INDOZONE.ID - Tidak bisa dipungkiri Generasi Z mulai banyak menjejak dunia usaha. Diawali dengan hadirnya toko online, merambah bisnis kuliner, hingga startup digital, mereka tampil dengan energi baru dan segar. Mereka bisa terbilang cakap digital.
Lihat saja dalam bisnisnya, konten media sosial rapi, strategi pemasaran daring presisi pun tidak gagal ikuti tren, dan penjualan di marketplace mengalir deras. Tidak mengherankan bila banyak orang menyebut generasi ini punya keunggulan kompetitif di era teknologi.
Namun, keberhasilan di layar ponsel tidak selalu menjamin ketangguhan di ruang tatap muka. Gen Z jago untuk urusan komunikasi dengan menggunakan media, namun kagok Ketika harus dihadapkan dengan komunikasi tatap muka.
Di sinilah persoalan muncul: generasi Z hebat di dunia online, tapi kerap gagap jika harus berhadapan langsung dengan manusia nyata.
Baca juga: Protes Gen Z Nepal: Influencer Klaim Ada Pemerkosaan hingga Penembakan Siswa
Data yang Menggugah
Sebuah survei Deloitte tahun 2025 menunjukkan bahwa 86% Gen Z menilai soft skill, seperti komunikasi dan kecerdasan sosial lebih dibutuhkan daripada hard skill teknis untuk menopang karier dan bisnis mereka. Namun, di sisi lain, survei resumebuilder.com yang dikutip Res Publica (2024) menyebutkan 74% manajer merasa sulit bekerja sama dengan Gen Z, terutama karena kelemahan dalam komunikasi interpersonal.
Ziya Ibrizah, Penulis Buku dan Dosen Ilmu Komunikasi yang memiliki kepakaran dalam bidang ilmu komunikasi digital, komunikasi interpersonal menyimpulkan bahwa Gen Z memiliki tantangan dalam komunikasi interpersonal karena kurangnya interaksi tatap muka, serta menunjukkan preferensi untuk komunikasi singkat dan jelas secara virtual.
Kontradiksi ini jelas: Gen Z sadar pentingnya komunikasi interpersonal, tapi sebatas pada preferensinya saja. Tentu saja, ini menjadi pengingat bahwa Gen Z pernah mengalami situasi perubahan pola komunikasi yang luar biasa sejak adanya pandemi.
Teknologi Membantu, tapi Tidak Menyelamatkan
Berbicara tentang bisnis pada akhirnya kita berdiskusi soal manusia. Sehebat apa pun aplikasi, perkembangan teknologi sampai dengan algoritma media sosial, ujungnya tetap berhubungan dengan pelanggan, mitra, maupun investor.
Kemungkinan besar berhadap dengan mereka tidak bisa hanya mengandalkan komunikasi melalui media saja, perlu berhadapan langsung. Tujuannya jelas, bisnis jadi lebih kredible untuk membangun kepercayaan. Berkaca dari hal ini, komunikasi interpersonal bukan hanya kemampuan berbicara.
Baca juga: Begini Cara supaya Gen Z Lebih Peka Politik ala Alissa Wahid: Bicara dengan Bahasa Mereka
Seharusnya mencakup keterampilan mendengarkan, memahami emosi lawan bicara, membaca bahasa tubuh, dan menumbuhkan kepercayaan. Sayangnya, pola tumbuh Gen Z sering kali terjebak dalam komunikasi serba instan dan semuanya dapat diatur hanya dengan menggunakan keterampilan jari dan kreativitas berkonten.
Contoh nyatanya adalah emoji dapat menggantikan ekspresi wajah pada pesan teks. Pesan singkat menggantikan obrolan panjang. Akibatnya, tatap muka terasa kaku, bahkan menegangkan. Dan ini yang paling tidak menyelamatkan, jika sudah tegang, kemampuan berkomunikasi pun akan menurun. Padahal banyak ide atau hal kreatif yang pasti muncul dari pemikiran Gen Z.
Tidak Semuanya, Tapi Ada
Perbincangan saya dengan pengusaha kuliner berusia 23 tahun membawa kisah yang pas untuk dijadikan contoh. Kalau Bahasa Gen Z, dia sangat passionate, bekerja dengan sepnuh hati dalam membangun bisnis kulinernya. Benar saja lewat Instagram, ia sukses besar: kontennya viral, pesanan membludak, dan keuntungan sudah ada di depan mata.
Tapi ketika ia mendapat tawaran membuka gerai di pusat perbelanjaan, ia gugup menghadapi pihak manajemen mall. Apa yang terjadi? Seperti yang sudah kita bahas sebalumnya: negosiasi mandek, bahasa tubuh kaku, dan akhirnya berujung pada kesempatan hilang. Hal ini kontras dengan cerita salah seorang kolega saya yang
Adalah seorang desainer grafis muda usianya tidak jauh beda 27 tahun. Pekerjaannya menuntutnya untuk terbiasa dengan platform online. Pernah ia mendapatkan kesempatan untuk bergabung dalam proyek besar, ia dipanggil rapat langsung tatap muka. Berbeda dengan kisah sebelumnya justru di ruang itu, kemampuannya memaparkan ide dilakukan dengan jelas dan mendengar masukan klien membuat kerja sama berlanjut jangka panjang.
Belajar dari kedua kisah ini menunjukkan kepada kita bahwa teknologi bisa membuka pintu, tapi komunikasi manusiawi yang menentukan apakah kita bisa masuk dan bertahan di dalamnya. Besar kemungkinan jam terbang dan kebiasaan menjadi jawaban yang paling masuk akal untuk menjelaskan kedua kisah ini.
Mengapa Gen Z Kerap Gagap?
Jika kita melihat lebih dalam lagi, ada beberapa alasan mengapa generasi ini begitu piawai di dunia digital, tetapi sering canggung di dunia nyata. Pertama, terbentuknya pola tumbuh dalam ekosistem digital. Sejak remaja, mereka terbiasa mengekspresikan diri lewat layar, bukan tatap muka.
Hadirnya teknologi digital melalui gawai menjadikan mereka terbiasa berkomunikasi dengan media digital. Kedua, tidak lain tidak bukan adalah budaya multitasking. Generasi ini sering berkomunikasi sambil melakukan banyak hal sekaligus: membalas chat, membuka tab, mendengar musik. Akibatnya, fokus penuh pada percakapan tatap muka jadi jarang.
Baca juga: Gen Z Wajib Tahu! Ini Jejak Karier Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Pengganti Sri Mulyani
Ketiga, minimnya ruang latihan komunikasi langsung. Pendidikan dan lingkungan kerja modern lebih menekankan kompetensi teknis ketimbang interaksi sosial. Start-up digital misalnya banyak yang menerapkan sistem work form anywhere, tanpa kantor fisik, tanpa komunikasi tatap muka. Keempat, Gen Z memiliki kecenderungan berkomunikasi dengan komunitas yang terbatas.
Misalnya berkomunikasi melalui platform game online dengan sesame komunitas games tersebut. Hal ini sejalan dengan survei Kronos (2019) yang menemukan hanya 44% Gen Z merasa nyaman bekerja langsung dalam tim, sisanya lebih memilih forum kecil atau komunikasi berbasis daring.
Soft Skill yang Terlupakan
Melihat dari modal dasar Gen Z sesungguhnya besar: mereka adaptif, kreatif, dan haus tantangan. Tapi semua itu bisa tergerus jika tidak ditopang oleh soft skill komunikasi interpersonal. Interaksi sosial yang mulai terlupakan tergantikan dengan istilah media sosial.
Mereka mengaku bersosialisasi, namun melalui media sosial. Gen Z sebenarnya mulai menunjukkan kehilangan sisi humanisnya.
Untuk memperkuat sisi humanis, ada beberapa langkah nyata:
Latihan public speaking. Terdengar klasik, yak arena kecenderungan orang berpikir berbicara di depan umum hanya sebagai pemahaman retorika yang mungkin bagi sebagai Gen Z terasa kuno. Padahal membiasakan diri berbicara di depan umum dapat membangun struktur pesan dan kepercayaan diri.
Mentoring lintas generasi. Belajar dari senior membantu memahami etika dan strategi komunikasi di dunia profesional. Saling belajar, bukan saling menggurui. Menarik membandingkan Gen Z dengan generasi milenial atau generasi X. Generasi yang lebih senior memang tidak terlalu lihai dalam dunia digital, tetapi mereka relatif lebih terbiasa membangun jaringan secara tatap muka.
Baca juga: Ketua DPRD Kota Malang Ingatkan Anggota Dewan: Komunikasi Harus Santun dan Menghormati Rakyat
Pelaku usaha milenial, misalnya, masih banyak yang meniti karier lewat forum bisnis konvensional, rapat panjang, atau diskusi komunitas. Gen Z bisa belajar dari pengalaman ini, sambil tetap mengoptimalkan teknologi. Dengan kata lain, yang ideal bukan meninggalkan digital, tetapi menyeimbangkan dengan keterampilan interpersonal klasik.
Membangun networking secara offline. Dapat dilakukan dengan berbagai cara misalnya menghadiri pameran, seminar, atau komunitas bisnis memperkaya pengalaman tatap muka.
Empati yang bermakna bukan sekadar menunggu giliran bicara, tetapi benar-benar memahami lawan bicara. Sekali lagi kemampuan komunikasi interpersonal bukan hanya tentang bisa bicara, namun mampu mendengarkan.
Menutup Celah
Menurut saya, pekerjaan rumah utama Gen Z bukan lagi soal teknologi, melainkan keberanian dan kemauan berkomunikasi langsung dengan tatap muka. Mereka sudah mahir memainkan algoritma dan segala yang berhubungan dengan perkembangan teknologi digital. Kini saatnya mengasah kemampuan membangun kepercayaan lewat tatapan mata, senyuman, dan dialog nyata.
Sehebat apa pun teknologi digital, bisnis tetap tentang manusia dan komunikasi antar manusia tidak pernah bisa digantikan oleh layar gawai. Jika Gen Z mampu menjembatani dunia digital dengan keterampilan komunikasi interpersonal, mereka bukan hanya akan sukses sebagai pelaku usaha, tetapi juga menjadi Generasi Zealous yang dengan semangat dan penuh energi mengembangkan kemampuan memaknai komunikasi sebagai upaya untuk membangun hubungan, menumbuhkan kepercayaan, dan menciptakan nilai bersama.
Profil Penulis
Imanuel Deny Krisna Aji, S.P., M.I.Kom., CIQnR., CPSP.
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Ciputra dalam bidang Entrepreneurial Communication
Email: imanuel.aji@ciputra.ac.id
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan Penulis