Ilustrasi menonton konser musik (Foto: Pexels/Wendy Wei)
INDOZONE.ID - Industri konser musik di Indonesia sempat menjadi sorotan di kuartal pertama dan kedua di 2025. Meskipun geliat hiburan sempat menunjukkan tren positif di dua tahun ke belakang, namun publik sempat menyangsikan akan kondisi di balik panggung yang tidak sepenuhnya baik-baik saja.
Mulai dari berita tentang maraknya promotor nakal yang tidak profesional, kondisi ekonomi Indonesia yang tidak baik-baik saja, hingga tingkat keamanan dan kenyamanan yang membuat banyak artis mancanegara untuk konser di Indonesia dan masih banyak lagi.
Tak jarang kita mendengar penjualan tiket bermasalah hingga perubahan venue tanpa kejelasan—sehingga menimbulkan kekecewaan publik dan merusak kepercayaan penonton. Masalah ini tidak hanya berdampak pada pengalaman penonton, tetapi juga menghambat kemajuan industri yang seharusnya bisa menjadi andalan sektor ekonomi kreatif nasional.
Di saat yang sama, tekanan ekonomi ydengan melemahnya daya beli masyarakat dan ketidakpastian kondisi makr, telah membuat publik semakin selektif dalam membelanjakan uang mereka untuk hiburan. Tiket konser yang kian mahal pun menjadi beban tersendiri, sehingga banyak mata kini tertuju pada penyelenggaraan konser musik di tahun ini.
Masyarakat menuntut transparansi, profesionalisme, dan kualitas penyelenggaraan yang lebih tinggi, sementara para promotor dihadapkan pada tuntutan untuk berinovasi dalam situasi yang serba terbatas.
Baca Juga: Dampak Konser Internasional di Indonesia: Keseruan di Panggung Bikin Negara Untung
Kendati seperti itu, industri konser musik sebenarnya bisa menjadi salah satu sektor yang menunjukkan optimisme. Sudah berapa banyak konser yang digelar mulai Januari hingga Mei 2025. Tiga bintang dunia Maroon 5, Linkin Park dan Greenday mengguncang Jakarta di awal tahun 2025. Belum lagi idol Kpop seperti Seventeen dan NCT 127 yang konsernya tak pernah surut dari penggemar. Hal ini menunjukkan sisi optimisme dari Indonesia ini karena membantu berbagai sektor bidang seperti ekonomi kreatif, pariwisata hingga UMKM.
Di tengah tantangan makroekonomi, dunia konser dan festival musik membuktikan dirinya sebagai sektor yang resilien, adaptif, dan mampu mendorong roda ekonomi kreatif Indonesia tetap berputar dengan semangat yang kuat.
(ANTARA/Lia Wanadriani Santosa)
Bagi banyak orang, pengelaman menonton konser bukan untuk hiburan, tetapi juga pelarian emosional, aktualisasi diri, hingga gaya hidup. Meskipun dalam situasi ekonomi yang mengalami pelemahan dimana masyarakat harus cerdas menentukan skala prioritas, konser musik tetap memiliki pasarnya sendiri karena ada kelompok individu yang membutuhkan hal itu.
Kebutuhan akan aktualisasi diri merupakan kebutuhan yang paling tinggi tingkatannya seperti yang diungkapkan daro teori kebutuhan Maslow, yang dikutip dari buku 'Manusia Utuh: Sebuah Kajian atas Pemikiran Abraham Maslow' karya Hendra Setiawan, kebutuhan aktualisasi diri merupakan kebutuhan dimana individu tersebut sudah memenuhi kebutuhan fisiologis, kebutuhan keamanan, kebutuhan sosial, hingga kebutuhan self-esteem. Individu seperti inilah yang disurvey dan menjadi target market para promotor konser.
Baca Juga: Peduli Disabilitas, Dico akan Bawa Penerjemah Bahasa Isyarat ke Konser Musik!
Salah satu penikmat konser Dewi Nurcolis Majid, menyebutkan selain menyukai artisnya yang tampil, alasan suka menonton konser adalah pelarian emosionalnya.
"Saat nonton konser dan setelah nonton konser saya melupakan sejenak permasalahan kehidupan saya dan lebih berenergi," kata Dewi saat ditanya Indozone.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara, Analisa Redaksi