Minggu, 21 DESEMBER 2025 • 19:46 WIB

Timnas Indonesia U-22 Gagal Total di SEA Games 2025: Juara Bertahan Layu Sebelum Mekar!

Author

Timnas Indonesia U-22 sebelum lawan Myanmar. (ANTARA FOTO/NAY)

INDOZONE.ID - Timnas Indonesia U-22 datang ke cabang olahraga (cabor) sepak bola putra SEA Games 2025 Thailand sebagai juara bertahan. Alih-alih mempertahankan gelar, Garuda Muda justru gugur di fase grup!

Timnas Indonesia U-22 tergabung di Grup C bersama Filipina dan Myanmar. Di atas kertas, Timnas Indonesia U-22 diprediksi bisa lolos ke semifinal sebagai juara Grup C.

Kapten Timnas Indonesia U-22, Ivar Jenner, lawan pemain Filipina. (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)

Kamu harus tahu, untuk menjadi semifinalis, tim mesti menjadi juara grup atau mendapat predikat runner up terbaik.

Timnas Indonesia U-22 nyatanya gagal menjadi juara Grup C usai kalah 0-1 dari Filipina dan menang 3-1 atas Myanmar.

Baca juga: Timnas Indonesia U-22 Gagal Total di SEA Games 2025 Thailand, PSSI Pecat Indra Sjafri

Bahkan, Timnas Indonesia U-22 juga gagal saing dalam perebutan predikat runner up terbaik. Pasukan asuhan Indra Sjafri kalah saing dari wakil Grup B, Malaysia.

Meski sama-sama mengoleksi tiga poin, Timnas Indonesia U-22 kalah agresivitas gol dari Malaysia.

Klasemen Akhir Runner Up Terbaik

  1. Malaysia - 2 laga, 3 poin, 4 gol, 3 kemasukan gol, selisih gol +1
  2. Timnas Indonesia U-22 - 2 laga, 3 poin, 3 gol, 2 kemasukan gol, selisih gol +1
  3. Timor Leste - 2 laga, 3 poin, 4 gol, 7 kemasukan gol, selisih gol -3

Semifinalis cabor sepak bola putra SEA Games 2025 berisikan Thailand (juara Grup A), Vietnam (juara Grup B), Filipina (juara Grup C), dan Malaysia.

Baca juga: Timnas Indonesia U-22 Gagal Total di SEA Games 2025 Thailand, Sumardji Juga Heran!

Di semifinal, Thailand menang 1-0 atas Malaysia, sementara Vietnam membungkam Filipina 2-0.

Final mempertemukan Thailand dan Vietnam di Stadion Rajamangala, Bangkok, Kamis 18 Desember 2025, malam WIB. Vietnam meraih medali emas setelah comeback menang 3-2 atas tuan rumah.

Sementara itu, kegagalan Timnas Indonesia U-22 kali ini mengulang catatan buruk yang terjadi di SEA Games 2009 Laos. Kala itu, Garuda Muda gugur di fase grup setelah kalah dari Laos dan kena bantai Myanmar.

Fans Timnas Indonesia U-22: Sakit Rasanya!

Kegagalan selalu meninggalkan kekecewaan. Itu yang dirasakan salah satu fans setia Timnas Indonesia, baik senior maupun kelompok umur, Wikanto Arungbudoyo.

Kepada INDOZONE, ia mengaku kecewa dengan gugurnya Timnas Indonesia U-22 di fase grup. Apalagi, Garuda Muda datang ke SEA Games 2025 dengan predikat juara bertahan.

"Kegagalan tentu menyesakkan dari sisi fans. Apalagi, kandasnya di fase grup. Status juara bertahan, target perak, tapi harus terhenti lebih cepat. Sakit rasanya!" kata Arung.

Meski sangat kecewa, Arung tidak mau mental para pemain Timnas Indonesia U-22 terpuruk terlalu lama meratapi kegagalan ini. Ia berharap kegagalan jadi pelajaran bagi para pemain muda, supaya lebih baik lagi di masa depan.

"Buat para pemain, jadikan kegagalan sebagai motivasi. Jangan menyerah apalagi jadi kecil hati. Kritik bolehlah diterima dengan terbuka asal untuk kebaikan. Tingkatkan performa di level klub, kejar mimpi di level lebih besar," jelasnya.

Permintaan Maaf dan Pemecatan Indra Sjafri

Lalu, atas kegagalan Timnas Indonesia U-22, Indra Sjafri yang membawa Garuda Muda memenangkan medali emas SEA Games 2023 Kamboja, meminta maaf kepada masyarakat Indonesia.

“Pertama-tama, kita tidak lolos grup. Secara teknis, orang yang paling bertanggung jawab adalah saya,” kata Indra Sjafri, melalui audio yang diberikan PSSI, dikutip pada Jumat (19/12/2025).

“Jadi, saya mohon maaf (kepada) semua masyarakat Indonesia. Dan, secara teknis saya ulangi lagi ini tanggung jawab saya,” jelas Indra Sjafri.

Permintaan maaf ternyata tidak cukup untuk menyelamatkan karier Indra Sjafri di PSSI. Induk sepak bola Indonesia itu pun memecat Indra Sjafri.

Pelatih Timnas Indonesia U-22, Indra Sjafri. (ANTARA FOTO/Fauzan)

Pemecatan Indra Sjafri diumumkan oleh Ketua Badan Tim Nasional (BTN), Sumardji, dalam konferensi pers hasil SEA Games 2025 di Kantor I.League, Selasa 16 Desember 2025, malam WIB.

Sumardji tidak sendirian dalam konferensi pers tersebut. Ia ditemani oleh anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Endri Erawan.

"Dengan ini kami sepakat melakukan evaluasi yang pertama adalah pengakhiran hubungan kerja antara Coach Indra Sjafri dengan PSSI atau federasi," kata Sumardji kepada padar awak media, termasuk INDOZONE.

Baca juga: Timnas Indonesia U-22 Gugur dari SEA Games 2025 Thailand, Jens Raven: Maaf dan Terima Kasih Dukungannya

Pengakhiran kerja sama ini juga termasuk untuk peran Indra Sjafri di Direktur Teknik PSSI. Meski demikian, PSSI membayar hak Indra Sjafri sesuai kontrak.

"Berkaitan dengan pengakhiran kerja sama dengan federasi, itu secara keseluruhan, baik sebagai head coach SEA Games maupun sebagai bagian daripada Direktur Teknik, sehingga yang berkaitan dengan PSSI, Coach Indra terhitung hari ini hubungan kerjanya sudah berakhir semuanya," jelas Sumardji.

Selain pemecatan Indra Sjafri, Sumardji juga mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Manajer Timnas Indonesia, baik senior, junior, maupun SEA Games.

Ia akan fokus pada perannya sebagai Ketua BTN yang juga akan berkaitan erat dengan Timnas Indonesia.

Sumardji berharap Ketua Umum (Ketum) PSSI, Erick Thohir, bisa memilih sosok yang tepat untuk mengemban jabatan itu.

Jeblok di SEA Games 2025, Performa Timnas Indonesia U-22 Tak Masuk Akal

Pemecatan telah dilakukan, tetapi kegagalan Timnas Indonesia U-22 di SEA Games 2025 tetap terasa menyakitkan.

Baca juga: Timnas Indonesia U-22 Gugur di SEA Games 2025 Thailand, Ivar Jenner Minta Maaf hingga Janji Akan Bangkit

Apalagi, Timnas Indonesia U-22 datang dengan skuad berkualitas yang diperkuat pemain-pemain diaspora, seperti Ivar Jenner, Mauro Zijlstra, dan Dion Markx.

Selain itu, persiapan Timnas Indonesia U-22 sudah matang dengan dua kali melawan India dan Mali. 

Tak ayal, Sumardji menilai Timnas Indonesia U-22 edisi SEA Games 2025 paling tidak masuk akal karena justru gagal bersinar.

Ketua BTN, Sumardji, dalam konferensi pers di Kantor I.League, Selasa 17 Desember 2025. (ANTARA FOTO/Putra M. Akbar)

"Saya sendiri jujur saja, ini tim yang paling sulit, paling susah, dan paling tidak masuk akal ya di SEA Games ini," kata Sumardji.

Meski awalnya mengira Timnas Indonesia U-22 minimal bawa pulang perak sesuai target Kemenpora, Garuda Muda justru tak mampu lolos dari fase grup.

Dari kacamata Sumardji, keberuntungan bak menjauh dari Timnas Indonesia U-22 di SEA Games 2025.

"Makanya, ketika hasilnya, menurut saya, keberuntungan menjauh sekali, ini juga bingung saya. Makanya sempat viral saya termenung, saya terkaget-kaget memang, menurut saya aneh. Saya sudah biasa bawa tim, bukan saya mengecilkan, selama ini di Asia Tenggara saya bawa tim lawan Filipina belum pernah kalah," tambahnya. 

Penyebab Timnas Indonesia U-22 Gagal Total di SEA Games 2025

Lantas apa yang menyebabkan Timnas Indonesia U-22 Gagal? Untuk menjawab pertanyaan ini, INDOZONE bertanya kepada pengamat sepak bola nasional, Rizal Pahlevi, beberapa waktu lalu.

Baca juga: Timnas Indonesia U-22 Tersingkir dari SEA Games 2025, Arya Sinulingga: Silahkan Tanya yang Mengerti!

Menurutnya, pergantian pelatih yang terlalu sering membuat gaya main Timnas Indonesia U-23 tidak konsisten.

Sebut saja, Timnas Indonesia U-22 bermain dengan serangan balik di bawah asuhan Shin Tae-yong (STY). Saat bersama Gerald Vanenburg, Timnas Indonesia U-22 berusaha menguasai bola lebih banyak. Teranyar, di bawah asuhan Indra Sjafri, gaya main Timnas Indonesia U-22 lebih fleksibel.

“Timnas Indonesia U-22 gagal di SEA Games 2025 Thailand, karena masalah teknis. Garuda Muda sudah ditangani oleh beberapa pelatih, STY counter attack, Gerald Vanenburg penguasaan bola, dan Indra Sjafri fleksibel, yang membuat ketidakkonsistenan permainan. Setiap pelatih membawa gaya main masing-masing,” ungkap Rizal Pahlevi saat dihubungi INDOZONE.

Alhasil, pergantian pelatih dalam waktu berdekatan tidak berdampak baik bagi Timnas Indonesia U-22.

Meski memiliki pemain-pemain berkualitas, Timnas Indonesia U-22 butuh gaya main yang tetap, untuk meraih prestasi di turnamen seperti SEA Games 2025.

Kegagalan Timnas Indonesia U-22 Menyakitkan, tapi Juga Jadi Pelajaran

Bagaimanapun, nasi telah menjadi bubur. Timnas Indonesia U-22 gagal mempertahankan medali emas di SEA Games 2025.

Namun, hikmah selalu ada di balik pengalaman pahit. Nah, dari kegagalan Timnas Indonesia U-22, PSSI dinilai harus belajar serius dalam menggelar kompetisi kelompok umur secara konsisten.

Hal itu diungkapkan oleh pengamat sepak bola nasional, Abdul Harris, saat dihubungi INDOZONE beberapa waktu lalu.

Timnas Indonesia U-22 sebelum lawan Filipina. (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)

Bung Ais -sapaan akrab Abdul Harris- menilai regulasi satu dari lima pemain U-23 (maksimal kelahiran 1 Januari 2003), wajib bermain sebagai starter selama minimal 45 menit di Super League 2025/2026, sudah bagus.

Namun, Bung Ais juga melihat regulasi itu saja tidak cukup. Pasalnya, tidak semua pemain U-23 memiliki waktu bermain yang cukup dengan regulasi tersebut. 

Menurutnya, kompetisi kelompok umur harus ada secara reguler seperti Super League. Keberadaan kompetisi kelompok umur tersebut menandakan Indonesia punya ekosistem sepak bola yang sehat.

Kompetisi kelompok umur tersebut jadi wadah untuk menelurkan para pemain muda berbakat, yang siap main di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.

Baca juga: Timnas Indonesia U-22 Gugur di SEA Games 2025, Indra Sjafri Minta Maaf: Ini Tanggung Jawab Saya!

Selain itu, para pemain muda tersebut nantinya dapat membela Timnas Indonesia, baik senior maupun junior. 

Ketika berada di level Timnas Indonesia, mereka bisa bersaing dengan para pemain diaspora secara seimbang. Dengan kata lain, tidak ada perbedaan kualitas terlalu jauh antara pemain diaspora dan lokal.

Bung Ais bahkan meminta PSSI dan penyelenggara liga berkaca pada Jepang. Dengan kompetisi berjenjang, mulai dari kelompok umur hingga senior, pemain Jepang kini bermain di berbagai belahan dunia.

“Kita mesti belajar kayak Jepang. Banyak kompetisi di Jepang, ada kelompok umur, liga mahasiswa, gitu,” ungkap Bung Ais kepada INDOZONE.

Baca juga: Syarat Timnas Indonesia U-22 Lolos ke Semifinal SEA Games 2025 Thailand

“Pemainnya ada di seluruh dunia. Pelatih Jepang Hajime Moriyasu juga sampe bingung menentukan pemain yang dibawa ke turnamen, Piala Asia, Piala Dunia. Sebab, terlalu banyak opsi,” sambungnya.

“Ini yang mesti kita jalankan juga. Tanpa kompetisi bagus, mustahil punya timnas yang oke,” jelas wartawan olahraga senior ini.

Penghujung 2025 sudah di depan mata, pergantian tahun seharusnya jadi momen evaluasi PSSI perihal performa Timnas Indonesia, baik senior maupun junior.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wawancara, Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU