Sabtu, 28 MARET 2026 • 11:09 WIB

Lebaran dan 'Ritual Bahagia' di Tempat Wisata Jakarta yang Selalu Dirindukan

Author

Taman Margasatwa Ragunan ramai di libur lebaran. (Antara Foto/Putra M. Akbar)

INDOZONE.ID - Idul Fitri atau lebaran tidak cuma soal bercengkerama bersama keluarga tercinta setelah bermaaf-maafan, tapi juga liburan ke tempat wisata

Bagi sebagian orang, lebaran jadi waktu yang tepat untuk berlibur bersama keluarga tercinta meski harus rela berdesak-desakan di tengah keramaian. 

Namun, liburan pas lebaran tetap jadi pilihan terbaik, terutama bagi warga Jakarta. Itu diamini oleh Mochammad Rochim, salah satu penikmat wisata Jakarta.

Saat jalanan Jakarta masih sepi dari kendaraan, Rochim beserta keluarganya sudah menuju ke Taman Margasatwa Ragunan pada hari kedua lebaran, Minggu 22 Maret 2026.

Baca juga: Ragunan Jadi Primadona Libur Lebaran, Tembus 72 Ribu Orang dalam Sehari

Jika bagi kamu berwisata pas lebaran melelahkan, Rochim punya pandangan berbeda. Ia justru menilai berwisata pas lebaran bak ritual kebahagiaan bersama keluarga bagi warga Jakarta.

“Bagi saya, Ragunan, Monas, atau Ancol di hari kedua Lebaran itu bukan sekadar destinasi wisata,” kata Rochim kepada INDOZONE. 

“Ini semacam ritual kebahagiaan bersama keluarga bagi warga Jakarta,” jelasnya.

Lebaran soal Waktu

Tak seperti banyak warga Jakarta lainnya yang mudik ke kampung halaman, Rochim dan keluarganya adalah “pemain inti” yang justru berlebaran di ibu kota.

Usai menamatkan kegiatan wajib lebaran, seperti bermaaf-maafan dan mengunjungi sanak-saudara, Rochim memilih untuk menghabiskan waktu bersama keluarga di tempat wisata Jakarta.

Dari kacamata Rochim yang bekerja sebagai karyawan di perusahaan kawasan Palembang, Sumatra Selatan (Sumsel), libur lebaran memberikan waktu bersama keluarga di Jakarta yang sebelumnya susah didapatkan. 

Bagaimana tidak, saat dirinya libur bekerja sehingga bisa kembali ke Jakarta, anak-anak juga tidak masuk sekolah selama libur lebaran.

Oleh sebab itu, bagi Rochim, libur lebaran jadi waktu berkualitas untuk dihabiskan bersama keluarga. Ragunan jadi pilihannya untuk membuat memori indah bersama anak-anak dan istrinya.

“Ini momen yang pas banget buat menikmati waktu sama anak-anak dan istri. Soalnya walaupun ada libur sekolah, kita yang kerja, apalagi di luar kota, kan nggak selalu punya waktu,” beber Rochim.

Keputusan Rochim memaksimalkan libur lebaran di tempat wisata untuk menghabiskan waktu bersama keluarga, dapat dipahami dari sisi psikologis.

Berbicara kepada INDOZONE, Psikolog Kasandra Putranto menilai liburan setelah masa kerja intens bukan sekadar keinginan tapi kebutuhan psikologis. 

Taman Margasatwa Ragunan ramai di libur lebaran. (Antara Foto/Putra M. Akbar)

“Liburan berfungsi sebagai fase pemulihan untuk mengembalikan energi, menurunkan stres, dan memulihkan keseimbangan psikologis. Itulah sebabnya banyak orang merasa sangat membutuhkan liburan setelah masa kerja yang intens bukan sekadar keinginan, tetapi memang kebutuhan psikologis agar dapat berfungsi kembali secara optimal,” jelas Kasandra.

Senada dengan Kasandra, Psikolog Tika Bisono pun menilai mengunjungi tempat wisata bersama keluarga dalam momen libur lebaran, sebagai kesempatan emas untuk mempererat hubungan antaranggota keluarga sehingga harus diupayakan.

Baca juga: Amankan Lebaran Ketupat 2026: Kapolres Gorontalo Instruksikan Warga Jauhi Miras hingga Knalpot Brong

“Pemaknaan bahwa hari-hari besar itu (seperti lebaran -red-) adalah hari-hari bonding nasional. Nah, jadi pemaknaan hari-hari bonding nasional, mau gak mau harus diupayakan melakukan sesuatu yang bersama-sama gitu loh,” beber Tika.

Tempat Wisata Ramai? Bukan Masalah

Keputusan Rochim berlibur bersama keluarga pas libur lebaran, diiringi risiko berdesak-desakan dengan pengunjung lainnya.

Apa keramaian dan tantangan berdesak-desakkan menghentikan Rochim? Jawabannya, tidak.

Bagi sebagian orang, membayangkan ada di tengah keramaian di tempat wisata, terasa amat melelahkan. Akan tetapi, Rochim tidak memandang keramaian di tempat wisata sebagai masalah.

Rochim justru merasakan kehangatan yang unik dari keramaian di tempat wisata urban, seperti Ragunan. 

Ia punya pandangan menarik, yang menganggap keramaian itu bak perayaan kolektif terhadap hari kemenangan setelah sebulan berpuasa. Rochim menyebutnya sebagai kemenangan yang terasa sah.

"Memang bagi sebagian orang, kerumunan ribuan manusia itu terdengar melelahkan. Tapi bagi penikmat wisata urban, ada kehangatan yang unik di sana. Ada semacam validasi bahwa 'kemenangan' setelah puasa itu baru terasa sah kalau dirayakan ramai-ramai di ruang publik yang menjadi milik bersama,” ungkap Rochim.

“Walaupun padat, momen anak-anak lari di pasir atau ketawa lihat hewan itu adalah pemandangan paling mewah di Jakarta saat Lebaran,” lanjutnya.

Keramaian memang bukan masalah jika yang dicari adalah momen untuk bersama keluarga. Bahkan, Kasandra menilai nilai negatif keramaian akan berkurang dalam sudut pandang tersebut karena dampak positifnya lebih besar.

“Terjebak dalam keramaian menjadi berkurang nilai negatifnya, karena nilai positifnya dirasakan lebih besar,” ungkap Kasandra.

Ia pun menyatakan bahwa kerelaan orang berlibur ke tempat wisata yang ramai kala lebaran, juga dipengaruhi oleh kebiasaan dan budaya dalam keluarganya.

Taman Margasatwa Ragunan ramai di libur lebaran. (Antara Foto/Putra M. Akbar)

Jika seseorang terbiasa berwisata pas lebaran sewaktu kecil, ia akan melakukan hal serupa saat sudah dewasa bersama keluarganya. Kebiasaan tersebut akan dianggap sesuatu yang benar untuk merayakan hari spesial.

Baca juga: Kelompok Difabel Jadi Sasaran Baznas dalam Penyerahan Bantuan Dana Jelang Lebaran

Tak ayal, hal-hal yang bagi orang lain merepotkan, seperti keramaian, kemacetan, dan antrean, justru jadi unsur untuk mempererat hubungan antaranggota keluarga.

Kasandra menegaskan, bahwa kelelahan saat berwisata di tempat ramai jadi harga yang pantas dan benar secara emosional serta sosial.

“Dalam konteks ini, kelelahan tidak dipandang sebagai kerugian, tetapi sebagai harga yang wajar untuk pengalaman yang dianggap berharga secara emosional dan sosial,” tuturnya.

Seperti Kasandra, Tika pun menilai keramaian di tempat wisata kala lebaran tidak lagi menjadi beban bagi keluarga yang mencari waktu berkualitas.

Ia justru menilai keramaian dan momen antrean mengular di tempat wisata, memberikan pengalaman berarti bagi sebuah keluarga yang tidak didapatkan pada hari-hari biasa.

“Ramai itu bukan masalah, justru ada tambahan hal lain secara psikologis. Dengan sesak-sesakan itu, keluarga mengalami hal yang sangat berbeda ketimbang hari-hari biasa. Jadi, orang akhirnya bukan lagi hanya menikmati tempat wisata, tapi ingin mengalami hari-hari yang gak biasa itu,” ungkap Tika.

Wisata Murah, Bahagia Maksimal

Kamu harus tahu, peningkatan jumlah pengunjung terjadi di berbagai tempat wisata Jakarta pada periode libur lebaran.

Ambil contoh, Ragunan yang pada hari kedua lebaran dikunjungi oleh 72.311 pengunjung. Peningkatan terjadi pada H+2 lebaran dengan jumlah pengunjung menyentuh 80.790 orang.

Sebelumnya, pengelola Ragunan telah memprediksi 400.000 pengunjung akan datang pada masa libur lebaran tahun ini, yaitu pada 22 hingga 29 Maret 2026.

Peningkatan serupa juga terjadi di tempat wisata lainnya di Jakarta, seperti Ancol yang dikunjungi 201.465 orang selama libur lebaran sejak 21 hingga 24 Maret 2026. Pantai jadi destinasi favorit di Ancol, disusul Dunia Fantasi, Sea World, dan Samudra.

Peningkatan itu menunjukkan, bahwa berlibur ke tempat wisata pas lebaran memang telah menjadi budaya bagi sebagian orang. 

Apalagi, biaya mengunjungi tempat-tempat wisata tersebut cukup terjangkau. Rochim menilai, tempat-tempat wisata Jakarta tersebut menawarkan hiburan ramah kantong tanpa harus memikirkan biaya perjalanan ke luar kota yang bisa lebih mahal atau terjebak macet horor.

"Ragunan dengan tiketnya yang sangat merakyat, Monas yang jadi simbol Jakarta, dan Ancol yang menawarkan angin segar laut adalah 'katup pengaman' bagi warga Jakarta untuk melepas penat tanpa harus pusing memikirkan biaya perjalanan ke luar kota yang pasti lebih horor macetnya,” kata Rochim.

Baca juga: Arus Balik Lebaran 2026 Mulai Terasa di Bandara Abdul Rachman Saleh, Rute Jakarta Meningkat

Tempat Wisata Jakarta Masih Punya Catatan: Yuk, Naik Kelas

Rochim dan keluarganya menikmati liburan di tempat wisata Jakarta. Keramaian bahkan bukan masalah baginya.

Namun, ia tetap punya catatan yang diharapkan bisa meningkatkan kualitas pelayanan setiap tempat wisata di ibu kota.

Taman Margasatwa Ragunan ramai di libur lebaran. (Antara Foto/Putra M. Akbar)

Salah satu yang paling disorotnya, adalah sistem masuk. Ia menilai sistem masuk tempat wisata harus disederhanakan sehingga mempermudah setiap orang yang ingin berkunjung.

“Kalau bisa, booking-nya jangan bikin pusing. Satu aplikasi buat semua akses akan jauh lebih praktis,” ujarnya yang juga menyoroti pentingnya QR Code yang responsif supaya antrean nggak mengular panjang.

Kritik lain dari Rochim ialah soal fasilitas pendukung, seperti toilet, baik soal ketersediaan air maupun kebersihannya. Ia juga berharap musala diperluas hingga penambahan fasilitas yang mendukung teman-teman difabel.

"Toiletnya ditambah, jangan cuma di titik tertentu saja. Kebersihannya juga dijaga, jangan sampai bau atau airnya mati saat pengunjung lagi puncak-puncaknya. Mushola juga perlu diperluas biar salatnya tidak perlu antre satu jam,” ujar Rochim.

Baca juga: Pasca Lebaran, Disdukcapil Banda Aceh Tunjukkan Disiplin Tinggi

"Perbanyak jalur bidang miring untuk kursi roda dan stroller. Jangan banyak anak tangga yang tinggi-tinggi. Fasilitas shuttle atau kereta mini juga harusnya lebih banyak dan diprioritaskan untuk yang membutuhkan,” tuturnya.

Tak lupa, ia menambahkan, bahwa para pedagang sebaiknya ditata ke tempat tertentu yang memperindah tempat wisata. Selain itu, ia menginginkan ada transparansi harga sehingga tidak ada drama kaget saat membayar.

"Pedagangnya ditata di area khusus yang estetik, jangan sampai menutup jalur pejalan kaki. Dan yang paling penting, harganya harus transparan, ada daftar harganya supaya kita tidak kaget saat bayar,” jelas Rochim.

Selain itu, Pemerintah Daerah (Pemda) DKI Jakarta juga seharusnya menambah destinasi wisata di ibu kota. Jadi, kala libur-libur nasional tiba, masyarakat punya banyak pilihan tempat wisata sehingga kerumunan pun bisa terpecah ke beberapa titik.

Pada akhirnya, berwisata di Jakarta saat lebaran bukan soal destinasi yang megah atau foto Instagramable semata.

Ini tentang momen-momen kecil yang sering terlewat di hari biasa, seperti ketawa bareng, jalan santai tanpa buru-buru, atau sekadar duduk sambil lihat anak-anak bermain.

Seperti kata Rochim, ini bukan sekadar main ke tempat wisata pas lebaran, melainkan ritual kebahagiaan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wawancara, Liputan, Antara

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU