baca juga: Genangan di Jalan Kemang Raya Jakarta Selatan Sudah Surut Total
Eksploitasi Kawasan Tanpa Baca Kondisi Alam
Menurut pengamat tata kota Yayat Supriatna, akar persoalan banjir di Kemang tidak sesederhana curah hujan tinggi — melainkan hasil dari perubahan besar pada bentang alam dan tata ruang kawasan itu sendiri.
Yayat mengungkapkan bahwa sejak awal, Kemang bukanlah kawasan komersial seperti sekarang.
“Dulu Kemang itu daerah permukiman, bahkan punya retention pond atau kolam penampungan alami,” jelasnya. Namun, kolam alami itu justru dibeli oleh pengembang besar dan kemudian ditutup.
Akibatnya, kemampuan kawasan untuk menahan limpasan air hujan berkurang drastis.
Selain itu, Sungai Kemang yang dulunya cukup lebar kini mengalami penyempitan akibat pembangunan. “Yang ada di sana itu tembok, bukan tanggul,” kata Yayat menegaskan. “Ketika hujan turun deras, kapasitas aliran sungai sudah tidak mampu menampung air.”
Perubahan fungsi kawasan menjadi pusat bisnis dan gaya hidup modern dianggap memperparah kerentanan banjir. Yayat menyebut, sekitar 70% wilayah Kemang kini berubah dari zona permukiman menjadi perdagangan.
“Orang lupa, dulu harusnya peta kondisi hidrologis dan aliran sungainya dibaca dulu sebelum bangun. Tapi orang hanya lihat potensi ekonominya,” ujarnya.
Menurutnya, tekanan ekonomi sering membuat aspek lingkungan diabaikan. “Jakarta dengan curah hujan di atas 100 mm saja sudah berpotensi tergenang. Kalau lebih dari 150 mm dalam dua jam, ya pasti bermasalah,” tambahnya.
Baca juga: Akses Keluar Masuk Kemang Terkepung Banjir, Kendaraan Tak Bergerak Berebut Jalur Alternatif
Kawasan Hijau yang Ditinggalkan Alamnya
Secara historis, Kemang dikenal sebagai daerah hijau dengan banyak pepohonan dan lahan resapan air. Namanya sendiri diyakini berasal dari pohon kemang, sejenis mangga hutan yang banyak tumbuh di sana. Namun, sejak dekade 1980-an, kawasan ini mulai berkembang menjadi hunian ekspatriat.
Masuknya bisnis retail dan kafe pada era 1990-an mempercepat transformasi Kemang menjadi pusat gaya hidup elit. Sayangnya, perubahan itu tidak diiringi penataan drainase dan perlindungan ekosistem sungai.
“Ketika fungsi berubah, orang lupa bahwa daerah itu sebenarnya perawan bencana — dekat sungai, curah hujan tinggi, dan minim resapan,” ucap Yayat.
Menurut Yayat, langkah mitigasi harus dimulai dari penataan ulang daerah aliran sungai (DAS) Kemang. Pemerintah perlu memetakan penyempitan, memperkuat tanggul, dan menata ulang drainase. Namun, hal itu tidak mudah karena menyangkut lahan milik warga dan properti swasta.
“Mau nggak pemilik rumah atau pengembang rela sebagian lahannya dibongkar? Kalau tidak mau berkorban, ya akan jadi korban,” ujarnya tegas.
Evaluasi tata Ruang dan Mau Berkorban
Yayat juga menyoroti potensi kebijakan kompensasi. Jika pemerintah mengamankan kawasan dan menaikkan nilai tanah, maka pajak bumi dan bangunan (PBB) seharusnya ikut disesuaikan
“Itu bentuk kompensasi atas biaya perbaikan lingkungan. Jangan hanya menikmati keuntungannya, tapi ikut tanggung jawab terhadap dampaknya,” tuturnya.
Kemang butuh evaluasi tata ruang total. Tanpa perbaikan sistem hidrologi, kawasan yang dulunya simbol kemewahan Jakarta ini bisa kehilangan daya tariknya.
“Kemang itu strategis, dekat jantung ekonomi. Tapi kalau terus kebanjiran, orang lama-lama enggan tinggal. Investasi akan mati, dan kawasan elit itu bisa jadi kawasan gagal,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara