INDOZONE.ID - Pagi itu, Galih memainkan kemudinya dengan seksama saat menyusuri jalanan ibu kota dengan mobil listrik kesayangannya. Bagaimana tak sayang, ia mendapatkan kenyamanan yang tak pernah ia dapatkan saat berkedara dengan mobil convesional: kabin mobil terasa sunyi tanpa suara mesin yang meraung, hanya suara pendingin udara dan radio yang menemani perjalanan sang mahasiswa menuju kampusnya.
Di tengah kemacetan ibu kota, ia menikmati kenyamanan fitur adaptive cruise control yang perlahan mengatur laju mobilnya. Sampai kemudian suara penyiar radio memecah ketenangan pagi itu, sebuah kabar tentang mobil listrik yang mogok di perlintasan rel kereta dan berujung tertabrak KRL dan mengakibatkan kecelakaan besar lainnya di daerah Bekasi Timur.
Kejadiannya sebenarnya sudah terjadi di malam hari, tapi ia baru melihat detail efek domino yang terjadi. Belum sempat mencerna berita itu, notifikasi WhatsApp di ponselnya mulai bermunculan. Video kecelakaan yang sama beredar cepat di grup keluarga dan pertemanan. Galih terdiam sejenak saat lampu merah menyala.
Banyak pihak yang menyebutkan lantaran taksi listrik menjadi awal mulanya. Entah sopir yang tak menguasai kendaraannya atau arus listrik yang mengalir di jalur tersebut membuat mobil mogok membuat dirinya ikutan panik.
Baca juga: Pasar Berubah, Mobil Listrik Bekas Kini Jadi Incaran Konsumen
Sebagai pengguna mobil listrik, rasa kaget dan khawatir tentu muncul di benaknya. Ia sadar, kendaraan yang selama ini dianggap canggih dan modern tetap memiliki risiko jika sistem mengalami gangguan atau pengguna tidak memahami cara penanganannya.
Ia lalu mengenang kembali waktu awal ia memilih kendaraan listrik sebagai kendaraan untuk mobilitas sehari-hari. Tentunya hal yang sama juga muncul di benak para pengguna mobil listrik lainnya saay memutuskan menjadikan kendaraan untuk mobilitas sehari-hari.
Kenapa Mobil Listrik Begitu Memikat?
Berdasarkan data Gaikindo, penjualan mobil listrik di kuartal pertama 2026 mengalami kenaikan di banding tahun sebelumnya, bahkan bersaing dengan mobil konvesional sehingga masuk Top 10 mobil terlaris.
Pada April 2026 terlihat dari mulai naiknya kendaraan hybrid dan listrik ke daftar mobil terlaris nasional. Sebut saja, Toyota Veloz HEV berhasil mencatat distribusi 3.262 unit, sedangkan BYD M6 masuk jajaran 10 besar dengan penjualan 2.472 unit.
Masuknya BYD M6 menjadi sinyal bahwa minat konsumen terhadap kendaraan listrik mulai berkembang di pasar domestik. Selain itu, Jaecoo J5 juga tampil cukup kuat dengan penjualan 3.179 unit.
Beberapa brand yang disebut diatas juga menjadi mobil listrik andalan Galih untuk berkendara.
"Saya sudah memakai mobil listrik dari 2024, berarti sudah terhitung 2 tahun ya sampai sekarang. Untuk perbedaan yang paling terasa itu jelas tentang konsumsi bahan bakar yang berbeda," tutur Galih saat diwawancarai Indozone beberapa waktu lalu.
Pengalaman memakai kendaraan listrik justru memberinya sudut pandang berbeda. Bukan sekadar soal gaya hidup modern, tapi juga tentang bagaimana memahami teknologi yang kini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Hal pertama yang paling ia rasakan tentu soal efisiensi. Tidak lagi bergantung pada bensin menjadi perubahan besar dalam rutinitas hariannya. Namun bukan cuma itu, Galih merasa mobil listrik modern menawarkan rasa aman yang berbeda dibanding mobil konvensional
Menurutnya, fitur keselamatan di mobil listrik saat ini sudah jauh berkembang. Hampir semua mobil listrik terbaru dibekali teknologi seperti sensor, kamera 360 derajat, adaptive cruise control, lane assist, hingga sistem ADAS (Advanced Driver Assistance System).
“ADAS itu membantu banget sih buat meminimalkan risiko kecelakaan akibat kelalaian pengemudi,” ujarnya saat dihubungi Indozone.
Baca juga: Pemerintah Gas Insentif Mobil Listrik, Agus dan Purbaya Bertemu
Meski begitu, Galih sadar bahwa mobil listrik tetap sangat bergantung pada sistem elektronik dan software. Karena itu, ia merasa pengguna mobil listrik wajib memahami dasar-dasar sistem keselamatan kendaraannya sendiri.
“Kita harus paham informasi dasar tentang kendaraan. Jadi kalau amit-amit ada masalah, kita tahu penanganan awalnya harus bagaimana,” katanya.
Kekhawatiran soal keamanan mobil listrik mulai kembali ramai setelah muncul kasus kendaraan listrik yang dikabarkan berhenti di rel kereta dan sistem mobil terkunci otomatis. Berita lain tentang mobil listrik terbakar di jalan tol juga membuat banyak orang bertanya-tanya: seberapa aman sebenarnya kendaraan listrik?
Saat mendengar kabar itu, Galih mengaku kaget sekaligus prihatin dan juga mulai memperhatikan segala fitur keselamtan yang ada di kendaraan yang ditungganginya. .
Galih menekankan bahwa pengguna mobil listrik tetap wajib memahami dasar sistem kendaraan yang digunakan. Sebab, kendaraan listrik sangat bergantung pada sistem elektronik dan software.
Baca juga: Mobil-Motor Listrik di Jakarta Tetap Bebas Pajak dan Ganjil Genap
“Yang penting tuh kita sebagai pengguna mobil listrik ya harus paham aja sama informasi dasar tentang kendaraannya. Biar kalau amit-amit ada hal jelek yang terjadi, jadi tahu penanganan awalnya harus gimana,” ujarnya.
Ia juga mengaku sempat merasa khawatir setelah muncul kasus mobil listrik yang berhenti di rel kereta dan sistem kendaraan terkunci.
Menurut Galih, kasus seperti itu perlu ditelusuri lebih lanjut untuk mengetahui apakah penyebabnya berasal dari gangguan sistem atau faktor penggunaan kendaraan.
“Dari pihak produsennya juga mungkin harus bisa meningkatkan sistem keamanannya sama edukasi buat pengguna mobil listrik ini,” lanjutnya.
Pentingnya SOP Darurat Mobil Listrik
Apa yang diungkap Galih sebenarnya sejalan dengan apa yang beberapa yang diungkapkan oleh beberapa pakar. Penggendara yang teredukasi dan mengerti SOP dari kendaraan listrik yang membuat mereka bisa mengatasi rasa kekhawatiran seperti yang diungkapkannya.
Pakar otomotif ITB, Agus Purwadi, menilai kendaraan listrik memang memiliki kompleksitas berbeda dibanding mobil berbahan bakar konvensional. Karena itu, menurutnya setiap produsen mobil listrik seharusnya menyediakan panduan prosedur darurat yang jelas dan mudah dipahami pengguna.
“Mestinya harus ada program atau prosedur emergensi dari setiap pabrikan itu harus mengeluarkan,” kata Agus Purwadi saat dihubungi Indozone di kesempatan yang berbeda.
Baca juga: Indomobil Expo 2026 Hadirkan Pameran Mobil Listrik di Senayan City, Lineup Super Lengkap!
Ia mencontohkan bahwa kendaraan listrik idealnya memiliki tombol emergency khusus yang dapat langsung membebaskan sistem pengunci rem atau transmisi ketika terjadi kondisi darurat.
Menurut Agus, dalam situasi kritis seperti kendaraan mogok di rel kereta, prioritas utama bukan lagi menyelamatkan kendaraan, melainkan segera melakukan evakuasi penumpang.
“Kalau sudah panik itu agak sulit mengandali itu. Jadi memang harus dibuat SOP, kalau memang waktunya sudah mendesak, sudah tidak usah berupaya, sudah lepas, keluar, evakuasi,” jelasnya.
Mobil Listrik Tidak Bisa Diperlakukan Seperti Mobil Biasa
Sementara itu, pakar keselamatan berkendara dari Jakarta Defensive Driving Consulting, Jusri Pulubuhu, menilai masih banyak masyarakat Indonesia yang belum memahami karakter dasar kendaraan listrik.
Menurutnya, sebagian masyarakat cenderung membeli mobil listrik tanpa benar-benar memahami fitur dan cara pengoperasian kendaraan tersebut secara aman.
Baca juga: Purbaya Siapkan Insentif untuk 100 Ribu Mobil Listrik, Motor Dapat Subsidi Nggak?
“Banyak pengguna EV belum memahami do and don’t dalam pengoperasiannya,” kata Jusri kepada Indozone.
Ia menjelaskan bahwa mobil listrik memiliki karakter berbeda dibanding kendaraan konvensional, mulai dari tenaga instan, regenerative braking, hingga sistem warning yang lebih sensitif.
“Sedikit menginjak pedal akselerator saja, mobil bisa langsung melompat,” ujarnya.
Selain itu, mobil listrik juga memiliki sistem proteksi tertentu yang dapat membatasi respons kendaraan ketika terjadi gangguan suhu atau kelistrikan.
Karena itu, Jusri mengingatkan pengguna agar tidak mengabaikan warning system yang muncul di dashboard.
“Ketika muncul indikator seperti high temperature atau power limited, kendaraan harus segera dihentikan di tempat aman dan pengguna sebaiknya langsung menghubungi customer service atau bengkel resmi,” jelasnya.
Jusri juga menegaskan bahwa mobil listrik tidak boleh ditangani sembarangan saat mengalami mogok atau error system.
Menurutnya, banyak pengguna belum memahami bahwa kendaraan listrik tidak bisa didorong atau ditarik bebas seperti mobil biasa karena dapat merusak sistem inverter dan regenerative braking.
“Kalau pun harus dipindahkan, roda penggeraknya harus diangkat atau menggunakan towing khusus,” kata Jusri.
Ia juga menyoroti pentingnya memahami fungsi baterai 12V pada mobil listrik yang justru menjadi pusat kontrol sistem kendaraan.
“Kalau baterai kecil ini bermasalah, kendaraan bisa tidak bisa dinyalakan sama sekali walaupun baterai utamanya masih penuh,” jelasnya.
Pengguna Mobil Listrik Diminta Lebih Defensif di Jalan
Selain memahami teknologi kendaraan, pengguna mobil listrik juga diminta lebih defensif saat berkendara, terutama ketika melewati rel kereta, genangan air, atau area ramai.
Galih mengaku dirinya selalu menghindari berhenti terlalu lama di rel kereta dan berusaha menjaga jarak aman agar kendaraan bisa terus bergerak.
“Saya selalu mengusahakan kondisi depan itu jauh jaraknya. Jadi saya bisa jalan terus tanpa harus berhenti-berhenti,” ujarnya.
Baca juga: Ada Apa dengan MGS5 EV? 579 SPK tapi Cuma 96 Unit Terjual Sejak Peluncuran
Sementara Jusri mengingatkan bahwa karena mobil listrik tidak memiliki suara mesin seperti kendaraan konvensional, pengemudi harus lebih waspada terhadap pengguna jalan lain.
“Pengemudi EV harus lebih defensif, mengurangi kecepatan di area ramai, dan menggunakan klakson atau lampu secara bijak untuk memberi peringatan,” katanya.
Hal-Hal Penting yang Harus Diperhatikan Pengguna Mobil Listrik
Dalam wawancara bersama Indozone, Jusri memberikan hal-hal yang perlu diperhatikan buat kamu yang ingin memiliki mobil listrik. Hal ini diharapkan menjadi edukasi buat kamu yang berniat untuk membeli mobil listrik.
1. Pahami Karakter Mobil Listrik yang Berbeda dari Mobil Biasa
Meski bentuk dan dimensinya mirip dengan mobil konvensional, karakter berkendara mobil listrik sangat berbeda. Pengguna harus memahami bahwa respons kendaraan listrik jauh lebih instan karena seluruh sistemnya berbasis elektronik dan motor listrik.
2. Perhatikan Indikator “Ready” karena Mobil Listrik Tidak Bersuara
Mobil listrik hampir tidak memiliki suara mesin saat menyala. Karena itu pengemudi wajib memperhatikan indikator “ready” di dashboard agar tidak salah mengira kendaraan masih mati atau sudah aktif.
3. Waspadai Torsi Instan Saat Menginjak Pedal Gas
Mobil listrik memiliki torsi besar yang keluar secara spontan. Sedikit tekanan pada pedal akselerator bisa membuat kendaraan langsung melaju cepat. Pengguna baru disarankan beradaptasi secara perlahan agar tidak kehilangan kontrol.
4. Pahami Sistem Regenerative Braking
Mobil listrik memiliki sistem regenerative braking yang membuat efek engine brake terasa lebih kuat dibanding mobil konvensional. Pengemudi harus membiasakan diri dengan karakter pengereman ini agar tidak kaget saat berkendara.
5. Biasakan Membaca Warning System dan Dashboard
Pengguna EV wajib memahami berbagai indikator dan warning system di dashboard. Jangan mengabaikan tanda peringatan seperti:
- High temperature
- Power limited
- Gangguan baterai
- Error system kendaraan
Baca juga: 50 Tahun BMW 3 Series, Kini Bersiap Masuk Era Mobil Listrik
6. Pahami Kondisi Baterai dan Estimasi Jarak Tempuh
Sebelum bepergian jauh, pengguna harus memperhitungkan:
- Kapasitas baterai
- Estimasi jarak tempuh
- Lokasi charging station terdekat
Hal ini penting untuk mencegah kendaraan kehabisan daya di tengah perjalanan.
7. Gunakan Mode Eco atau Normal untuk Pengguna Baru
Pengguna yang baru pertama memakai mobil listrik disarankan menggunakan mode eco atau normal terlebih dahulu agar lebih mudah beradaptasi dengan karakter kendaraan.
8. Jangan Panik Saat Muncul Mode Proteksi Kendaraan
Mobil listrik memiliki sistem proteksi otomatis yang bisa membuat kendaraan tidak responsif sementara ketika terjadi gangguan tertentu. Jika muncul warning seperti suhu baterai tinggi atau tenaga dibatasi:
- Segera hentikan kendaraan di tempat aman
- Jangan memaksa kendaraan terus berjalan
- Hubungi customer service atau bengkel resmi
Baca juga: MG S5 EV Laris Manis, Pesanan Tembus 1.000 Unit Sejak IIMS 2026
9. Jangan Membongkar Sistem Kelistrikan Sendiri
Pengguna tidak boleh sembarangan memegang kabel atau mencoba memperbaiki sistem kelistrikan sendiri ketika terjadi error. Sistem high voltage pada EV memiliki risiko berbahaya jika ditangani tanpa pengetahuan teknis.
10. Pahami Fungsi Baterai 12V pada Mobil Listrik
Banyak orang hanya fokus pada baterai utama, padahal baterai kecil 12V justru menjadi pusat kontrol sistem kendaraan. Jika baterai 12V bermasalah, mobil bisa gagal menyala meskipun baterai utama masih penuh.
11. Pelajari Fitur Dasar dan Emergency Override
Pengguna wajib memahami fitur-fitur penting seperti:
- Auto lock system
- Electronic steering
- Regenerative braking
- Emergency override
- Mode berkendara
Pengetahuan ini penting agar pengguna bisa bertindak cepat saat terjadi kondisi darurat.
12. Siapkan Emergency Response Plan
Pengguna mobil listrik sebaiknya memiliki rencana darurat, seperti:
- Menyimpan nomor dealer atau bengkel resmi
- Mengetahui layanan towing khusus EV
- Memahami prosedur kendaraan mogok atau error system
Edukasi Produsen Dinilai Masih Kurang
Baik Agus Purwadi maupun Jusri Pulubuhu sama-sama menilai edukasi dari produsen kendaraan listrik di Indonesia masih perlu ditingkatkan.
Jusri menyebut edukasi mengenai fitur keselamatan dan prosedur darurat seharusnya menjadi bagian penting dari layanan produsen kepada konsumen.
“Kalau edukasi ini tidak dilakukan secara serius, justru bisa menjadi bumerang bagi industri kendaraan listrik sendiri,” ujar Jusri.
Baca juga: Daftar Warna Mobil yang Paling Digemari Masyarakat Indonesia
Ia menegaskan bahwa masyarakat harus memahami tiga hal utama sebelum menggunakan kendaraan listrik, yaitu memahami karakter kendaraan, memahami fitur keselamatan, serta memahami prosedur darurat ketika terjadi gangguan sistem.
“Kalau tiga hal itu dipahami dengan serius, maka penggunaan mobil listrik akan jauh lebih aman, nyaman, dan tidak menimbulkan kepanikan ketika terjadi gangguan di perjalanan,” tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara