Rabu, 16 JULI 2025 • 18:35 WIB

Bukan Cuma Bikin Capek, Macet Jakarta Picu Stres hingga Depresi, Ini Penjelasan Psikolog

Author

Ilustrasi kemacetan kota Jakarta. (Freepik)

INDOZONE.ID - Setiap pagi, Jakarta seringkali disambut bukan cuma dengan semangat, melainkan deru mesin dan klakson yang memekakan telinga. 

Jutaan warga Jakarta memulai hari dengan ritual pahit, yakni berjibaku melawan kemacetan di jalan.

Setiap pagi dan sore, jutaan kendaraan bermotor memenuhi ruas-ruas jalan Jakarta, menciptakan antrean panjang yang tak hanya merugikan waktu dan energi fisik, tapi juga tekanan mental serius.

Bayangkan saja, setiap hari dengan skenario serupa terulang, antrian panjang, kendaraan bergerak lambat, emosi memuncak, jadwal yang meleset, dan rasa frustasi yang menumpuk.

Sampai saat ini, Jakarta masih jadi langganan kota termacet di dunia. Menurut laporan TomTom Traffic Index 2023, Jakarta ada di peringkat 29 dari 389 kota dengan kemacetan tertinggi di dunia. 

Bayangkan, untuk menempuh jarak 10 km saja, butuh waktu rata-rata 22 menit. 

Baca juga: 5 Tips agar Kalian Gak Stres Terjebak Macet di Tempat Wisata saat Liburan

Artinya, banyak warga Jakarta bisa terjebak di jalan lebih dari dua jam setiap harinya. Bukan cuma bikin capek dan buang waktu, kemacetan ini juga berdampak besar pada ekonomi, kesehatan mental, hingga kualitas lingkungan.

Kemacetan = Penentu MoodIlustrasi kemacetan yang menurunkan mood. (FREEPIK)

"Kemacetan itu bukan hanya tentang waktu tempuh yang panjang, tapi juga tentang hilangnya kontrol. Saat seseorang terjebak macet, mereka merasa tidak berdaya, tidak bisa mengendalikan situasi. Hal ini memicu perasaan frustasi, marah, bahkan cemas," jelas Psikolog Klinis Dr. Irma Permata Sari.

Rasa tidak berdaya ini diperparah dengan ketidakpastian waktu tiba di lokasi tujuan. Seseorang mungkin sudah berangkat lebih awal, tetapi tetap terjebak macet, dan tidak bergerak.

Hal ini bisa menyebabkan stres antisipatif sebelum perjalanan dimulai dan kecemasan akan terlambat, baik itu untuk rapat penting, menjemput anak, atau bahkan sekadar pulang ke rumah.

Baca juga: Psikologi Aroma, Memahami Bagaimana Parfum Memengaruhi Emosi dan Menghidupkan Kenangan

Dampak Psikologis Jangka Panjang

Ilustrasi dalam kemacetan. (Freepik)

Paparan stres kemacetan secara berulang dapat memiliki konsekuensi serius bagi kesehatan mental dalam jangka panjang.

"Tingginya tingkat stres akibat macet bisa membuat seseorang lebih mudah tersinggung, kurang toleran, dan cenderung meledak amarahnya di lingkungan lain, bahkan di rumah atau di kantor," tambah Dr. Irma.

Berikut beberapa dampak jangka panjang yang disebabkan dari kemacetan:

1. Stres dan Cemas Meningkat

Tingkat kortisol (hormon stres) dapat meningkat secara signifikan saat terjebak macet. Jika hal ini terus menerus terjadi bisa menyebabkan kecemasan kronis, sulit tidur, dan bahkan serangan panik.

2. Agresi dan Frustasi

Rasa tidak sabar dan kemarahan seringkali diekspresikan di jalanan dalam bentuk road rage atau perilaku agresif di jalan raya. 

Contohnya seperti membunyikan klakson terus-menerus dengan marah, meneriaki atau menghina pengendara lain, ugal-ugalan, hingga bisa sampai kekerasan.

3. Depresi dan Kelelahan Emosional

Kurang istirahat dan beban mental yang terus-menerus bisa memicu gejala depresi, seperti kehilangan minat, motivasi rendah, dan perasaan putus asa.

4. Produktivitas dan Konsentrasi Menurun

Pikiran yang terus-menerus disibukkan oleh stres kemacetan dapat mengganggu konsentrasi di tempat kerja dan menurunkan kualitas hasil kerja.

5. Dampak pada Hubungan Sosial

Waktu yang terbuang karena kemacetan mengurangi interaksi sosial dan waktu berkualitas bareng keluarga. Hal ini bisa memicu konflik atau perasaan terasing.

Beradaptasi dengan Kemacetan

Ilustrasi beradaptasi dengan kemacetan Jakarta. (FREEPIK)

Nah, meskipun kemacetan adalah masalah struktural yang membutuhkan solusi komprehensif dari pemerintah, masyarakat juga perlu mengetahui strategi adaptasi pribadi.

Hal ini mungkin akan sangat membantu, khususnya bagi para perantauan yang bekerja di Jakarta dan merasakan culture shock dengan kemacetan setiap hari.

Psikolog Sosial Dr. Budiarto menyarankan beberapa hal untuk beradaptasi dengan kemacetan:

1. Manfaatkan Waktu

Cobalah untuk mengubah perspektif. Waktu di perjalanan bisa dimanfaatkan untuk mendengarkan podcast edukatif, buku audio, atau musik yang menenangkan. Ini bisa menjadi me-time kecil di tengah hiruk pikuk.

2. Teknik Relaksasi

Melatih pernafasan dalam, mindfulness, atau meditasi singkat saat terjebak macet. Ini membantu menenangkan sistem saraf.

3. Perencanaan yang Matang

Perkirakan waktu tempuh dengan realistis dan berangkat lebih awal. Kesiapan mental bisa mengurangi kecemasan.

4. Pilihan Transportasi

Jika memungkinkan, cobalah beralih ke transportasi umum, sepeda, atau bahkan berjalan kaki untuk sebagian rute. Variasi bisa mengurangi kejenuhan.

5. Batasan Diri

Pahami batas toleransi stres kamu. Jika kemacetan mulai terasa sangat membebani, pertimbangkan opsi kerja remote atau jadwal yang lebih fleksibel jika memungkinkan.

Kemacetan di Jakarta bukan sekadar urusan lalu lintas, melainkan juga cerminan dari tantangan kesehatan mental yang dihadapi jutaan penduduknya. 

Mengakui adanya tekanan ini adalah langkah pertama. Dengan dukungan kebijakan pemerintah yang tepat dan strategi adaptasi individu yang cerdas, diharapkan masyarakat ibu kota dapat menemukan cara untuk tetap menjaga kesejahteraan mental mereka di tengah kerasnya jalanan Jakarta.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Analisis Redaksi, Wawancara

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU