INDOZONE.ID — Sore hari di masa kecilnya menjadi salah satu momen yang tak pernah benar-benar hilang dari ingatan Arief Kamarudin. Di tepi kali Ciliwung yang mengalir di kawasan tempat tinggalnya di Jakarta, ia kerap menghabiskan waktu bermain, mengamati air yang mengalir, hingga mencoba menangkap berbagai jenis ikan kecil yang hidup di dalamnya, termasuk salah satu ikan yang mencuri perhatiannya; ikan sapu-sapu.
Ikan sapu-sapu sendiri adalah sebutan untuk nama tersebut dalam bahasa Indonesia. Tapi berdasarkan jurnal ilmiah 'Aquaculture FIsh, and Fisheries' yang diterbitkan para ilmuwan Bangladesh, sebutan ilmiah ikan tersebut adalah hypostomus plecostomus, ikan air tawar yang eksis di area tropis yang termasuk dalam famili ikan lele lapis baja.
Dalam kepalanya, ia terus bertanya; mengapa saat mencari ikan di kali selalu yang terjaring di jalanya hanya ikan sapu-sapu yang tenyata merugikan bagi ekosistem perairan setempat.
“Awalnya suka main di Kali ya. Terus tiba-tiba punya kepudulian, karena ini kayaknya sapu-sapu ini kayaknya mengganggu ekosistem lah ibaratnya. Bisa dikategorikan hama lah gitu ya,” ujar Arief Kamarudin saat diwawancarai Indozone via telepon.
Selama perjalanan waktu, beberapa pertanyaan tentang ikan tersebut berbuah menjadi ketertarikan, ide konten, dan perlahan berubah menjadi keresahan. Ia mulai memperhatikan kondisi sungai yang tidak hanya dipenuhi ikan sapu-sapu, tetapi juga sampah dan limbah. Dari situ, muncul dorongan untuk memahami lebih jauh apa yang sebenarnya terjadi di ekosistem perairan perkotaan.
Baca juga: Serius Perangi Ikan Sapu-sapu, Pemprov DKI Perluas Area Operasi
“Concern saya kan sebenarnya kalau di kali Ciliwung itu ada tiga ya, yang utamanya, yaitu sampah, limbah, dan ikan invasif, sapu-sapu di antaranya,” ungkapnya.
Dari keresahan menjadi konten viral
Arief mengaku bahwa jauh sebelum aktif di media sosial, ia sudah memiliki keinginan untuk menyampaikan keresahan tersebut kepada publik. Namun, momen penting terjadi pada September 2025, ketika ia mengunggah konten tentang ikan sapu-sapu yang kemudian viral.
“Nah memang kebetulan pas saya tahun 2025 kemarin, September, saya bikin konten tentang sapu-sapu, disitu meledak tuh. Nah disitulah saya lihat, oh ini bisa jadi momentum nih untuk saya. ibarat kata curhat ke sosmed tentang apa yang terjadi di Ciliwung gitu sih,” katanya.
Dari titik itu, Arief mulai serius mengangkat isu ikan sapu-sapu sebagai bagian dari edukasi lingkungan, terutama terkait spesies invasif yang dianggap mengganggu keseimbangan ekosistem.
Di balik perannya sebagai penggiat konten lingkungan, Arief menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki latar belakang pendidikan biologi atau kelautan.
“Saya nggak ada background apa ya, saya kuliah biasa, S1 Sastra Inggris,” kata pemuda kelahiran 1991 tersebut yang menjaani profesi fotografer tersebut.
Meski demikian, konsistensinya mengangkat isu lingkungan dari pengalaman sehari-hari membuat isu ikan sapu-sapu kembali mendapat perhatian publik—dari sungai kecil di Jakarta hingga diskusi di level kebijakan dan akademik.
Bukan asli Indonesia dan masuk lewat perdagangan ikan hias
Dalam penelusurannya, Arief menemukan bahwa ikan sapu-sapu bukan spesies asli Indonesia. Informasi awal yang ia dapatkan berasal dari orang tua dan lingkungan sekitar yang sejak lama sudah memiliki stigma terhadap ikan tersebut.
Namun, setelah mendalami lebih jauh, termasuk berdiskusi dengan akademisi, ia mendapatkan penjelasan yang lebih ilmiah.
“Jadi awal mulanya sapu-sapu itu jadi komoditi ikan hias. Biasanya orang membeli di akurium gitu. Kemudian sudah besar, terus dilepas ke sungai ya,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa hingga saat ini belum ada kepastian tunggal mengenai pihak pertama yang membawa ikan tersebut ke Indonesia. Namun, teori paling umum menyebutkan bahwa ikan ini masuk melalui jalur perdagangan ikan hias internasional.
“Teorinya banyak. Salah satu yang paling umum itu,” tambahnya.
Baca juga: Predator Alami Ikan Sapu-sapu dan Fakta Unik di Balik Ketangguhannya
Salah satu anggapan yang sering beredar di masyarakat adalah bahwa ikan sapu-sapu berfungsi sebagai pembersih akuarium. Arief menilai hal tersebut merupakan kesalahpahaman yang sudah lama melekat.
Menurutnya, perilaku ikan yang memakan lumut di kaca akuarium membuatnya terlihat seperti “membersihkan”, padahal sebenarnya hanya aktivitas makan biasa.
“Dia itu lagi makan aja. Dan mungkin dari situlah berasal kata sapu-sapu. Menyapu,” ujarnya.
Dampak serius terhadap ekosistem sungai
Lebih jauh, Arief menegaskan bahwa ikan sapu-sapu termasuk spesies invasif yang dapat merusak keseimbangan ekosistem perairan. Ia menyebut ikan ini mampu mendominasi habitat sehingga mengganggu spesies lain dalam hal ruang hidup, makanan, hingga oksigen.
“Pertama, sapu-sapu merusak ekosistem iya, karena dia mendominasi ekosistem yang lain. Jadi kebagian tempat, kebagian makan,” katanya.
Baca juga: Kerja Bakti Tangkap Ikan Sapu-sapu di Jaktim, Warga Malah Temukan Pengguna Sabu-sabu
Tidak hanya itu, ia juga menyoroti dampak struktural terhadap lingkungan sungai. Berdasarkan penjelasan yang ia dapat dari peneliti, ikan sapu-sapu memiliki kebiasaan menggali lubang di tepi sungai untuk bertelur.
“Lubang yang kedalamannya bisa sekitar 90 cm, terus lebarnya bisa sekitar 10 cm, dan di satu tempat bisa ada 10-15 lubang,” ungkapnya.
Kondisi tersebut, menurut Arief, dapat membuat struktur lereng sungai menjadi tidak stabil dan meningkatkan risiko kerusakan.
Pernyataan Arief tidak hnya asal kecap sja, ia juga banyak mendapatkan masukan dari beberapa pkar tentang hewan air dan peneliti yang ia temui saat menjadi konten kreator. Tak hanya itu, dampak ekosistem dari Ikan sapu-sapu ini berulang kali dibahas di beberapa jurnal ilmiah.
Berdasarkan jurnal ilmiah 'The Environmental Impact of Hypostomus plecostomus: Assessing the Potential Harm to Water Species; yang dibuat Maruf Adnan, peneliti Bangladesh Agricultural University, ikan ini telah diidentifikasi sebagai spesies invasif di berbagai wilayah tempat ia diperkenalkan. Kemampuan adaptasi yang tinggi dan daya tahan terhadap kondisi lingkungan yang buruk membuat Hypostomus plecostomus dapat berkembang biak dengan cepat.
Akibatnya, ikan ini mampu mendominasi habitat baru dan bersaing dengan spesies asli dalam memperebutkan sumber daya. Kehadiran spesies invasif seperti ini dapat mengubah struktur ekosistem dan mengancam keanekaragaman hayati perairan.
Salah satu dampak utama adalah perubahan dinamika habitat. Perilaku makan ikan ini, yaitu mengikis alga dari permukaan, dapat mengganggu keseimbangan ekosistem. Aktivitas tersebut tidak hanya memengaruhi ketersediaan alga, tetapi juga berdampak pada tumbuhan air dan organisme kecil lainnya.
Baca juga: Itera Resmi Tetapkan Tiga Nama Calon Rektor Periode 2026-2030, Ini Daftarnya!
Selain itu, perubahan pada substrat dasar perairan dapat mengurangi tempat berlindung bagi organisme lain, sehingga mengganggu rantai kehidupan di dalam ekosistem karena menimbulkan persaingan dalam mendapatkan sumber makanan.
Dampak lain yang tidak kalah penting adalah potensi penularan penyakit. Sebagai spesies yang diperkenalkan, ikan ini dapat membawa patogen baru yang sebelumnya tidak ada di ekosistem tersebut. Masuknya penyakit baru dapat membahayakan kesehatan ikan lokal dan organisme lain, serta memperburuk kondisi ekosistem secara keseluruhan.
Bisa dimakan, tapi tergantung kondisi lingkungan
Lalu apakah ikan ini aman untuk dikonsumsi? Sampai saat ini, penjelasan ada berita tenang orang meninggal usai makan ikan sapu-sapu sanga minim. Isu kalau ikn sapu-sapu tidak bisa dikonsumsi juga belum bisa dipertanggung jawabkan.
Menurut Arief, secara biologis ikan sapu-sapu tersebut tidak beracun dan bahkan memiliki kandungan protein. Hal itu bisa terlihat dari beberapa ngara asing yang menjadikan ikan sapu-sapu dikonsumsi.
“Sapu-sapu itu tidak beracun. Ada penelitian yang mengatakan sapu-sapu itu punya kandungan protein yang tinggi,” katanya.
Beberapa nelayan di pinggir kali Ciliwung yang ternyata banyak yang menangkap ikan sapu-sapu untuk dikonsumsi dan dijual.
Baca juga: Predator Alami Ikan Sapu-sapu dan Fakta Unik di Balik Ketangguhannya
Namun, faktor lingkungan menjadi penentu utama keamanan konsumsi. Menurutnya, ikan yang hidup di perairan tercemar berpotensi menyerap polutan berbahaya, sehingga tidak aman untuk dikonsumsi.
Selain itu, keberadaan ikan tersebut tetap berdampak terhadap nelayan dan ekosistem lokal, termasuk rusaknya jaring dan penurunan populasi ikan lain.
Dorongan solusi: dari pemusnahan ke pemanfaatan
Melihat kompleksitas permasalahan, Arief menilai bahwa solusi tidak cukup hanya dengan upaya pemusnahan. Ia mendorong adanya pendekatan berbasis pemanfaatan dan riset lebih lanjut.
“Menurut saya yang paling efektif adalah bukan cuma dimusnahkan, tapi dimanfaatkan untuk hal yang positif,” katanya.
Ia mencontohkan kemungkinan pemanfaatan ikan sapu-sapu sebagai bahan pupuk atau produk lain yang memiliki nilai ekonomi, meski ide tersebut masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.
“Kalau misalnya ikan sudah punya nilai jual, orang pasti akan nangkep,” ujarnya.
Hal ini juga sejalan dengan kegiatan yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.yang melakukan penangkapan ikan sapu-sapu dan mencari solusi dengan memanfaatkan ikan sapu-sapu yang ditangkap.
Seperti yang diketahui, Pemprov DKI melakukan operasi pembersihan di Sungai Ciliwung, mulai dari sampah dan penangkapan ikan sapu-sapu secara serentak di berbagai wilayah Jakarta.
Baca juga: 6 Bahaya Makan Ikan Sapu-sapu Bagi Kesehatan yang Jarang Dibahas
Meskipun sempat mendapatkan kritikan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) karena pemusnahan dengan cara mengubur hdup-hidup, pihak Pemprov DKI akan mengavaluasi penanganannya, termasuk mencari memanfaatkannya.
""Mungkin kemarin penguburannya banyak yang belum mati. Untuk itu mungkin kami alpa, nanti kami evaluasi, benahi," kata Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno seperti yang dikutip dari ANTARA.
Adapun tindak lanjut hasil penangkapan yakni ikan dimatikan dan dikubur secara higienis di lokasi yang telah ditentukan. Langkah ini dilakukan agar ikan tidak kembali ke perairan, tidak diperjualbelikan, serta dapat dimanfaatkan sebagai kompos alami.
Rano mengusulkan pada jajarannya untuk menangani ikan sapu-sapu seperti di Brasil, yakni mengolahnya menjadi arang.
Arief sendiri setuju dengan beberapa solusi untuk memanfaatkan ikan sapu-sapu tersebut, mulai dari kompos ataupun dijadikan bahan tepung seperti yang diuraikan dalam beberapa riset. Hal ini tentunya akan membuat ikan sapu-sapu menjadi memiliki jual yan tinggi, sehingga akan banyak orang yang menangkap untuk dimanfaatkan ke sektor lain dan menghndari orang yang mengkonsumsi sekaligus menjaga ekosistem perairan di ingkungan sekitarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara, Analisis Redaksi