Jumat, 16 JANUARI 2026 • 19:05 WIB

Tisu Magic dan Ilusi Keperkasaan: Apa yang Sebenarnya Dicari Lelaki?

Author

Ilustrasi pasangan mengalami masalah seksual. (Freepik)

INDOZONE.ID - Rani Arandara cuma tersenyum saat Pambudi Nuryansyah melepas celana denim hitam di depannya, sambil memberi tau kalau dia akan memakai tisu. Rani sudah tau tisu apa yang dimaksud Budi.

Beberapa bulan sebelumnya, Budi diceritai temannya soal kesenangan berhubungan menggunakan tisu magic. Budi penasaran dan ingin mencobanya.

Budi menceritakan ini pada Rani. Sejak itu, Budi beberapa kali menggunakannya saat mereka berduaan.

"Yang aku rasain pas doi pake itu emang jadi jauh lebih lama. Gak ngitungin sih ya, mungkin sekitar 50 menit atau lebih," kata Rani saat berbincang dengan tim Indozone, Rabu (14/1/2026).

Ilham Sutrisno merasakan hal yang sama. Dia bahkan mengaku bisa ereksi lebih dari satu jam setelah menggunakan tisu magic. 

"Gue terabas terus sampe cewek gue ampun-ampunan," kata Ilham sambil tertawa.

Menurut Ilham, keputusan memakai tisu magic berawal dari rasa penasaran. Dia tak punya keluhan khusus, tak ada juga tuntutan dari pasangan. 

Di banyak minimarket, tisu magic dijual tanpa banyak pertanyaan. Ia kecil, murah, dan menjanjikan sesuatu yang sangat besar, yaitu kejantanan yang tak goyah.

Dari sejumlah merek yang beredar, tisu magic tak hanya menjajakan produk, tapi juga harapan agar tidak gagal di ranjang.

Efek dan Resiko Tisu Magic

Ilustrasi pasangan mengalami masalah seksual. (Freepik)

Di awal pemakaian, Ilham mengaku ada rasa panas dan perih pada alat vitalnya, namun tak berlangsung lama. Dia juga merasakan sensasi kram dan kebas alias baal yang juga tak dia gubris.

Tak cuma lelaki, efek semacam ini juga dirasakan perempuan. Rani menyebut, sensasi kebas terasa di area organ intim setiap kali pasangannya menggunakan tisu magic.

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Evy Aryanti mengatakan, kandungan kimia dalam tisu magic memang menyebabkan desensitisasi, yang membuat area genital kebas.

Secara sederhana, tisu magic mengurangi sensitivitas pada area genital yang dioleskan. Ini membuat rasa sentuhan berkurang, sehingga proses ejakulasi menjadi lebih lama.

Baca juga: Penyebab Ketidaksejahteraan Seksual dalam Hubungan Rumah Tangga, Simak Penjelasannya

Dokter Kulit dan Kelamin Evy Aryanti. (Dok. Pribadi)

"Efeknya cepat terasa,” kata Evy. “Tapi bukan tanpa risiko.”

Dalam jangka pendek, kulit yang terpapar tisu magic bisa muncul kemerahan, panas, iritasi, bahkan ereksi justru menurun. 

Dalam jangka panjang, risikonya meningkat hingga menimbulkan gangguan sensasi, dermatitis, bahkan ketergantungan psikologis.

Dampaknya bukan cuma pada lelaki.

“Pada wanita bisa timbul iritasi, burning sensation atau rasa terbakar ya, keputihan karena bakteri atau jamur, serta iritasi mukosa vagina," jelas Evy.

Standar Palsu Keperkasaan: Kenapa Lelaki Pengin Lama?

Ilustrasi durasi seksual. (Freepik)

Psikolog Yulisa Susanti mengatakan, tisu magic memang menjadi booster bagi kepercayaan diri laki-laki. Sebab laki-laki terbebani oleh standar keperkasaan, salah satunya terkait intensitas atau pun durasi.

"Itu biasanya yang menimbulkan rasa kecemasan dalam diri seseorang, khawatir kalau performanya ataupun aktivitasnya itu tidak bisa memenuhi ataupun memberi kepuasan kepada pasangannya," kata Yulisa.

Hal senada diungkapkan Seksolog Febrizky Yahya. Menurutnya, laki-laki punya ekspektasi terlalu tinggi soal urusan ranjang. 

"Kalau cowok gagal di kantor, masih bisa diatasi, tapi kalau gagal di atas ranjang, itu melukai identitas diri, langsung merusak harga diri," katanya. 

Febrizky, yang kerap memberi edukasi persoalan seksual di akun instagram @ebifebrizky itu menjelaskan, laki-laki 'perkasa' sebenarnya tak harus bisa bertahan hingga puluhan menit, apalagi berjam-jam. 

Psikolog Febrizky Yahy. (INDOZONE/Gema Trisna Yudha)

Sebab kriteria ejakulasi dini berada pada batas waktu tiga menit. Jika seorang laki-laki mampu bertahan lebih dari 3 menit hingga 30 menit di atas ranjang, maka dia sudah masuk dalam kategori laki-laki normal dan perkasa.

"Kalau di bawah 3 menit atau di atas 30 menit, itu sudah disfungsi ejakulasi," ucap perempuan yang kerap disapa Eby itu. 

Rani mengonfirmasi kalau efek tahan lama dari tisu magic justru menjadi persoalan. Menurutnya, sebagai perempuan dia tak butuh durasi yang benar-benar lama. Dia malah merasa penggunaan tisu magic menimbulkan rasa tidak nyaman selama berhubungan.

"Kalau aku sebagai cewek, sebenernya ga butuh yang lama-lama banget juga. Justru kalau kelamaan banget jadi ga dapet feelnya," kata Rani.

Rani mengakui, Budi dapat membawanya ke puncak orgasme saat menggunakan tisu magic. Hanya saja, durasi terlalu lama yang ditimbulkan justru mengaburkan kenikmatan yang dia rasakan.

"Tahan lama itu bukan berarti enak ya, di aku malah gak nyaman aja. Kalau gak pake malah rasanya lebih ngalir," sambung Rani.

Lingkaran Setan Kecemasan dan Tanda Kejantanan

Ilustrasi pasangan mengalami masalah seksual. (Freepik)

Selain kepercayaan diri, keinginan untuk memuaskan pasangan menjadi alasan lain laki-laki menggunakan produk semacam tisu magic. Lembaran tisu basah ini menjadi jalan pintas instan yang memberi jaminan pada lelaki untuk memberi kepuasan pada pasangan. Ini memberi perasaan pada lelaki bahwa dia memegang kendali.

Hanya saja, ini justru dapat menimbulkan ketagihan psikologis, sehingga tisu magic menjadi andalan setiap kali hendak berhubungan badan. Lelaki seperti ini gagal mencari solusi mengatasi rasa cemas tak bisa memuaskan pasangan, dengan menggantungkan diri pada faktor di luar dirinya.

"Dia jadi mengandalkan atribut-atribut dari aksesoris seperti tisu magic, untuk melengkapi fungsi dia sebagai laki-laki," kata Yulisa.

"Mempengaruhi self esteem, karena dia jadi meyakini bahwa kalau saya tidak menggunakan alat bantu ini, saya tidak berfungsi sebagai laki-laki," sambung Yulisa yang juga founder Rumah Psikologi Eunoia.

Psikolog Yulisa Susanti. (Dok. Pribadi)

Psikolog klinis asal AS, Amanda Hughes, melihat pola serupa dalam praktiknya.

“Produk instan seperti ini menggeser kepercayaan diri dari kemampuan internal ke alat eksternal,” ujarnya. “Ini bisa memperkuat rasa tidak aman.”

Ia menyebut kecemasan performa sebagai lingkaran setan, yaitu timbulnya perasaan semakin cemas, ini membuat performa makin menurun, lalu ketergantungan makin kuat sehingga sulit dilepaskan.

Kondisi ini juga membuat aktivitas hubungan badan dengan pasangan jadi hanya sebatas performa, bukan lagi membangun kedekatan emosional dan ikatan intim.

Menurut Febrizky, keintiman dan kedekatan emosional merupakan hal penting dalam hubungan seksual. Karena itu, Humas Asosiasi Seksologi Indonesia itu mengingatkan tisu magic berpotensi menghilangkan kualitas hubungan ini. 

"Seks kan untuk merasa. Kalau tidak merasakan kenikmatan, apa dong enaknya. Paling merasa perkasa, tapi ya gak nikmatlah," katanya.

Interaksi Aktif Dua Arah

Ilustrasi interaksi aktif dua arah dalam hubungan pasangan. (Freepik)

Sebagai aktivitas pasangan, hubungan badan seharusnya dilakukan dengan interaksi aktif masing-masing personal. Kedua belah pihak harus sama-sama merasakan dan menikmati kenikmatan yang muncul di dalam aktivitas ini. 

Karena itu, komunikasi dan keterbukaan menjadi kunci untuk mencapai kepuasan dan kenikmatan bersama.

Baca juga: Biar Nggak Hambar! Ini 3 Kebiasaan Sederhana yang Bikin Cinta Suami Istri Tetap Menyala

"Kita bisa tukeran fantasi, preferensi, mana yang disukai dan mana yang gak disukai. Kenali juga titik-titik rangsang dan G-spot pasangan kamu," kata Febrizky.

Kalau pun seorang lelaki tak bisa bertahan selama durasi perempuan pasangannya, dia masih bisa mensiasatinya tanpa perlu memakai alat bantu semacam tisu magic. Kuncinya adalah mendahulukan perempuan mencapai puncak kenikmatan.

"Pastikan kamu ejakulasi setelah pasangan kamu orgasme, karena kalau kamu duluan, nanti keburu loyo yang pastinya bikin pasangan keburu turn off," katanya.

Namun jika seorang lelaki terus menerus ejakulasi dalam kurun waktu kurang dari 1 menit setelah memulai berhubungan, Evy menyarankan untuk mendatangi ahli andrologi untuk mendapatkan penanganan profesional.

Hal yang sama perlu dilakukan jika muncul gangguan emosional dengan pasangan akibat hubungan seksual yang tidak memuaskan selama lebih dari 3 bulan.

"Atau disertai riwayat diabetes, gangguan ereksi, atau gangguan kecemasan berat dan penyakit degenerative lain yang berkaitan, mending segera ke dokter," kata Evy.

Hal lain yang juga penting dilakukan menjaga pola hidup sehat dengan tidur yang cukup sesuai kebutuhan, olahraga, serta senam kegel. Lakukan juga manajemen stress dengan baik, tidak mengakses konten pornografi, serta latihan mindfullness, yaitu fokus pada apa yang terjadi di sekitar diri saat ini. 

Sebab seperti kata Rani, yang dicari perempuan bukan durasi semata. Tapi kenyamanan. Koneksi. Rasa hadir.

“Yang penting itu saling puas,” kata Febrizky. “Bukan alatnya.”

Di rak minimarket, selembar tisu itu masih ada. Akan selalu ada. Yang perlu dipertanyakan bukan seberapa kuat efeknya, tapi kenapa kita merasa membutuhkannya.

Dari pengalaman-pengalaman personal ini, pertanyaan yang muncul bukan lagi soal durasi, melainkan tentang makna keintiman itu sendiri.

Karena mungkin yang sedang rapuh bukan tubuh, melainkan kepercayaan bahwa diri kita sendiri sudah cukup, tanpa perlu bergantung pada alat apapun.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU