Rabu, 21 MEI 2025 • 20:08 WIB

Optimisme Promotor di Tengah Problematika Lapangan: Industri Konser di Jakarta Masih Aman

Author

Ilustrasi menonton konser musik (Foto: Pexels/Wendy Wei)

INDOZONE.ID - Industri konser musik di Indonesia sempat menjadi sorotan di kuartal pertama dan kedua di 2025. Meskipun geliat hiburan sempat menunjukkan tren positif di dua tahun ke belakang, namun publik sempat menyangsikan akan kondisi di balik panggung yang tidak sepenuhnya baik-baik saja.

Mulai dari berita tentang maraknya promotor nakal yang tidak profesional, kondisi ekonomi Indonesia yang tidak baik-baik saja, hingga tingkat keamanan dan kenyamanan yang membuat banyak artis mancanegara untuk konser di Indonesia dan masih banyak lagi.

Tak jarang kita mendengar penjualan tiket bermasalah hingga perubahan venue tanpa kejelasan—sehingga menimbulkan kekecewaan publik dan merusak kepercayaan penonton. Masalah ini tidak hanya berdampak pada pengalaman penonton, tetapi juga menghambat kemajuan industri yang seharusnya bisa menjadi andalan sektor ekonomi kreatif nasional.

Di saat yang sama, tekanan ekonomi ydengan melemahnya daya beli masyarakat dan ketidakpastian kondisi makr, telah membuat publik semakin selektif dalam membelanjakan uang mereka untuk hiburan. Tiket konser yang kian mahal pun menjadi beban tersendiri, sehingga banyak mata kini tertuju pada penyelenggaraan konser musik di tahun ini.

Masyarakat menuntut transparansi, profesionalisme, dan kualitas penyelenggaraan yang lebih tinggi, sementara para promotor dihadapkan pada tuntutan untuk berinovasi dalam situasi yang serba terbatas.

Baca Juga: Dampak Konser Internasional di Indonesia: Keseruan di Panggung Bikin Negara Untung

Kendati seperti itu, industri konser musik sebenarnya bisa menjadi salah satu sektor yang menunjukkan optimisme. Sudah berapa banyak konser yang digelar mulai Januari hingga Mei 2025. Tiga bintang dunia Maroon 5, Linkin Park dan Greenday mengguncang Jakarta di awal tahun 2025. Belum lagi idol Kpop seperti Seventeen dan NCT 127 yang konsernya tak pernah surut dari penggemar. Hal ini menunjukkan sisi optimisme dari Indonesia ini karena membantu berbagai sektor bidang seperti ekonomi kreatif, pariwisata hingga UMKM.

Di tengah tantangan makroekonomi, dunia konser dan festival musik membuktikan dirinya sebagai sektor yang resilien, adaptif, dan mampu mendorong roda ekonomi kreatif Indonesia tetap berputar dengan semangat yang kuat.

Semua konser memiliki target marketnya

(ANTARA/Lia Wanadriani Santosa)

Bagi banyak orang, pengelaman menonton konser bukan untuk hiburan, tetapi juga pelarian emosional, aktualisasi diri, hingga gaya hidup. Meskipun dalam situasi ekonomi yang mengalami pelemahan dimana masyarakat harus cerdas menentukan skala prioritas, konser musik tetap memiliki pasarnya sendiri karena ada kelompok individu yang membutuhkan hal itu.

Kebutuhan akan aktualisasi diri merupakan kebutuhan yang paling tinggi tingkatannya seperti yang diungkapkan daro teori kebutuhan Maslow, yang dikutip dari buku 'Manusia Utuh: Sebuah Kajian atas Pemikiran Abraham Maslow' karya Hendra Setiawan, kebutuhan aktualisasi diri merupakan kebutuhan dimana individu tersebut sudah memenuhi kebutuhan fisiologis, kebutuhan keamanan, kebutuhan sosial, hingga kebutuhan self-esteem. Individu seperti inilah yang disurvey dan menjadi target market para promotor konser.

Baca Juga: Peduli Disabilitas, Dico akan Bawa Penerjemah Bahasa Isyarat ke Konser Musik!

Salah satu penikmat konser Dewi Nurcolis Majid, menyebutkan selain menyukai artisnya yang tampil, alasan suka menonton konser adalah pelarian emosionalnya.

"Saat nonton konser dan setelah nonton konser saya melupakan sejenak permasalahan kehidupan saya dan lebih berenergi," kata Dewi saat ditanya Indozone.

Denge kebutuhan seperti itu, mereka rela mengatur keuangannya agar bisa menikmati musik yang dimainkan artis idolanya.

Selain Dewi, salah satu penikmat konser artis mancanegara Lia Nurida sudah memiliki strateginya sendiri dalam mengatur keuangan agar bisa memenuhi kebutuhan tersebut. 

"Kalau dulu waktu masih kerja kantoran, aku nyisihin dana hiburan perbulan, khusus buat nonton konser-konser festival/solo lokal. Jadi pas mau nonton, udah tinggal langsung berangkat atau beli tiket aja. Kalau sekarang, karena freelance, nggak selalu ada dananya, jadi biasanya nunggu band/artis yang bener-bener pengen ditonton, baru deh nonton," ujar Lia kepada Indozone.

Contoh dua penikmat konser di atas membuktikkan konser musik masih tetap memiliki konsumer yang loyal yang menandakan industri ini sehat dan memiliki targetnya.

Pengamat musik Mudya Mustamin menyebutkan ada beberapa jenis konser yang semuanya memiliki target pasarnya masing-masing.

Baca Juga: 3 Dampak Signifikan Ekonomi Singapura Setelah Taylor Swift Menggelar Konser 6 Hari

"Konser kan banyak jenisnya ya, misalnya ada konser Opera, atau ada juga konser dengan artis luar. Atau nggak harus musik juga, ada konser pagelaran seni, secara ekonomi tuh tergantung dari jenis suguhan konsernya. Misalnya kalau artis kelas A, katakanlah kayak Coldplay gitu, berarti kan pasarnya ngincer yang emang mampu beli tiket sekelas Coldplay gitu. Tapi kalau misalnya yang disasar menengah ke bawah, pastinya dia (promotor) ngambil artis yang gak harus semahal Coldplay. Jadi tergantung kreativitas dari penyelenggaranya," kata Mudya Mustamin saat dihubungi INDOZONE.

"Kadang-kadang kan mereka melakukan survei, atau mereka punya database dari konser-konser sebelumnya. Mana yang mungkin dilakukan dan mana yang nggak.," tambahnya.

Optimisme dunia showbiz dan strategi

Ravel Junardy dari Ravel Entertainment. (INDOZONE/Nadya Mayangsari)

Meskipun daya beli masyarakat tengah tertekan, konser musik sebagai salah satu sektor hiburan yang masih diminati. Masing promotor memiliki strategi pemasaran tersendiri yang tepat. Selama penyelenggaraannya digarap secara profesional, konser musik masih mampu menarik minat penonton.

Ravel Junardy, selaku founder dari Ravel Entertainment menyebutkan dunia bisnis pertunjukan dan hiburan ke depannya akan cerah kedepannya. Ia juga menyakini ekonomo Indonesia masih di dalam taraf baik-baik saja.

"Menurut saya ekonomi Indonesia baik-baik saja. Untuk ke depannya saya yakin konser makin banyak juga peminatnya. Bahkan tiga tahun lalu saya pernah ngomong bahwa industri entertainment ini akan menggila," ucap Ravel saat ditanya Indozone.

Baca Juga: Rekening Ghisca Debora Penipu Tiket Konser Coldplay Diblokir, Uang Hasil Kejahatan Disinyalir Disimpan di Bank di Belanda

Indonesia masih memiliki potensi yang besar untuk mendapatkan manfaat ekonomi dari penyelenggaraan konser. Dengan jumlah potensi penonton yang besar, Indonesia bisa mendapatkan keuntungan berlimpah asalkan pemerintah dan penyelenggara serius menyiapkan strategi dan pengelolaan yang baik.

Dewan Industri Event Indonesia (Ivendo) mengingatkan bahwa di tengah dinamika ekonomi yang tidak menentu, para promotor konser musik perlu lebih selektif dalam merancang konsep acara agar tetap menarik dan relevan bagi penonton.

Ketua Umum Ivendo, Mulkan Kamaludin, menekankan pentingnya peran teknologi dalam membentuk wajah baru industri konser musik saat ini.

"Ke depan diprediksi teknologi konser bakal terus maju, tapi dengan tantangan ekonomi yang perlu diperhitungkan. Promotor harus lebih selektif memilih konsep acara biar tetap menarik buat penonton," kata Mulkan seperti yang dikutip dari ANTARA.

Mulkan menambahkan bahwa meski konser tatap muka tetap memiliki kekuatan emosional yang tidak tergantikan, digitalisasi telah mengubah cara masyarakat menikmati musik. Oleh karena itu, Ivendo mendorong promotor untuk mengombinasikan kecanggihan teknologi dengan pengalaman langsung yang berkesan, demi menciptakan konser-konser yang inovatif dan berdampak positif bagi industri hiburan tanah air.

Sementara dari sisi penikmat musik juga berharap ada kenyaman dalam konser. Bukan hanya suasana dan pengalaman menoonton konser, tapi juga harganya.

"(Berharap) venue yang nyaman dan tertib, dari mulai holding, open gate, sampe masuk ke venue, dan sound system yang bagus, jadi mau dapat tempat di mana pun tetep bisa menikmati," kata Lia Nurida.

Baca Juga: Temenin Anak Nonton Konser Coldplay, Cak Imin: Ternyata Seru Ya

"Semoga harga tiket konser di Indonesia, kpop/barat, bisa nggak terlalu mahal banget," tambahnya..

Masalah promotor yang perlu diperbaiki

Konser musik Day6. (ANTARA)

Sepanjang perjalanannya, konser musik selalu memiliki persoalannya sendiri. Promotor musik yang harus memenuhi kebutuhan beberapa pihak, mulai dari kebutuhan para artis, para partner bisnis, hingga kebutuhan para penikmat musik terkadang harus tergelincir di beberapa persoalan.

Mulai dari penjualan tiket yang bermasalah, perpindahan venue yang tiba-tiba, hingga kondisi saat konser yang membuat penggemar kecewa. 

Baru-baru ini, salah satu promotor dari grup Day6 asal Korea Selatan tersandung masalah yang disebut di atas. Banyak penggemar kecewa dan angkat suara di media sosial hingga menjadi perhatian beberapa pihak. Bahkan Kementerian Pariwisata dan Kementerian Perdagangan ambil sikap karena masalah tersebut.

Ryan Kampuan, salah satu pengamat musik dan pemerhati musik Kpop menceritakan masalah tersebut bermula dari perubahan venue.

"Karena dari yang saya amati, ini ada kejadian perubahan venue, terus juga masalah tiket, ditambah kondisi cuaca saat itu. Sehingga menjalani sebuah event menjadi penuh tantangan. Di saat seperti ini, jika komunikasi dan manajemen buruk, ini berimbas fatal terhadap keseluruhan penyelenggaraan acara, dan pihak promotor harusnya bertanggung jawab atas kejadian yang tidak sesuai dengan ekspektasi dari penonton yang sudah membeli tiket," kata Ryan kepada Indozone.

Baca Juga: Ratusan Polisi Dilapis Densus 88 Kawal Konser NCT 127 Pasca Isu Teror Bom

Sebenarnya masalah antara promotor, artis dan fans ini pernah berulang kali terjadi. Tak hanya dari promorto baru saja, tapi nama-nama promotor besar juga pernah tergelincir di situasi yang sama.

"Bukan hanya promotor debutan yang bisa berdampak terhadap acara yang kisruh, tapi juga promotor-promotor yang punya nama juga bisa khilaf atau bisa salah juga dalam menangani sebuah acara," kjelas Ryan.

"Bahkan bukan hanya K-pop, konser-konser rock juga banyak ya, yang akhirnya berujung ricuh, kalau K-pop mungkin waktu konser NCT tahun 2022 di ICE BSD itu, di mana kalau gak salah keos ada beberapa orang pingsan dan berdesakan, ini cukup membuat kalangan kpopers Indonesia juga memberikan catatan ya terhadap promotor," jelasnya.

Ryan juga menyebutkan salah hal yang perlu diperbaiki antara promotor dan penikmat konser adalah komunikasi. Kurang baiknya komunikasi ditambah penanganan yang kurang profesional akan berakhir seperti promotor Day6 yang lalu.

"Karena komunikasi yang kurang baik, dan perubahan yang terjadi menjelang konser tidak dikomunikasikan dengan baik, pada akhirnya membuat kekisruhan ini semakin besar, dan komunikasi yang buruk menjadikan protes ini semakin meluas," jelas Ryan.

Ryan juga mencotohkan kekisruhan di konser Bring Me The Horizon (BMTH) yang rusuh lantaran band yang tengah manggung tiba-tiba berhenti dan tidak melanjutkan. Saat dikomunikasikan di atas panggung, fans marah hingga melakukan banyak aksi ekstrim. 

"Kita tahu hari itu juga terjadi badai kalau gak salah di sekitar Jakarta, sehingga menyebabkan instrumen panggung berpengaruh, sehingga konser dihentikan, dan ini membuat kisruh, kita tahu bagaimana kejadiannya, penonton semua keos, menghancurkan isi panggung, dan pada akhirnya promotor meminta maaf, tapi balik lagi komunikasi yang kurang baik, menyebabkan hancurnya banyak instrumen yang ada di atas panggung," kata Ryan.

Baca Juga: Heboh Ada Ancaman Bom di Konser NCT 127 di BSD, Polisi Lakukan Penyisiran!

Beruntungnya pihak Ravel Entertainment mau memperbaiki komunikasi sehingga Bring Me The Horizon akhirnya kembali konser ke Jakarta dan sukses mengobati luka. Kejadian di konser seleumnya dijadikan pelajaran dan menjadi gaian suka duka Ravel Junardy, selaku promotor untuk berkembang lebih baik, termasuk saat menggarap festival tahunan Hammersonic Fest yang berhasil mendatangkan band besar seperti Slipknot hingga Greenday.

"Suka duka ya banyaklah, mulai dari sisi financial, dari sisi kita yang sering mengalami dukanya. Tapi kalau dari sisi productionnya saya suka. Kita mencoba untuk terus memberikan yang terbaiklah untuk festival Hammersonic ini, dari sisi line up nya, dari sisi semuanya. Ya, suka dukanya kita tanggunglah," kata Ravel kepada Indozone.

Tak hanya dari promotor, para penggemar musik di Indonesia juga perlu belajar bagaimana penonton musik seharusnya. Nama penikmat musik Indonesia sempat tercoreng dan menjadi perbincangan saat konser Coldplay pada 2023 lalu lantaran banyak Xylobands yang tidak dikembalikan. Dari semua negara yang dikunjungi, Indonesia paling rendah yang mengembalikan Xylobands sebanyak 77 persen. 

Demikian pula pihak berwenang juga perlu berpartisipasi dalam menjaga ekosistem konser dan festival musik Indonesia. Jangan sampai kejadian oknum aparat yang melakukan pemerasan terhadap penonton di Djakarta Warehouse Project (DWP) 2024 terulang lagi 

Harapan pecinta musik kepada penyelenggara konser

Ilustrasi Konser.

Di tengah berbagai tantangan yang melanda industri konser musik Indonesia, harapan besar tetap datang dari para penikmat musik yang setia menunggu momen-momen magis di panggung pertunjukan.

Mudya Mustamin juga berharap para promotor konser juga perlu melakukan banyak persiapan sebelum menggelar konsernya agar semuanya berjalan dengan baik.

Baca Juga: Launching JIS Diundur karena Anies Ingin 'Pamerkan' Fasilitas Stadion, Bukan Hanya Konser

"Mereka (promotor) harus tahu segmentasinya yang dituju itu yang mana, kelasnya yang mana, tingkat ekonominya seperti apa. Karena itu menentukkan pemilihan lokasi, ketentuan harga tiket, dan kemungkinan untung ruginya gitu. Termasuk untuk bayar venue, bayar panggung, bayar lightning, dan macam-macam tuh, sampai ke keamanan, perizinan, banyak banget. Jadi semua harus diperhitungkan," pungkasnya,

Lia Nurida, seorang penggemar musik membagikan pengalamannya menonton konser. Hal-hal yang baik bisa diterapkan oleh semua penyelenggara konser dan kekurangannya bisa diperbaiki belajar dari negara lain.

"Secara positif, ada sih penyelenggara yang rapi, helpful, dan ngasih fasilitas di venue itu oke, tapi pengalaman ini baru di konser kpop. Kalau negatifnya, yang paling membedakan dari pengalaman konser di SG adalah masalah on time waktu. Di Indonesia masih sering ngalamin nonton konser (skala kecil atau besar) tapi suka ngaret open gate-nya," kata Lia.

Senada dengan itu, Dewi, seorang penonton setia festival musik dari Jakarta, menyampaikan keinginannya untuk memperhatikan detail saat konser digelar. 

"Yang amat sangat harapkan saat menonton konser itu kenyamanan kedua belah pihak buat penonton serta idola yang akan menampilkan perfomance mereka. Promotor juga jangan menjual tiket yang melebihi kapasitas, tersu tempat sampah dan toilet yang banyak," kata Dewi.

"Tolong diperhatikan sound system yang dipakai ataupun EO untuk acara tersebut, serta volunteer yang mereka rekrut untuk jadi panitia. Karena kesuksesan konser dilihat juga dari panitianya. Juga stage dan venue yang dipilih, terus juga dan sound system, juga alur pembelian dan penukaran tiket serta alur masuk. Serta proses konser itu sendiri dan fasilitasnya juga," jelasnya.

 

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wawancara, Analisa Redaksi

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU