Senin, 16 FEBRUARI 2026 • 15:20 WIB

Open Trip Blok M: Dari Konten Viral Gen Z, Menjadi Peluang Cuan di Tengah Kota

Author

Fenomena open trip Blok M jadi peluang bisnis baru Gen Z (Gemini AI)

INDOZONE.ID - Langit sore di Blok M mulai meredup ketika sekelompok anak muda berkumpul di satu titik yang sudah disepakati.

Tidak ada bus pariwisata, tidak ada tiket perjalanan jauh, hanya rute singkat menyusuri tenant makanan, kafe kecil, dan sudut-sudut kota di Blok M yang kembali ramai.

Inilah wajah baru jalan-jalan ala Gen Z, open trip ke tengah kota, yang kini berubah menjadi peluang side hustle kreatif. 

Fenomena ini banyak bermula dari media sosial, terutama TikTok, tempat video eksplorasi Blok M beredar luas dan memancing rasa penasaran.

Dari sekadar konten, ide tersebut berkembang menjadi jasa pemandu tur yang digagas anak muda untuk mengajak orang lain mengeksplorasi kawasan urban dengan cara lebih praktis. 

Baca juga: 8 Ide Peluang Bisnis di Sekolah yang Cuan, Modal Kecil Untung Maksimal!

Dari Konten Viral ke Peluang Side Hustle

Nasya (19) mahasiswa di Jakarta yang buka jasa open trip Blok M (INDOZONE/ Zahra Utami Putri)

Nasya Nur Syahla (19 tahun), mahasiswa di salah satu kampus di Jakarta bercerita bahwa ide membuka open trip berawal dari konten TikTok yang sering ia buat di kawasan Blok M. Video-videonya di akun TikTok @nasyaalive,  kerap masuk FYP dan memancing rasa penasaran warganet.

“Banyak yang komentar, ‘Kak itu lokasi detailnya di mana sih?’ Jadi aku kepikiran, kenapa nggak aku ajak aja mereka sekalian datang ke lokasi viral di Blok M,” ujar Nasya saat ditemui Indozone di kawasan Blok M, Jakarta Selatan pada Minggu (15/2/2026).

Melihat antusiasme tersebut, Nasya semakin yakin bahwa Blok M punya potensi sebagai peluang usaha. Menurutnya, banyak tenant viral yang rela diantri panjang oleh pengunjung. 

“Video aku juga sering FYP di sana, jadi aku pikir memang banyak yang tertarik untuk datang ke Blok M,” katanya.

Menariknya, motivasi awal Nasya bukan semata mencari uang. Ia justru ingin menambah relasi dan bertemu orang baru.

“Awalnya aku mikir supaya dapat teman baru. Kita bisa main bareng, kenalan sama orang baru, nambah relasi juga,” tuturnya.

Sejauh ini, Nasya mengaku belum pernah mengalami kegagalan trip. Jika ada peserta yang batal, posisinya langsung digantikan oleh peserta lain yang ada dalam daftar tunggu. Ia juga mengaku usaha ini nyaris tanpa modal.

“Aku pikir nggak perlu modal sama sekali. Konsepnya lebih ke main bareng, dan orang yang daftar langsung ikut,” jelasnya.

Meski bukan tujuan utama, open trip ini tetap menghasilkan keuntungan. Dalam satu batch berisi lima orang, Nasya bisa memperoleh laba sekitar Rp150 ribu hingga Rp250 ribu.

“Margin per orang sekitar Rp50 ribu sampai Rp75 ribu, tapi biasanya Rp50 ribu. Jadi satu batch bisa Rp250 ribu,” kata Nasya.

Trip dibanderol Rp150 ribu per peserta dengan fasilitas dessert pembuka, foto booth, makan siang, serta oleh-oleh dessert viral. Seluruh destinasi dipilih berdasarkan tren media sosial.

“Aku pilih yang viral dan banyak antre supaya peserta bisa merasakan juga tanpa perlu antre,” tambahnya.

Hal serupa juga dilakukan oleh Athaya Reghina Budiman (24 tahun), karyawan swasta asal Bekasi yang juga melihat peluang serupa, meski berawal dari candaan di media sosial.

“Awalnya iseng aja di second account. Tapi mereka (teman-temannya) malah nanya, beneran kan? Ya sudah akhirnya dijalanin,” ujar Athaya saat diwawancarai Indozone, Minggu (15/2/2026).

Menurutnya, Blok M memiliki daya tarik kuat karena pilihan kulinernya sangat beragam, dari kaki lima hingga makanan premium. Kawasan yang kembali ramai itu membuatnya yakin aktivitas tur kecil-kecilan masih punya ruang.

“Lengkap banget. Pekerjaan ini juga benar-benar tanpa modal. Paling hasilnya buat jajan lagi di Blok M,” tuturnya.

Respons teman-temannya juga cenderung positif, terutama dari kalangan milenial yang ingin dikenalkan pada tempat-tempat baru. Konsep ruang makan unik, dessert viral, hingga photobox, menjadi daya tarik tersendiri.

“Mereka happy karena jadi tahu tempat yang sebelumnya nggak pernah dicoba,” kata Athaya.

Bagi dirinya, hal paling menarik justru melihat antusiasme orang yang ingin ikut, meski skala kegiatannya masih kecil.

Bukan soal FOMO, tapi Cara Baru Menikmati Kota Tanpa Ribet Mencari Sendiri

Open Trip Blok M bareng Nasya (INDOZONE/Zahra Utami Putri)

Bianca Michelle, salah satu peserta open trip Blok M, mengaku pertama kali mengetahui tren ini dari media sosial sebelum akhirnya mengikuti tur yang dipandu sama temannya sendiri yang masih berusia 24 tahun. 

"Aku tahu open trip ini dulu dari TikTok, yang kemarin aku ikutin memang yang buka jasanya temen aku, dia gen z juga," ungkap Bianca saat diwawancarai Indozone, Sabtu (14/2/2026).

Menurut Bianca, kehadiran pemandu justru mempermudah eksplorasi tanpa harus repot mencari informasi sendiri.

"Open trip tuh membantu orang-orang mager searching seperti aku, jadi langsung diarahkan tempat mana yang harus didatangi dan tahu juga kisaran harganya," ungkapnya. 

Bagi banyak anak muda, kemudahan inilah yang membuat open trip di Blok M terasa relevan, bukan sekadar jalan-jalan, tetapi pengalaman terkurasi.

Menurut Sosiolog UI Dr Nadia Yovani, dorongan utama anak muda memanfaatkan ruang sosial sebagai ruang ekonomi berangkat dari terbentuknya modal sosial.

Dalam interaksi yang intens, individu membangun makna bersama yang kemudian melahirkan kepercayaan, jaringan sosial, dan norma, tiga unsur penting modal sosial. 

"Dalam interaksi yang intens, anak muda membangun modal sosial kepercayaan, jaringan, dan norma yang kemudian dipakai untuk melakukan transaksi ekonomi, bahkan sebelum ada modal finansial," ujar Nadia Yovani saat diwawancarai Indozone, Kamis (13/2/2026).

Modal inilah yang kemudian dimanfaatkan untuk melakukan transaksi ekonomi, bahkan sebelum modal finansial hadir.

Meski tren ini lahir dari viralitas, tidak semua peserta merasa didorong oleh rasa takut ketinggalan. 

Bianca menilai keikutsertaannya lebih karena momen santai setelah aktivitas kerja.

"Sebenarnya enggak terlalu FOMO, cuma lagi gabut. Jadi sekalian nostalgia sambil lihat tenant-tenant baru di Blok M," jelasnya. 

Hal serupa juga diungkapkan Imam Wahyudi (25 tahun), peserta lain yang menemukan open trip saat doom scrolling media sosial. 

"Kedatanganku ke sini sangat dipengaruhi oleh tren dan algoritma, tapi apakah aku FOMO? Tentu tidak," ungkap Imam. 

Bagi Imam, open trip justru menjadi ruang sosial bagi orang-orang yang biasanya berjalan sendiri atau merasa tidak punya teman untuk berwisata di kota.

Dalam perspektif sosiologi klasik, istilah fear of missing out (FOMO) sebenarnya bukan konsep formal. 

"Fenomena yang sering disebut FOMO sebenarnya bukan konsep sosiologi formal, tetapi secara perilaku memang menunjukkan dorongan untuk terus terlibat agar tidak merasa tertinggal," ungkap Sosiolog Dr Nadia kepada Indozone.

Dorongan ini sering kali beririsan dengan budaya kerja keras yang diwariskan generasi sebelumnya.

Alih-alih sekadar bekerja keras, seharusnya generasi muda diarahkan pada kerja pintar, yakni upaya yang terarah dengan tujuan jelas.

Namun dalam praktiknya, kebiasaan mengambil setiap peluang yang muncul menjadi semacam habitus, yaitu refleks spontan yang tidak selalu didasari perhitungan matang, baik karena tekanan ekonomi maupun sekadar dorongan impulsif.

Baca juga: 7 Mindset Dasar untuk Pengusaha Pemula agar Bisnis Terus Jalan

Kreativitas Gen Z Melihat Peluang di Tengah Sulitnya Pekerjaan

Suasana Blok M ramai dipenuhi pengunjung yang ingin kulineran (INDOZONE/ Zahra Utami Putri)

Fenomena open trip Blok M menunjukkan cara gen z memandang kota sebagai destinasi wisata mikro. Hal yang bagi sebagian orang terasa biasa, justru diolah menjadi pengalaman unik dan bernilai ekonomi.

"Secara fisik Blok M memang ruang publik dan gratis. Tapi dalam fenomena ini, yang dijual bukan lokasinya, melainkan pengalaman, kurasi, dan konteks sosialnya," kata pengamat ekonomi dari Telkom University, Tarandhika Tantra kepada Indozone.

Pernyataan itu menjelaskan inti pergeseran ekonomi hari ini dari sekadar barang dan tempat, menuju ekonomi pengalaman (experience economy).

Dosen Program Studi Leisure Management, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Telkom University itu menjelaskan, Blok M sebagai ruang publik dapat disebut sebagai core product dalam perspektif pemasaran.

Namun open trip menghadirkan nilai tambah berupa layanan terorganisir, yaitu rute kuliner, rekomendasi spot estetik, hingga suasana kebersamaan.

Tarandhika menyebut ini sebagai bentuk augmented product, dimana ada layanan tambahan yang didapatkan para pengunjung.

“Open trip menawarkan augmented product, yaitu layanan tambahan berupa pengalaman dan interaksi sosial,” ujarnya.

Artinya, Gen Z yang menjadi penyelenggara tidak membutuhkan aset besar seperti hotel atau kendaraan wisata. Mereka cukup menjadi kurator pengalaman, sebuah praktik yang dalam ekonomi digital dikenal sebagai re-intermediation, yaitu munculnya perantara baru yang memberi nilai tambah.

Menurutnya, kemunculan model bisnis ini tidak bisa dilepaskan dari realitas pasar kerja. Banyak anak muda menghadapi sulitnya mendapatkan pekerjaan formal dengan gaji yang layak.

“Sulitnya mendapatkan pekerjaan formal atau gaji yang layak mendorong munculnya gig economy atau ekonomi serabutan, dalam arti positif,” kata Tarandhika.

Open trip menjadi salah satu bentuk side hustle yang realistis. Tanpa modal besar, anak muda bisa memanfaatkan momentum viral, membangun komunitas, lalu mengubahnya menjadi sumber pendapatan.

Peneliti Center of Economic and Law Studies (Celios), Galau Muhammad, melihat fenomena ini sebagai kombinasi antara kreativitas dan tekanan ekonomi. 

“Ini bentuk adaptasi terhadap keterbatasan ekonomi. Keinginan untuk healing tetap ada, tapi disesuaikan dengan daya beli,” ujarnya.

Dengan pendapatan yang masih terbatas di awal karier, wisata urban murah seperti Blok M menjadi pilihan rasional, baik bagi penyelenggara maupun peserta.

Namun uang bukan satu-satunya faktor. Di balik tren ini, ada kebutuhan sosial yang kuat.

Tarandhika menyebut bahwa dalam perilaku konsumen, ada kebutuhan akan belonging, yaitu kebutuhan untuk merasa diterima dalam kelompok. Menurutnya open trip Blok M memenuhi kebutuhan ini, karena mengubah aktivitas individu menjadi aktivitas sosial yang terorganisir.

Banyak anak muda ingin berjalan-jalan, tetapi tidak punya teman atau merasa canggung datang sendiri. Open trip menjawab rasa sepi itu dengan pengalaman kolektif yang terstruktur. Aktivitas sederhana seperti kulineran atau berburu foto berubah menjadi ruang interaksi dan jejaring baru.

“Open trip membentuk pengalaman sosial yang terorganisir. Itu yang membuatnya relevan," katanya.

Di titik ini, ekonomi dan psikologi bertemu. Generasi yang sama-sama mencari koneksi sosial juga menjadi pasar bagi pengalaman komunal berbayar.

Survival Mechanism

Nasya, pelaku jasa open trip Blok M mengarahkan pesertanya. (INDOZONE/ Zahra Utami Putri)

Dr Nadia Yovani mengungkap bahwa fenomena side hustle, termasuk open trip, dinilai lebih dekat pada mekanisme bertahan hidup dibanding ekspresi kreativitas semata.

Kebutuhan dasar masih menjadi pendorong utama di balik berbagai aktivitas ekonomi baru anak muda.

Di sisi lain, kuatnya kompetisi sosial, terutama melalui media sosial, dapat memunculkan rasa kesepian meski relasi sosial terlihat luas.

“Mereka mencari uang di ruang sosial karena kenalannya banyak, tapi tetap merasa lonely,” ungkap Nadia.

Dalam konteks Blok M, perpaduan interaksi sosial, tekanan ekonomi, dan respons cepat terhadap peluang, membuat ruang nongkrong berubah menjadi ruang ekonomi baru. Aktivitas sederhana seperti tur kuliner pun dapat menjadi sumber pendapatan.

Menurutnya, fenomena ini berakar pada terbentuknya modal sosial di ruang interaksi anak muda.

Ia menjelaskan, ketika interaksi berlangsung intens, muncul kepercayaan, jaringan, dan norma yang kemudian bisa dimanfaatkan untuk aktivitas ekonomi.

“Bukan modal ekonomi dulu, tapi modal sosial. Karena trust, jaringan, dan norma sudah kuat, itu dipakai untuk bertransaksi,” ujarnya.

Lantas, apakah gen z memang lebih nyaman membayar pengalaman sosial yang terkurasi? Nadia menyebut hingga kini belum ada data pasti terkait hal tersebut. 

Namun Nadia menjelaskan bahwa kecenderungan bereaksi cepat terhadap peluang dan dorongan untuk terus aktif di ruang sosial menjadi faktor penting yang menjelaskan munculnya berbagai jasa tur, kegiatan nongkrong berbayar, hingga pengalaman komunitas yang dikomersialisasi di Blok M.

Baca juga: UKM: Pengertian, Perbedaan dengan UMKM, dan Peluang Bisnis yang Menguntungkan

Bawa Dampak Positif bagi Bisnis di Blok M

Macan Macan Blok M, salah satu tempat tujuan open trip Blok M (Instagram/selamatmacan)

Salah satu pemilik usaha usaha kuliner Macan Macan yang berdiri sejak 2025, menilai dampak dari open trip ini memang belum besar karena fenomena ini masih sangat baru.

“Open trip pasti mengundang lebih banyak pengunjung dan membuat mereka lebih eksploratif. Kalau Blok M terus didukung berbagai pihak, pasar open trip mungkin bukan cuma dari dalam Jakarta, tapi juga luar kota,” ujar owner Macan Macan, Vincent kepada Indozone.

Vincent percaya tren open trip masih berpotensi bertahan dalam jangka waktu panjang, terutama karena keberagaman tenant di Blok M terus bertambah. Selain itu, banyak orang yang tertarik datang tetapi tidak tahu harus memulai dari mana celah yang diisi oleh konsep tur terarah.

Ia juga menegaskan bahwa kehadiran open trip bukanlah ancaman bagi UMKM, melainkan membuka arus pengunjung baru.

“Ke depan mungkin akan coba kerja sama dengan open trip lain, karena tempat kami nyaman dan menarik, jadi pengunjung bisa menikmati makanan sekaligus ambience,” tuturnya.

Ia menilai kerja sama semacam ini berpotensi memperluas jangkauan audiens tanpa harus mengubah konsep bisnis secara besar.

Menurutnya, peningkatan eksposur biasanya berbanding lurus dengan penjualan. Ketika lebih banyak orang mengetahui keberadaan sebuah tempat, peluang transaksi pun ikut meningkat. Bahkan dalam waktu singkat, keterlibatan audiens di media sosial bisnisnya menunjukkan kenaikan.

Lebih jauh, dia berharap pemerintah dan pengelola kawasan dapat terus mendukung perkembangan UMKM agar Blok M tetap menjadi destinasi wisata yang menarik bagi pengunjung lokal hingga mancanegara.

Wajah Baru Wisata Urban Anak Muda

Suasana di kawasan Blok M (Instagram/hulanghealing)

Di tengah padatnya Jakarta, open trip Blok M memperlihatkan pergeseran cara generasi muda menikmati ruang kota, yakni dengan perjalanan singkat, berbasis komunitas, sekaligus membuka peluang side hustle. 

Fenomena ini menegaskan bahwa kreativitas Gen Z  tidak selalu lahir di tempat jauh. Bahkan sudut kota yang sudah lama ada pun bisa berubah menjadi pengalaman baru, selama ada yang mampu melihat peluangnya. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wawancara Langsung

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU