INDOZONE.ID - Akhir pekan menjadi waktu yang tepat bagi Arif, seorang kepala keluarga, untuk menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya menggunakan mobil kesayangannya. Di balik kemudi Honda Jazz pilihannya, ia melintasi lalu lintas perkotaan menuju salah satu tempat wisata.
Selama perjalanan, Arif mengenang momen ketika pertama kali memutuskan membeli mobil tersebut. Pada 2021, ia melihat Honda Jazz di sebuah showroom Honda di kawasan Tangerang dan langsung tertarik.
Bagi Arif, Honda Jazz bukan sekadar kendaraan untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Mobil hatchback itu dipilih karena memiliki desain yang sederhana, modern, serta dimensi yang ringkas sehingga nyaman digunakan untuk mobilitas di perkotaan.
"Alasan memilih Honda Jazz karena dari segi tampilannya simpel dan ukurannya tidak terlalu besar," ujarnya kepada INDOZONE.
Baca juga: Wuling Mulai Spill Aira, Mobil Listrik Barunya Siap Ramaikan Indonesia?
Selama beberapa tahun menggunakan mobil tersebut, Arif mengaku masih puas dengan performa dan kenyamanan yang ditawarkan. Bahkan, jika suatu saat memiliki kesempatan untuk mengganti kendaraan, ia mengaku tetap ingin memilih produk Honda.
Menurutnya, Honda CR-V menjadi model yang paling diincar apabila memiliki rezeki lebih di masa mendatang. Alasannya, SUV tersebut menawarkan kabin yang lebih luas sehingga dinilai lebih cocok untuk kebutuhan jangka panjang.
"Kalau nanti ada rezeki, saya ingin upgrade ke Honda CR-V karena lebih luas dan lebih proper untuk digunakan dalam jangka panjang," katanya.
Berita Penutupan Showroom Honda
Suatu hari, Arif melintas di kawasan Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Ia mendapati showroom Honda yang sebelumnya berdiri di lokasi tersebut telah berganti menjadi showroom merek lain.
Setelah mencari informasi, Arif baru mengetahui bahwa beberapa showroom Honda di Jakarta telah menghentikan operasionalnya beberapa bulan lalu. Salah satunya adalah showroom Honda di kawasan Pondok Pinang yang mengumumkan penutupan gerainya melalui akun media sosial resminya.
Baca juga: Honda Rebel 1100 Punya Warna Baru, Pilih Silver atau Hitam?
Kabar tersebut cukup mengejutkan bagi Arif. Sebagai konsumen, ia menilai keberadaan showroom masih memiliki peran penting, terutama bagi calon pembeli yang ingin melihat langsung berbagai pilihan model sebelum memutuskan membeli kendaraan. Ia sendiri mengaku tertarik membeli Honda Jazz karena sempat melihat langsung mobil tersebut di showroom.
"Shock sih. Menurut saya, dengan penutupan showroom tersebut membuat calon pembeli mobil Honda jadi lebih sulit melihat pilihan mobil Honda di daerah tersebut," ungkapnya.
Lebih jauh, Arif menilai berkurangnya jaringan showroom berpotensi berdampak terhadap penjualan Honda dalam jangka panjang. Akses masyarakat untuk mengenal produk secara langsung menjadi lebih terbatas sehingga pengalaman membeli mobil tidak lagi semudah sebelumnya.
Mengapa Showroom Honda Tutup?
Penutupan sejumlah showroom Honda sempat menjadi sorotan pada April 2026. Fenomena tersebut tidak hanya menarik perhatian pelaku industri, tetapi juga mendapat tanggapan dari pakar otomotif hingga pejabat pemerintah.
Untuk mengetahui penyebab di balik fenomena tersebut, INDOZONE menghubungi pakar otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB), Agus Purwadi.
Menurut Agus, penutupan showroom bukan semata-mata disebabkan oleh strategi satu merek tertentu, melainkan dampak dari perubahan besar yang tengah terjadi di industri otomotif, ditambah kondisi ekonomi yang masih menekan daya beli masyarakat.
Menurut Agus, pada awalnya kehadiran pemain baru di industri otomotif diharapkan hanya menambah pilihan bagi konsumen tanpa menggerus pangsa pasar merek-merek yang telah lebih dulu eksis. Namun, kenyataannya kondisi ekonomi membuat persaingan menjadi jauh lebih berat.
"Saat ini kondisi perekonomian memang cukup berat sehingga daya beli masyarakat ikut melemah. Ditambah lagi harga energi yang masih tinggi membuat konsumen semakin berhati-hati dalam menentukan prioritas pengeluaran," ujar Agus.
Di sisi lain, pemerintah juga memberikan berbagai insentif untuk kendaraan elektrifikasi. Kebijakan tersebut membuat mobil listrik semakin kompetitif, baik dari sisi harga maupun biaya kepemilikan.
Akibatnya, kendaraan konvensional mulai menghadapi tekanan yang semakin besar. Menurut Agus, konsumen kini lebih mempertimbangkan faktor harga dan efisiensi sebelum membeli kendaraan.
"Pilihan masyarakat sekarang bisa membeli mobil baru yang lebih terjangkau dan mendapat insentif, atau bahkan beralih ke mobil bekas. Dampaknya, kendaraan konvensional beserta jaringan penjualannya menghadapi tekanan yang cukup berat," jelasnya.
Bukan Hanya Honda, Seluruh Merek Jepang Menghadapi Tantangan
Agus menegaskan bahwa kondisi ini tidak hanya dialami Honda. Hampir seluruh produsen otomotif Jepang menghadapi tantangan serupa karena selama ini memiliki basis bisnis yang kuat pada kendaraan bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE).
Menurutnya, beberapa pabrikan Jepang memang telah mengembangkan teknologi hybrid. Namun, perubahan pasar menuju kendaraan listrik berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan yang diperkirakan.
"Produsen Jepang memang kuat di kendaraan konvensional. Sebagian juga cukup unggul di teknologi hybrid, tetapi perubahan menuju kendaraan listrik terjadi sangat cepat sehingga mereka harus beradaptasi dengan kondisi pasar yang baru," katanya.
Di tengah inflasi yang masih membayangi perekonomian, Agus menilai kenaikan harga berbagai kebutuhan tidak diimbangi dengan peningkatan daya beli masyarakat. Hal tersebut membuat konsumen semakin selektif ketika membeli mobil.
"Kalau ingin membeli mobil baru, masyarakat tentu akan mencari kendaraan yang lebih terjangkau, mendapat insentif, atau memilih mobil bekas. Ini menjadi tantangan besar bagi industri yang selama ini mengandalkan kendaraan konvensional," ujarnya.
Mobil Listrik Kini Masuk Semua Segmen
Perkembangan kendaraan listrik juga dinilai semakin mengubah peta persaingan. Jika sebelumnya mobil listrik identik dengan harga mahal, kini pilihan produknya sudah menjangkau hampir seluruh segmen pasar.
Agus mencontohkan bahwa kendaraan listrik kini sudah hadir mulai dari segmen harga yang setara mobil murah ramah lingkungan (LCGC), kelas menengah, hingga premium. Kondisi tersebut membuat persaingan menjadi semakin ketat bagi produsen yang masih bertumpu pada kendaraan berbahan bakar fosil.
"Mobil listrik sekarang sudah masuk ke berbagai segmen. Dulu mungkin hanya bermain di kelas atas, tetapi sekarang sudah ada yang menyasar segmen setara LCGC, kelas menengah, hingga premium. Ini tentu memberikan tekanan yang semakin besar bagi pemain lama," jelasnya.
Fenomena Global, Bukan Hanya Terjadi di Indonesia
Lebih lanjut, Agus menilai tekanan terhadap produsen otomotif Jepang bukan hanya terjadi di Indonesia. Persaingan serupa juga berlangsung di berbagai negara, termasuk Eropa, seiring semakin agresifnya ekspansi produsen kendaraan listrik asal China.
Menurutnya, dominasi produsen China dalam industri kendaraan listrik menjadi tantangan global yang kini dihadapi hampir seluruh pabrikan otomotif tradisional.
"Jadi saya melihat ini bukan hanya persoalan Honda atau Indonesia saja. Di Eropa pun situasinya serupa. Produsen kendaraan listrik asal China mulai mendominasi pasar sehingga pemain-pemain lama harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan daya saingnya," pungkas Agus.
Strategi Baru HPM
Kabar penutupan sejumlah dealer Honda di beberapa wilayah belakangan ini memunculkan berbagai spekulasi mengenai kondisi bisnis otomotif di Indonesia. Isu tersebut mencuat di tengah tren penjualan mobil nasional yang melambat sepanjang 2026, sementara persaingan dengan merek-merek baru, terutama kendaraan elektrifikasi, semakin ketat.
Meski demikian, PT Honda Prospect Motor (HPM) memastikan kondisi tersebut tidak mengubah komitmennya untuk terus memperkuat bisnis di Indonesia.
Sales & Marketing and After Sales Director PT Honda Prospect Motor (HPM), Yusak Billy, mengatakan Honda justru tengah melakukan berbagai penyesuaian strategi sebagai bagian dari transformasi global perusahaan.
"Honda secara global sedang melakukan evaluasi untuk memperkuat struktur bisnis otomotif dan menyesuaikan pengembangan teknologi dengan perubahan pasar, termasuk memperkuat elektrifikasi, termasuk model hybrid untuk pasar Asia," ujar Billy kepada INDOZONE.
Menurutnya, transformasi tersebut juga diterapkan di Indonesia. Di tengah penyesuaian jaringan di sejumlah lokasi, Honda tetap memperluas jangkauan layanan kepada konsumen melalui pembukaan dealer baru di berbagai daerah.
"Di Indonesia, Honda tetap berkomitmen memperluas jangkauan layanan dengan hadir di berbagai wilayah baru, salah satunya melalui pembukaan enam jaringan dealer baru di Jawa Tengah, Bali hingga Merauke," jelasnya.
Merek Jepang Masih Mendominasi Penjualan
Di tengah derasnya ekspansi merek otomotif asal China, data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan merek-merek Jepang masih mendominasi penjualan mobil nasional pada paruh pertama 2026.
Billy menilai capaian tersebut mencerminkan tingginya tingkat kepercayaan konsumen terhadap produsen Jepang yang selama ini dikenal memiliki kualitas produk dan layanan purna jual yang kuat.
"Hal tersebut menunjukkan bahwa merek Jepang masih dipercaya konsumen karena mampu menghadirkan produk yang relevan, didukung kualitas yang konsisten, serta jaringan layanan purna jual yang luas," katanya.
Meski demikian, ia mengakui lanskap industri otomotif kini telah berubah. Semakin banyaknya pilihan kendaraan membuat setiap produsen harus mampu menawarkan nilai tambah yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.
"Pilihan konsumen kini semakin beragam, sehingga Honda tetap perlu terus beradaptasi dan menghadirkan value yang sesuai dengan kebutuhan pasar," ujarnya.
Siapkan Deretan Produk dan Teknologi Baru di GIIAS 2026
Sebagai bagian dari strategi menghadapi perubahan industri, Honda juga tengah menyiapkan berbagai kejutan untuk ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 yang digelar pada akhir bulan ini.
Billy mengungkapkan, Honda akan memanfaatkan pameran otomotif terbesar di Indonesia tersebut untuk memperkenalkan berbagai produk dan teknologi terbaru yang sejalan dengan arah elektrifikasi perusahaan.
"Di GIIAS 2026, Honda akan menghadirkan berbagai produk dan teknologi yang relevan dengan kebutuhan konsumen saat ini, sekaligus menunjukkan langkah Honda menuju era elektrifikasi," ungkapnya.
Meski fokus pada pengembangan kendaraan ramah lingkungan, Honda memastikan identitas mereknya tetap dipertahankan.
"Kami ingin memperlihatkan bahwa perkembangan teknologi tetap berjalan seiring dengan karakter, kenyamanan, dan kesenangan berkendara khas Honda," tambah Billy.
Fokus Hadirkan Produk Relevan dan Perkuat Layanan
Menghadapi persaingan industri otomotif yang semakin kompetitif, Honda mengaku tidak hanya mengandalkan inovasi produk. Perusahaan juga terus memperkuat layanan kepada pelanggan sebagai salah satu strategi utama mempertahankan daya saing.
Billy menjelaskan, Honda terus memantau kebutuhan pasar untuk menghadirkan produk yang sesuai dengan preferensi konsumen, mulai dari model entry level hingga lini kendaraan elektrifikasi.
"Kami terus mendengarkan kebutuhan konsumen dan menghadirkan produk yang relevan, mulai dari Honda Brio S CVT hingga perluasan lini elektrifikasi," katanya.
Selain menghadirkan produk baru, Honda juga terus memperkuat jaringan dealer dan layanan purnajual guna memberikan pengalaman kepemilikan kendaraan yang lebih baik.
"Di samping produk, Honda juga menjaga kualitas layanan, memperkuat jaringan, dan memberikan value kepemilikan jangka panjang agar konsumen tetap merasa percaya dan nyaman bersama Honda," tutup Billy.
Di tengah perubahan peta persaingan industri otomotif nasional, HPM optimistis kombinasi antara inovasi produk, penguatan jaringan layanan, dan percepatan elektrifikasi akan menjadi fondasi untuk menjaga daya saing Honda di pasar Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Narasumber, Liputan