Rabu, 06 AGUSTUS 2025 • 12:17 WIB

Sejarah Urbanisasi di Jakarta, Awal Mula Ibu Kota Jadi Magnet Pendatang Pasca Kemerdekaan

Author

Ilustrasi urbanisasi besar-besaran di Jakarta. (Foto ini dibikin dengan prompt ChatGPT.)

INDOZONE.ID - Sejak Indonesia merdeka, Jakarta selalu jadi simbol harapan bagi masyarakat yang ingin mengubah nasib. Apalagi setelah dipindahkannya Ibu Kota dari Yogyakarta ke Jakarta pada 1949, kota ini menjadi pusat pemerintahan, ekonomi dan pembangunan.

Sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan, Jakarta berkembang pesat dan menyediakan peluang kerja yang menjadi magnet bagi pendatang. 

Hal ini lantas menciptakan urbanisasi besar-besaran di Jakarta. Banyak masyarakat dari berbagai daerah datang ke Jakarta ingin mengubah nasib dan mencari kehidupan yang lebih baik.

Namun, tidak semua migran terserap dalam lapangan kerja formal, sehingga banyak yang bekerja di sektor informal atau menjadi pekerja musiman dan komuter.

Baca juga: Sisi Gelap Batavia, Jejak Prostitusi di Jakarta Semasa Masih Jadi Kota KolAonial

Sejarah Urbanisasi Besar-Besaran di Jakarta

Seperti yang diungkap dalam jurnal "Menuju Masyarakat Urban: Sejarah Pendatang di Kota Jakarta Pasca Kemerdekaan (1949-1970)" karya Rahadian Ranakamuksa Candiwidoro1 yang diterbitkan dalam "Jurnal Pemikiran Sosiologi Volume 4 No. 1 (Januari 2017), Jakarta menjadi magnet kuat bagi para pendatang. Mereka berbondong-bondong ke Jakarta dengan harapan mendapat pekerjaan yang layak, pendidikan dan gaya hidup modern.

Populasi melonjak dari 823.000 jiwa pada 1948 menjadi 1.782.000 jiwa pada 1952, sebagian karena perluasan wilayah kota pada 1950 yang membuat Kotapraja Jakarta Raya menjadi tiga kali lebih luas. Namun, faktor utama pertumbuhan penduduk adalah migrasi besar-besaran dari wilayah padat di Jawa maupun luar Jawa. 

Tak sedikit yang menganggap Jakarta bukan sekadar kota metropolitan, tapi juga simbol kemerdekaan dan kemakmuran.

Beberapa alasan orang-orang datang ke Jakarta karena:

  • Kesulitan Ekonomi
  • Minimnya lapangan kerja di desa
  • Konflik dan pemberontakan
  • Jakarta dianggap sebagai lambang kemerdekaan dan modernitas

Masyarakat desa melihat Jakarta sebagai jalan keluar dari masalah. Tak sedikit yang rela meninggalkan kampung halaman demi mencari kehidupan layak di Jakarta.

Meski dalam perjalananya menemui banyak tantangan dan rintangan, namun semangat bertahan hidup para pendatang berkontribusi besar dalam membangun wajah kota Jakarta hingga sampai saat ini.

Dampak Urbanisasi

Tingginya arus urbanisasi membuat kota ini makin padat. Bisa dibilang populasi di Jakarta menggendut setiap tahunnya. Makin banyak orang yang datang, maka makin banyak juga kebutuhan yang harus dipenuhi.

Misalnya kebutuhan akan tempat tinggal yang semakin tinggi, pembangunan infrastruktur, transportasi umum yang murah dan nyaman, hingga lapangan kerja untuk para pendatang baru.

Data sensus penduduk 1971 menunjukkan bahwa hampir seluruh provinsi di Indonesia menyumbangkan pendatang ke Jakarta, dengan mayoritas berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat

Alhasil, lahan semakin sempit, harga rumah makin mahal, jalanan tambah macet hingga persaingan di dunia kerja yang semakin ketat.

Kondisi ini menciptakan gentrifikasi dan masalah sosial di Jakarta. Banyak yang hidup di pemukiman kumuh, bekerja di sektor non formal seperti pemulung, tukang becak, pedagang di pasar hingga tukang parkir.

Ilustrasi pendatang yang tidak sukses di Jakarta. (Foto ini dibikin dengan prompt ChatGPT.)

Apalagi para pendatang ini tidak memiliki KTP Jakarta, sehingga rentan mengalami razia.

Kebijakan Ali Sadikin yang Tak Efektif

Saking masifnya gelombang urbanisasi, tahun 1970, gubernur Ali Sadikin menutup pintu masuk ke Jakarta.

Ali Sadikin menilai langkah ini bisa menekan arus migrasi dan menjaga wajah Jakarta sebagai kota metropolitan modern. Namun, ternyata kebijakannya kurang efektif.

Belum lagi campuran etnis yang menjadikan Jakarta sebagai kota multikultural. Meski keberagaman ini memperkaya budaya, namun di sisi lain menjadi tantangan baru.

Salah satunya adalah adanya wilayah-wilayah yang diisi oleh etnis tertentu. Misalnya Glodok dikenal sebagai kawasan pecinan, Tanjung Priok banyak dihuni warga Bugis dan Makassar, sementara warga Minang banyak terkonsentrasi di sekitar Pasar Senen.

Meski demikian, urbanisasi ini juga menciptakan peluang. Sektor-sektor baru bermunculan, ekonomi jadi hidup dan kehidupan yang semakin dinamis.

Para pendatang ini datang bukan cuma bermodal semangat datang ke Jakarta, tetapi mereka juga membawa ide-ide baru dan keberanian untuk melakukan semua dari nol.

Warisan Positif Urbanisasi Jakarta

Kota Jakarta. (dok. Freepik/EyeEm)

Meski tak semua para pendatang meraih kesuksesan di Jakarta, tapi ada juga yang berhasil bangkit dan berkontribusi dalam membangun kota ini.

Banyak juga pendatang tahu bagaimana bisa bertahan di kota ini. Dengan kemampuan skill yang matang, mereka tumbuh menjadi profesional, sosok yang dicari para pencari kerja yang kemudian membantu pendapatan pajak daerah.
Pembangunan pun berjalan, meski banyak tersendat dan masih banyak masalah yang harus dibenahi di sana sini, kota Jakarta menjadi agen modernisasi dan perubahan sehingga bisa ditiru daerah lain, seperti yang dikutip dari situs bpmbkm.uma.ac.id.

Baca juga: 5 Tempat Paling Angker di Jakarta dengan Kisah Paling Menyeramkan!

Bahkan urbanisasi yang terjadi di Jakarta secara tak sengaja menciptakan kolaborasi di berbagai sektor. Hal ini menjadi sesuatu yang berharga untuk masa depan Jakarta sebagai kota mega metropolitan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Jurnal Rahadian Ranakamuksa Candiwidoro, Amatan

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU