Senin, 09 FEBRUARI 2026 • 12:12 WIB

Saat Zodiak Jadi 'Pegangan' Hidup Gen Z

Author

Ilustrasi Gen Z antara percaya nggak percaya ramalan zodiak, tapi kok relate dengan kehidupan mereka. (Generatif AI.)

INDOZONE.ID - Di tengah riuhnya kantin sebuah SMA di Jakarta, Alisha duduk terpaku menatap layar ponselnya. Jempolnya berhenti melakukan scrolling tepat pada sebuah video TikTok yang masuk ke FYP-nya.

Video itu menampilkan visual estetik kartu tarot dan tabel astrologi dengan narasi suara yang berat: "Hati-hati, zodiak ini akan menghadapi ujian berat dan energi negatif sepanjang tahun 2026."

"Bagaimana kalau ini benar?" bisiknya dalam hati, sembari memperhatikan ribuan komentar dari orang-orang yang merasakan hal yang sama.

Kekhawatiran itu mulai berakar. Di antara riuhnya notifikasi, Alisha justru merasa terisolasi oleh kecemasan.

Ia membayangkan skenario terburuk seperti nilai-nilai ujian yang merosot padahal ia mengincar jalur prestasi, atau konflik tak terduga dengan sahabat karibnya.

Bagi Alisha, ramalan itu bukan lagi sekadar hiburan digital, melainkan sebuah awan mendung yang seolah membuntuti langkahnya melintasi koridor sekolah.

Di tengah ambisinya yang besar, bayang-bayang ketidakberuntungan yang viral itu menjadi beban tak kasat mata yang membuatnya ragu untuk sekadar melangkah dengan percaya diri.

Ramalan zodiak jadi salah satu konten favorit anak muda di media sosial. Banyak yang merasa “relate”, meski mengaku tidak sepenuhnya percaya.

Ilustrasi zodiak. (Freepik.)

Astrologer menilai zodiak populer sering disederhanakan dan keliru konteks. Sementara psikolog menyebut faktor identitas, tekanan hidup dan algoritma medsos.

Fenomena ramalan zodiak bukan lagi sekadar tren. Namun, pelan-pelan, bahkan sudah menjadi bagian dari generasi muda untuk. 

Zodiak menentukan, memilih hubungan, bahkan “pegangan” hidup sehari-hari.

Buat sebagian Gen Z, membaca ramalan zodiak bukan soal mencari kebenaran mutlak. Lebih ke rasa “kok gue banget”.

Apalagi jika ramalan zodiak menyentuh soal perasaan, hubungan asmara atau konflik ke diri sendiri.

Baca juga: Deretan Zodiak Wanita yang Paling Disukai Pria, Bikin Penasaran Sampai Jatuh Cinta

Salsa, salah satu Gen Z, mengaku kepada Indozone bahwa ramalan zodiak sering terasa relevan dengan pengalaman cintanya.

“Karena percaya kalau lagi relate. Ini kayaknya gue. Apalagi soal percintaan,” ungkapnya.

Baca juga: 5 Zodiak Wanita yang Bisa Ilfeel Kalau Disukai Duluan, Kamu Termasuk?

Pengalaman personal membuat zodiak terasa seperti pembenaran emosional atas apa yang sudah terjadi.

Kenapa Anak Muda Gampang Merasa Relate?

Psikolog klinis forensik A. Kasandra Putranto menilai ketertarikan ini punya akar psikologis yang jelas.

“Fase remaja hingga dewasa awal merupakan periode pencarian identitas diri,” ujarnya.

Ilustrasi Gen Z percaya ramalan zodiak di media sosial. (Freepik.)

Menurutnya, ramalan zodiak menawarkan deskripsi kepribadian yang cepat dan sederhana. 

Hal inilah yang membuat seseorang merasa dikenal dan dimengerti, tanpa harus melalui proses refleksi yang panjang.

Ia juga menyinggung Barnum Effect, kondisi ketika deskripsi umum terasa sangat personal.

“Konten zodiak di media sosial banyak memanfaatkan pola ini untuk menciptakan keterikatan emosional,” jelas Kasandra.

Tekanan Hidup dan Ilusi Kepastian

Di tengah ketidakpastian ekonomi, relasi, dan masa depan, manusia cenderung mencari pegangan.

Kasandra menyebut ramalan zodiak memberi ilusi kontrol yang menenangkan.

“Ramalan zodiak, meskipun tidak berbasis ilmiah, memberikan rasa prediktabilitas,” katanya.

Ditambah algoritma media sosial yang terus menyodorkan konten serupa, rasa “relate” jadi semakin kuat dan berulang.

Zodiak Bukan Cuma Soal Kepribadian

Astrologer Vira M melihat masalah utama bukan pada ketertarikan publik, tapi pada penyederhanaan astrologi.

Vira merupakan Horary Practitioner, yakni seorang astrolog atau astrologer yang mempraktikkan cabang ilmu astrologi Pertanyaan.

Dia pun pernah mengambil kursus di School of Traditional Astrology (STA) di London untuk mendapatkan sertifikasi sebagai seorang Horary Practitioner pada 2021 sialm

Menurutnya, astrologi sering disalahpahami hanya sebagai pembacaan karakter.

“Dalam astrologi tradisional, zodiak tidak selalu bicara kepribadian. Bisa soal kesehatan, pekerjaan, atau siklus hidup, tergantung konteksnya,” jelas Vira.

Ia menilai ramalan zodiak harian di media sosial bersifat parsial. Menurutnya memang tidak salah sebagai pengingat, tapi keliru jika dijadikan dasar keputusan hidup.

Percaya Gak Percaya, Tapi Tetap Dibaca

Ramalan zodiak mungkin tidak ilmiah, tapi perasaan “relate”-nya nyata. Seperti hal yang dialami Jay (23).

Dia mengaku tidak sepenuhnya percaya pada zodiak. Namun, kadang bisa mempengaruhi pikirannya.

“Sebenernya enggak ngaruh-ngaruh banget. Cuma kadang suka kepikiran aja,” ujarnya.

Ia menyadari zodiak bukan patokan mutlak, tapi tetap memberi frame awal saat mengenal orang lain. Sebuah prasangka kecil yang sering muncul tanpa disadari.

Baik psikolog maupun astrologer bisa dibilang sepakat. Ramalan zodiak bisa menjadi masalah jika dijadikan satu-satunya rujukan.

Selama ramalan zodiak cuma untuk hiburan atau refleksi ringan, dampaknya aman kok.

Namun bisa berubah menjadi masalah besar, saat kamu percaya zodiak untuk membenarkan perilaku atau menolak bertanggung jawab.

Parahnya lagi, jika zodiak sudah mempengaruhi kamu untuk berpikir rasional. Ini sih sudah kacau!

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Narasumber, Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU