Senin, 04 MEI 2026 • 16:00 WIB

Generasi Nillionaire: Mau Nabung tapi Hidup Butuh Self-Reward

Author

Ilustrasi niliionaire yang punya banyak penghasilan tapi tabungan tetap nol. (Freepik)

INDOZONE.ID - Reza Firdaus menghela napas setelah menutup aplikasi M-Banking di smartphone-nya. Sisa uang gajinya sudah menipis, padahal tanggal dia kembali menerima bayaran atau gajian masih lebih dari seminggu lagi. 

"Ngegerus tabungan lagi deh,"  Reza membatin.

Saat berbincang dengan Indozone, Reza mengaku hal ini cukup sering terjadi. Pemuda 24 tahun itu punya pekerjaan tetap sebagai seorang sales dengan gaji bulanan, ditambah pemasukan dari proyek freelance yang datang sesekali. 

Secara kasat mata, pintu pemasukannya terbuka lebih dari satu. Namun ini tampaknya justru menjadi lubang yang membuatnya jatuh lebih dalam secara berulang kali dengan pola yang sama, yaitu uang terasa lewat begitu saja.

“Sebenernya pemasukan tuh nggak cuma satu pintu. Cuma ya namanya pemasukan nambah, kadang pengeluaran juga ikut ngerasa punya alasan buat naik,” kata Reza kepada INDOZONE.

Diakui atau tidak, fenomena ini makin sering ditemui di kalangan anak muda. Mereka yang terlihat produktif, bahkan memiliki lebih dari satu sumber penghasilan, justru kerap gelagapan mengontrol pengeluaran, apalagi membangun tabungan. 

Dalam percakapan sehari-hari, kondisi ini mulai disebut sebagai “nillionaire”, yaitu kondisi punya income, tapi saldo akhir tetap nol.

Bukan Sekadar Boros

Ilustrasi niliionaire yang punya banyak penghasilan tapi tabungan tetap nol. (Freepik)

Menyederhanakan persoalan ini sebagai “gaya hidup boros” mungkin terasa mudah. Namun cerita di lapangan tak sesederhana itu, namun persoalan ini menunjukkan gambaran yang lebih kompleks.

Bagi Reza, persoalan menabung tidak pernah berdiri sendiri. Ada beban lain yang datang lebih dulu.

“Gue ngerasa udah masuk fase sandwich generation. Jadi bukan cuma mikirin diri sendiri, tapi juga ngebantu keluarga,” ujarnya.

Hal ini membuat orang-orang seperti Reza harus menyusun ulang prioritas keuangan. Gaji yang masuk bukan lagi dihitung sebagai potensi tabungan, melainkan sebagai alat untuk menyelesaikan kebutuhan yang sudah menunggu. 

“Pas gajian tuh mindset-nya bukan ‘berapa yang bisa gue tabung’, tapi ‘apa dulu yang harus gue beresin,” ungkapnya.

Di titik ini, tabungan bukan gagal dibangun karena tidak ada niat, tapi ruangnya sudah habis terpakai sejak awal.

Selain menanggung kebutuhan keluarga, kebocoran lain muncul dari lubang-lubang kecil yang terjadi berulang.

Baca juga: 5 Cara Mengatur Keuangan Ala Orang Jepang yang Bikin Tabungan Cepat Nambah!

Sebagai pekerja dengan sistem work from anywhere (WFA), Reza jarang bekerja penuh dari rumah. Ia memilih berpindah ke coffee shop, dan menjadikannya sebagai 'kantor' agar fokus terjaga dan tidak terdistraksi oleh hal-hal lain. Namun pilihan ini memberinya konsekuensi yang terkadang terasa perih, meski perasaan itu muncul belakangan.

“Sekali nongkrong sambil kerja beli kopi, makan siang, kadang nambah snack. Sore beli minum lagi. Kalau dihitung, kecil-kecil sih, aman, tapi kalau hampir tiap hari ya lumayan banget bocornya,” katanya.

Pengeluaran seperti ini memang jarang terasa sebagai beban, karena nilai transaksinya terhitung kecil dan tak mencolok. Tapi akumulasi harian yang kecil itu, perlahan menggerus sisa uang yang seharusnya aman dalam ruang tabungan.

Tarik-menarik antara Stabil dan Bahagia

Ilustrasi self reward. (Freepik)

Di sisi lain, ada dorongan lain yang tidak kalah kuat, yaitu kebutuhan untuk merasa layak menikmati. Setelah berkutat dengan pekerjaan yang melelahkan, ada keinginan untuk bisa menikmati jerih payah itu.

“Kalau habis dapet penghasilan lebih, pasti suka muncul pikiran ‘gue deserve ini deh’,” kata Reza. 

Self-reward ini menjadi bentuk apresiasi atas kerja keras yang dilakukan selama sebulan terakhir. Bentuknya bisa beragam, mulai dari makan enak, membeli barang yang diinginkan, atau sekadar “healing” mendatangi tempat-tempat menyenangkan.

Tarik-menarik antara stabilitas finansial dan kebahagiaan personal ini menjadi dilema yang nyata. Bagi banyak anak muda, menahan diri bukan sekadar soal disiplin, tapi tentang mengelola kelelahan setelah berkutat dengan pekerjaan yang kadang menjemukan.

Hal serupa dirasakan Jenny Fortune, seorang freelance event organizer sekaligus streamer di Jakarta. Dengan penghasilan berkisar Rp3 juta hingga Rp5 juta per bulan, perempuan 24 tahun itu justru secara sadar mengalokasikan porsi terbesar pengeluarannya untuk self-reward.

“Sekitar 40 persen buat self reward kayak nonton, nyalon, makan cantik, atau jalan-jalan,” ujarnya.

Bagi Jenny, keseimbangan antara kerja dan kesenangan bukan pilihan tambahan, melainkan kebutuhan.

“Work-life balance itu penting. Kalau self reward sebanding sama kerja keras, itu bikin gue termotivasi buat terus kerja," katanya.

Namun di saat yang sama, ia mengakui bahwa pos pengeluaran inilah yang paling sulit dikontrol. Selain karena terlalu mudah dikeluarkan, Jenny merasa self-reward ini jadi semacam obat yang menjaganya tak kumat dari efek samping pekerjaan.

“Self reward sih paling susah dikontrol dan paling mudah dikeluarin. Karena gue gampang stress kalau kebanyakan kerja doang," ujarnya.

Tabungan yang Selalu Reset

Ilustrasi niliionaire yang punya banyak penghasilan tapi tabungan tetap nol. (Freepik)

Meski sama-sama berusaha menabung, baik Reza maupun Jenny menghadapi masalah yang serupa, yaitu konsistensi.

Reza masih menyisihkan uang setiap bulan, tapi tabungannya sering kembali terpakai. Meski di awal bulan dia sukses menyisihkan sebagian uang ke rekening tabungan, selalu ada kebutuhan lain di akhir bulan yang mendesaknya memakai lagi uang tersebut.

“Jadi saldo tabungan tuh naik turun, nggak pernah stabil," katanya.

Jenny juga mengalami hal yang sama. Target menabung sering kali terganggu oleh kebutuhan mendesak atau keputusan spontan.

“Ya namanya nabung kan nggak selalu berhasilya ya.Kadang kepake lagi karena kebutuhan, atau karena gue lebih mentingin self reward yang terdekat dulu," ungkapnya.

Anak-anak muda seperti Reza dan Jenny bukan tidak punya tabungan, melainkan tak punya kemampuan untuk mempertahankannya.

Pertanyaan tentang siapa yang “bersalah” dalam kondisi ini pun tidak pernah punya jawaban tunggal. Reza melihatnya sebagai kombinasi antara rendahnya self-control yang memicu sikap boros, namun dengan penekanan pada kondisi.

“Menurut gue campuran dua-duanya, tapi kondisi ngaruh besar. Biaya hidup makin naik, tuntutan keluarga ada, kerja juga kadang butuh modal lifestyle biar waras dan produktif,” kata Reza.

Jenny pun melihat fenomena ini tidak bisa digeneralisasi. Tiap orang punya kehidupan dan tantangan masing-masing, sehingga tak bisa dengan enteng dituding bersalah karena tak bisa mempertahankan apalagi meningkatkan uang tabungan.

“Banyak juga Gen Z yang emang gaya dan gengsi, tapi banyak juga yang sandwich generation, yang menghalangi mereka buat nabung," katanya.

Karena itu, Jenny memilih untuk tidak terlalu membebani diri dengan target finansial besar, seperti membuat tabungan untuk membeli rumah. Dengan keadaan finansial saat ini, ditambah kondisi ekonomi yang sejauh ini tak stabil, ia secara sadar memilih fokus untuk meraih pencapaian-pencapaian kecil yang menghadiahi dirinya sendiri dengan kebahagiaan.

Di Antara Banyak Penghasilan dan Nol Tabungan

Ilustrasi niliionaire yang punya banyak penghasilan tapi tabungan tetap nol. (Freepik)

Psikolog Kassandra Putranto menjelaskan bahwa fenomena ini tidak hanya soal angka, tetapi juga cara manusia bagaimana mengambil keputusan.

Menurutnya, individu cenderung terjebak dalam present bias, yaitu kecenderungan memilih kepuasan jangka pendek dibanding manfaat jangka panjang. Konsumsi memberikan kepuasan emosional yang instan, sementara menabung terasa abstrak dan jauh.

Selain itu, ada pula fenomena adaptasi hedonis, yaitu keadaan ketika pendapatan meningkat, standar hidup ikut naik. Apa yang dulu dianggap cukup, perlahan menjadi biasa saja. 

Akibatnya, kenaikan pemasukan tidak pernah benar-benar menambah kesempatan atau memberinya kelebihan. Sehingga berapapun nilai uang yang diterima, pada akhirnya ujungnya selalu sama, yaitu tanpa sisa.

Tekanan sosial juga memperkuat pola ini. Paparan gaya hidup di media sosial mendorong individu untuk menyesuaikan diri, sehingga pengeluaran sering kali dilakukan untuk menjaga citra, bukan sekadar memenuhi kebutuhan.

Baca juga: Punya Tujuan Finansial? 4 Jenis Tabungan Ini Harus Kamu Miliki

“Keputusan finansial menjadi sangat dipengaruhi oleh tekanan sosial dan kebutuhan akan pengakuan,” ujar Kassandra kepada INDOZONE.

Dalam kondisi tertentu, konsumsi bahkan menjadi mekanisme coping terhadap stres dan kelelahan. Self-reward yang awalnya sehat, bisa berubah menjadi kebiasaan konsumtif jika tidak dikontrol.

Secara psikologis, belanja memang lebih “menggoda” dibanding menabung. Aktivitas konsumsi memberikan rasa senang secara cepat, sementara menabung tidak memberikan efek emosional yang sama.

Hal ini membuat banyak orang, terutama yang hidup di era serba instan, kesulitan menunda kepuasan. Tanpa sistem yang kuat, keputusan finansial cenderung mengikuti dorongan sesaat.

Di sisi lain, kondisi ekonomi tetap menjadi faktor pembatas yang nyata. Biaya hidup yang meningkat, pendapatan yang tidak selalu stabil, serta tanggung jawab keluarga, membuat ruang untuk menabung semakin sempit.

Kasandara menyimpulkan bahwa kondisi ekonomi menentukan batas kemampuan, sementara pola pikir dan perilaku menentukan hasil akhirnya.

Fenomena nillionaire bukan sekadar cerita tentang generasi yang gagal mengelola uang. Ia adalah cerminan dari persilangan banyak hal, yaitu tuntutan keluarga, tekanan sosial, perubahan gaya hidup, hingga cara manusia memaknai uang itu sendiri.

Di satu sisi, anak muda hari ini memiliki lebih banyak peluang untuk menghasilkan uang. Namun di sisi lain, mereka juga hidup dalam sistem yang membuat mempertahankan uang menjadi jauh lebih sulit.

Tentu masalahnya bukan karena mereka tidak bisa menghasilkan, tapi karena saat ini, segala tuntutan, dorongan, dan realita hidup, membuat menyimpan uang dan mempertahankannya adalah sebuah tantangan yang terasa semakin berat. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU