Memanfaatkan Panggung Digital Tanpa Terjerat Algoritma: Tantangan Musisi Skena di Era Media Sosial
INDOZONE.ID - Sebuah toko musik di kawasan Sunter, Jakarta Utara di Sabtu siang yang cerah seketika berubah fungsi. Tak lagi sekedar menjadi tempat transaksi jual beli alat musik, tapi menjadi panggung dari salah satu band rock Indie untuk keperluan konten di media sosial.
Bobby Rizkiawan, pentolan dari Kraskombat, grup rock dengan semangat indie mencoba konsep promosi musik dengan membuat video manggung di toko musik tersebut yang dianggap unik dan terinspirasi dari konten musisi lainnya, tapi dengan konsep yang segar.
Hasilnya, video ini menarik minat fans musik mereka sendiri dan membutikan strategi branding yang unik dapat membuat nama musik dan karya mereka mendapat atensi lebih. Seuatu yang mungkin tidak mungkin terjadi di era sebelum ada media sosial.
“Pengaruhnya sangat besar untuk hari dan era ini, kita benar-benar bebas beradu kreativitas tanpa koridor yang industri beda sebelumnya ciptakan. Gue ngerasa musiknya bisa menjangkau audiens lintas negara berkat medsos, coba kalau era TV maupun mainstream masih menguasai. Jangkau merata audiens skala nasional aja belum tentu bisa,” jelasnya.
Baca juga: 10 Genre Musik dan Karakteristiknya yang Paling Sering Didengar, Wajib Tahu!
"Bukti kongkritnya adalah gue bersama band gue mendapatkan progress ada aja yang ngajakin undang manggung maupun undang kegiatan lain yang berkorelasi dengan musik, dari circle yang gak dikenal. Hasil dari band gue aktif ngonten," tambahnya.
Strategi yang dilakukan Kraskombat itu hanya contoh kecil yang dilihat Indozone secara langsung. Mereka banyak terinspirasi dengan beberapa musisi indie lainnya yang menggunakan kekuatan media sosial untuk membawa musik mereka lebih dikenal orang yang harus dikerjakan mandiri tanpa bantuan label besar yang biasanya sudah mengurus semua.
Sebut saja nama Tenxi dan Naykilla yang memanfaatkan media sosial sebagai paltform mereka memperkenalkan karya yang sekarang dikenal dengan istilah hipdut (hiphop dangdut). Atau nama Silet Open Up, musisi asal Indonesia Timur yang melejitkan lagu 'Tabola-bale' lewat platform media sosial.
Atau sosok Baskara Putra yang dikenal dengan proyek musik skena lewat Hindia,.Feast, hingga Lomba Sihir. Hampir pengguna media sosial, terutama Gen Z yang tidak terjun ke komunitas musik indie mendadak menjadi idola baru anak muda era sekarang.
Media sosial membuka peluang promosi para musisi di atas yang sebelumnya tak terbayangkan. Sebuah wadah terbaru di industri musik Tanah Air yang wajahnya terus berevolusi seiring perkembangan zaman.
Baca juga: Chord Gitar dan Lirik Lesung Pipi Raim Laode yang Viral di Media Sosial
Evolusi media sosial berdasarkan fungsi
Sepanjang perjalanannya, media sosial turut mengikuti perkembangan zaman melalui teknologi dan inovasi yang terus terjadi di era digital. Khususnya sisi fungsinya di industri kreatif.
Pakar komunikasi Bhekti Setyowibowo, S.Ikom, M.Si yang juga sebagian dosen Ilmu Komunikasi di BINUS Malang mengungkapkan perubahan fungsi tersebut yang akhirnya menyebar secara masif.
"Fungsi sebenarnya kan kalau melihat dari istilahnya itu media sosial atau media bersosial. Dengan kata lain wadah untuk beraktifitas sosial seperti menyapa, ngobrol, silaturahmi dengan teman lama, melalui chatting. berbagi kabar dengan status dan foto bahkan video. Dan yang paling mendasar berjejaring membangun relasi berbasis minat dan kedekatan," kata Bhekti saat dihubungi Indozone beberapa waktu lalu.
Mungkin sekitar 15 tahun lalu, saat media sosial bermunculan, para penggunanya hanya tahu media sosial hanya sekedar untuk mencari teman baru. Sampai suatu saat, fungsinya bertambah dan akhirnya mengendap ke benak masyarakat.
"Sejak kapan bergeser secara masif? Sejak muncul istilah konten dan konten kreator yang artinya konten benar-benar diciptakan karena ada unsur kepentingan. Mulai kepentingan exposure sampai akhirnya komersil. Berjejaring memaknai bagaimana kita bisa mengenalkan sesuai ke orang baru (marketing), terus setelah orang tahu akhirnya terjadi transaksi (selling), setelah itu bagaimana orang akhirnya mengingat kita (branding). Tahapan itulah yang menurut saya menjadi turning point pergeseran fungsi," tambahnya.
Evolusi industri musik memilih platform
Sejalan dengan masuknya era disrupsi, industri musik juga mengalami perubahan dalam segi berbisnis. Di era digital ini, kesempatan untuk memainkan berbagai macam jenis musik lebih dimudahkan berkat adanya platform sosial media, tanpa perlu melibatkan label musik besar untuk memperkenalkan karyanya.
Founder WaraMusika, Dzulfikri Putra Malawi yang juga menjabat sebagai Asisten Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif membagi beberapa timeline industri musik Tanah Air di era sebelum media sosial sampai masifnya berbagai platform yang kini dimanfaatkan semua orang.
Baca juga: Tisu Magic dan Ilusi Keperkasaan: Apa yang Sebenarnya Dicari Lelaki?
"Era sebelum sosmed masuk, bisnis musik dikuasai oleh label-label besar. Mulai dari produksi sampai promosi mereka punya perangkatnya. Lalu semua band berlomba untuk dapat disign oleh major label agar bisa menjalankan bisnisnya," kata Dzulfikri saat diwawancara Indozone. "Band-band major label saat itu, revenue streamnya itu bisa banyak banget. Dari penjualan lagu di film, dealing brand, merch, RBT, karaoke,dan lain-lain. Royalti nya bener-bener dikelola."
Sementara itu, para musisi yang tidak dikontrak oleh major label akhirnya memutuskan untuk merilis secara mandiri. Dalam konteks karya, mereka dapat merilis karyanya dengan baik tapi dalam konteks bisnis mereka banyak keteteran karena tidak ada perangkat yang mendukung dan mumpuni untuk menjalankan bisnisnya.
"Jadi revenue mereka murni dari panggungan dan merch saja. Kalau pun ada brand mungkin rejeki mereka bagus, bisa deal sendiri," jelasnya.
Ketika era media sosial masuk, dengan adanya 'panggung digital', seolah menjadi jadi titik balik band-band indie bisa lebih berkibar karena mulai dapat akses pendengar dari upaya yang dilakukan mereka masing-masing lewat sosmed.. Genre musik yang sudah beragam, lebih mudah terekspos ke pendengar.
"Major label akhirnya menyesuaikan dengan selera-selera netizen yang dianggap makin mendengarkan musik-musik. Akhirnya dianggap mereka meniru musik-musik indie. Padahal engga, mereka melakukan business as usual saja tapi justru bisa merespon selera pendengar. Ga hanya satu genre tertentu saja yang diproduksi." jelas Dzul.
Baca juga: Armand Maulana Ungkap Resolusi 2026, Dorong Revisi UU Hak Cipta Demi Ekosistem Musik
Hal yang senada juga diutarakan oleh pentolan GIGI, Armand Maulana yang malang melintang di industri musik Tanah Air. Perbedaan zaman dan perubahan wadah untuk mempromosikan karya yang membuat banyak musisi skena bisa bersanding dengan musisi arus utama.
"Media sosial itu kan sekarang itu perubahannya itu jadi punya jalur sendiri-sendiri ya. Dengan adanya dunia digital dan berubah total dari fisik ke digital,. Dulu itu kan yang memegang peranan penting dan menyetir industri itu TV, radio, dan majalah," kata Armand kepada Indozone.
"Nah, kalau sekarang itu kan gara-gara dengan digital semua lagu dirilis di platform digital semua orang punya handphone. dan di handphone, di tab atau di komputer itu, kita mempunyai kuasa untuk mendengarkan musik apa aja yang kita mau," tambahnya.
Hal inilah yang menyebabkan pendengar musik dengan berbagai selera bebas untuk mendengar apa yang dia suka, yang akhirnya menjadi jalan masuk untuk para musisi indie untuk memanfaatkan komunitasnya dan media sosial.
Algoritma: dilema atau tantangan?
Di tengah kemudahan media sosial untuk berkarya, kini muncul satu momok di media sosial bernama algoritma. Sebuah sistem di paltform media sosial yang menentukan konten mana yang muncul dan mana yang hilang.
Dalam sebuah diskusi di beberapa platform tentang keterkaitan algoritma dan ekosistem musik, munculah isu terkait dampak yang nantinya mempengaruhi hasil karya sang musisi itu sendiri. Salah satunya adalah karya yang dihasilkan dicoba semenarik mungkin mengikuti pola algoritma, seperti meniru musik yang paling tren dan melupakan sisi kreatif dan ekspresi sesungguhnya dari sang musisi.
Sebuah artikel di The Guardian beberapa waktu lalu sempat mengungkap isu tentang bagaimana Tiktok, media sosial yang populer saat ini telah membebani para musisi untuk berkarya, khusus para musisi major label.
Baca juga: Timurnesia Jadi Nama 'Genre' Musik Timur, Bermula dari Podcast Deddy Corbuzier
Musisi dan penyanyi seperti Halsey dan Florence Welch telah mengeluh tentang ekspektasi label bahwa mereka harus menggunakan platform tersebut untuk mempromosikan musik yang akan datang. Artis lain berpendapat bahwa label cenderung menahan lagu sampai lagu tersebut mendapatkan cukup popularitas di TikTok.
Para kritikus mengatakan bahwa TikTok mendorong para seniman untuk menciptakan jenis musik tertentu yang tampaknya dirancang untuk menjadi viral. Seringkali, taktik ini berhasil, namun menghilangkan sentuhan ideal karena terbuai untuk mendapatkan lagu yang hanya jadi tren sementara.
Hal itu juga disunggung pakar komunikasi digital Bhekti yang menyebutkan karya yang terpaku dengan algoritma akan berdampak buruk bagi para musisi yang nantinya hanya terpaku dengan bisnis yang sudah ada dan membatasi ekspresi jiwa sesungguhnya.
"Secara umum dampaknya karya hanya dinilai dari performa, kreativitas jadi ikut tren, ekspresi dibatasi algoritma, hingga budaya jadi dangkal," kata Bhekti lebih jauh.
Ia juga menjabarkan beberapa sisi negatif akan kondisi seperti ini. Mulai dari kreator mengejar viral, munculnya konten yang mirip dan seragam, melupakan makna dari karyanya dan tak jujur, sehingga pada akhirnya stamina para musisi untuk menghasilkan karya menjadi mudah lelah.
Baca juga: Antonim dalam Bahasa Indonesia: Pengertian, Jenis, dan Contoh Lengkap
Hal ini juga terlihat di media sosial ketika beberapa lagu dari para musisi Indonesia Timur (yang kini disebut dengan Timurnesia) viral secara global. Banyak musisi lain yang mencoba mengikuti jejak mereka. Perbicangan netizen tentang lagi Toton Kribo berjudul 'Ora Urus' dan frasa unik 'Tor Monitor' dipakai oleh musisi lain yang diduga kehilangan kreativitas demi algoritma dan mesin pencarian di platform tertentu.
Sebuah dilema, tentunya.
"Algoritma membantu menyebarkan karya. Algoritma juga bisa membatasi arah karya," kata Bhekti Setyowibowo.
Sementara itu, Dzulfikri menyebutkan bila mengikuti algoritma sah-sah saja, karena merupakan bagian dari strategi bisnis semata.
"Menurut saya ini pilihan. Bisnis. Balik lagi ke musisinya, mau follow kondisi dan cara mainnya di era digital atau tetap bertahan dengan ruang nyaman mereka berkreasi ya sah-sah aja. Dan biasanya mereka juga udah sadar sendiri, bahwa musik mereka dengan market mereka itu relatenya gimana," kata Dzulfikri.
"Yang keliru, kalau mereka seakan "menggadaikan" idealismenya untuk industri dan ketika gak diterima di pendengar kemudian komplain dan nyerah," kata Dzul.
Musisi skena tak terpengaruh algoritma
Pada kenyataannya, para musisi indie atau skena seolah tak tunduk dengan algoritma media sosial. Rasa idelalisme mereka bukan mencari wadah untuk viral dan tenar, tapi untuk memperkenalkan karya dan mendekatkan diri dengan orang lain.
Bisa dilihat dari kasus grup musik keras asal Amerika Serikat, Turnstile yang membawakan genre hardcore dan The Paradoxo yang memainkan pop punk. Keduanya bisa dikenal dengan platform sosial media tanpa mengikuti selera pasar. Bahkan komunitasnya yang membuat mereka terkenal di media sosial.
Hal yang sama juga terlihat dari trio punk rock Sukses Lancar Rezeki yang mendadak viral, padahal musiknya bukan jenis yang direkomendasi algoritma media sosial. Cukup memasukkan konten lagu mereka, perfomance dan pribadi mereka dan biarkan orang lain yang membuat mereka tenar.
Baca juga: Wajib di Playlist, 5 Rekomendasi Lagu Skena Abis
"Ketika si musik itu sebuah genre itu komunitasnya kuat, itu akan menjadi sebuah musik yang akhirnya jadi dari komunitas akhirnya jadi kuat, akhirnya bisa menyamai dengan yang major secara industri gitu," kata Armand Maulana.
Pada akhirnya, tantangan terbesar bagi musisi skena di era media sosial bukan sekadar soal menaklukkan algoritma, melainkan menentukan sejauh mana teknologi boleh memengaruhi arah berkarya. Panggung digital dapat menjadi alat yang memberdayakan jika dimanfaatkan dengan kesadaran kritis, bukan tujuan akhir yang mengorbankan identitas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara, Analisis Redaksi