Fenomena Gen Z Curhat ke AI: Saat ChatGPT Jadi Tempat Mencari Jawaban dan Validasi Emosi
INDOZONE.ID - Destia menatap layar ponselnya cukup lama malam itu. Mengetik, berhenti untuk berpikir, mengetik lagi, begitu berulang kali.
Bukan sedang mengetik chat untuk teman atau pacarnya, saat itu Destia sedang mengetik pertanyaan panjang ke ChatGPT.
Hari itu sebenarnya tidak terjadi sesuatu yang besar. Destia tidak sedang ribut atau adu mulut dengan siapapun.
Namun ada percakapan singkat dengan temannya yang membuatnya overthinking. Kalimat yang mungkin terdengar biasa bagi orang lain, tapi justru terus berputar di kepalanya.
Alih-alih menghubungi sahabat atau membuat unggahan curhat di media sosial, perempuan kelahiran 2003 itu memilih membuka aplikasi AI.
"Aku cuma pengen tau, sebenarnya aku yang terlalu sensitif atau memang ada yang salah dari situasinya," kata Destia kepada jurnalis Indozone.
Beberapa detik kemudian, jawaban muncul. Bukan cuma memberi solusi, chatbot dari OpenAI itu juga menjelaskan berbagai kemungkinan dari sudut pandang yang berbeda.
Bagi Destia, respons seperti itulah yang membuatnya semakin sering menjadikan AI sebagai tempat bertanya sekaligus mencari validasi emosi.
Dari Iseng Jadi Kebiasaan
Destia mengaku mulai menggunakan ChatGPT sekitar setahun lalu. Awalnya hanya untuk membantu tugas kuliah dan pekerjaan, namun perlahan fungsinya berubah.
"Awalnya buat tugas sama nyari ide kerjaan. Lama-lama malah jadi tempat curhat juga," ujarnya.
Topik yang dibawa Destia ke room chat itu pun beragam. Mulai dari masalah pekerjaan, hubungan asmara, konflik pertemanan, hingga keresahan yang sulit dijelaskan.
Baca juga: 6 dari 10 Anak Muda Urban Pilih Self Diagnosis Pakai ChatGPT saat Sakit, Peneliti Ungkap Bahayanya
Tak jarang, ia menyalin percakapan yang membuatnya bingung atau overthinking seperti saat itu, lalu meminta AI membantu menganalisis situasi tersebut.
"Kalau ke teman kadang aku mikir mereka lagi sibuk atau nggak. Kadang juga takut di-judge," ungkapnya.
Menurutnya, AI menawarkan sesuatu yang tidak selalu didapatkan dari manusia, yakni selalu tersedia kapan aja.
AI yang Selalu Siap Mendengarkan
Bukan cuma Destia, fenomena menjadikan AI sebagai tempat curhat kini semakin sering ditemukan di kalangan anak muda, khususnya gen z.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Acta Psychologica pada 2026, menemukan bahwa banyak anak muda menggunakan AI percakapan seperti Meta di WhatsApp, sebagai bentuk digital companionship atau teman digital.
Penggunaan AI berkaitan dengan kebutuhan mendapatkan dukungan emosional, terutama saat merasa kesepian atau mengalami kecemasan sosial.
Bahkan, sejumlah penelitian menunjukkan alasan utama pengguna nyaman bercerita kepada AI adalah karena chatbot dianggap tidak menghakimi, selalu tersedia 24 jam, dan mampu memberikan respons yang terstruktur.
Psikolog: AI Tak Bisa Gantikan Terapi
Psikolog klinis Leonita Ariesti Putri, menjelaskan bahwa AI memang dapat menjadi tempat untuk menuangkan pikiran dan memperoleh respons dengan cepat.
Tak heran jika banyak orang merasa terbantu saat sedang bingung, overthinking, atau membutuhkan sudut pandang lain.
Namun, AI memberikan keterbatasan yang tidak dimiliki manusia, yakni kehadiran dengan terapi.
Menurut Leonita, terapi bukan sekadar memberikan jawaban atas sebuah masalah, tapi juga membantu seseorang memahami akar dari perasaan, pola pikir, dan pengalaman yang membentuk dirinya.
AI mungkin bisa menjawab pertanyaan seperti "apa yang harus saya lakukan?", tetapi terapi membantu seseorang memahami "mengapa saya merasa seperti ini?".
Dalam praktiknya, psikolog tidak hanya mendengarkan keluhan yang muncul di permukaan.
Mereka juga membantu klien mengenali pola perilaku, konflik batin, luka emosional, hingga kebutuhan psikologis yang mungkin selama ini tidak disadari.
Karena itu, keberhasilan terapi bukan semata-mata diukur dari apakah masalah langsung selesai, melainkan dari kemampuan seseorang untuk lebih memahami dirinya sendiri.
"AI bisa membantu memberikan perspektif dan informasi. Tetapi untuk memahami emosi secara mendalam, membangun kesadaran diri, serta memproses pengalaman hidup yang kompleks, peran manusia tetap tidak tergantikan," jelas Leonita.
Apakah AI Bisa Membantu Mengelola Emosi?
Menurut Psikolog sekaligus profesor di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) Rose Mini Agoes Salim, AI memang memiliki manfaat tertentu.
Jika digunakan secara tepat, chatbot dapat membantu seseorang mengurai pikiran yang kusut, mengenali emosi yang sedang dirasakan, hingga melihat masalah dari berbagai sudut pandang.
Hal ini juga ditemukan dalam sejumlah penelitian yang menunjukkan AI berpotensi menjadi dukungan emosional tambahan bagi pengguna yang mengalami stres atau kesepian.
"Terkadang orang hanya membutuhkan tempat untuk menuangkan isi kepala. AI bisa membantu proses itu," jelas Rose.
Risiko Jika Terlalu Bergantung
Meski begitu, ada juga risiko yang ditimbulkan jika seseorang terlalu sering mengandalkan AI untuk kebutuhan emosional.
Penelitian dari MIT Media Lab menemukan bahwa penggunaan chatbot secara intens dalam jangka panjang, meningkatkan ketergantungan emosional terhadap AI dan mengurangi interaksi sosial dengan manusia.
Hubungan sosial adalah keterampilan yang perlu "dibor". Kalau semua kebutuhan emosional dilimpahkan ke AI, kemampuan berkomunikasi, berempati, dan menyelesaikan konflik dengan manusia bisa berkurang.
Bukan cuma itu, beberapa penelitian menemukan chatbot terkadang terlalu mudah memvalidasi pendapat pengguna atau cenderung mengatakan apa yang ingin didengar seseorang.
Sementara itu, Sosiolog Universitas Indonesia Nadia Yovani, melihat fenomena ini sebagai bagian dari perubahan budaya yang lebih besar.
Menurutnya, gen z merupakan generasi yang sejak kecil hidup berdampingan dengan internet, media sosial, dan teknologi digital.
"Mereka terbiasa mendapatkan informasi dan respons secara instan. AI hadir memenuhi kebutuhan tersebut," ungkap Nadia Yovani.
Dia menilai chatbot menawarkan kombinasi yang sulit ditolak, karena cepat, praktis, personal, dan selalu tersedia.
Apakah Ini Berkaitan dengan Kesepian?
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pengguna yang merasa lebih kesepian atau memiliki kecemasan sosial, cenderung lebih sering menggunakan AI percakapan sebagai teman diskusi.
Namun Nadia menilai masalahnya bukan sekadar teknologi. Menurutnya, AI sebenarnya hanya mengisi ruang kosong yang sudah ada.
Ruang kosong yang dimaksud adalah berkurangnya interaksi tatap muka, semakin sibuknya kehidupan sosial, serta meningkatnya kecenderungan individu untuk menyelesaikan masalah secara mandiri.
Di media sosial, anak muda terbiasa mengungkapkan perasaan melalui layar. Mereka terbiasa menulis status, membuat unggahan, atau berbagi cerita melalui aplikasi pesan.
Baca juga: Apa yang Tidak Bisa Digantikan oleh AI? Memahami Kebutuhan Dasar Manusia
Oleh karena itu, berbicara dengan AI terasa seperti kelanjutan yang mereka alami dari kebiasaan digital yang sudah lebih dulu terbentuk.
Fenomena ini juga banyak dibahas dalam kajian sosiologi digital yang melihat chatbot sebagai bentuk baru interaksi sosial antara manusia dan teknologi.
AI Bisa Memberi Jawaban, tapi Tak Bisa Gantikan Manusia
Meski sering curhat ke AI, Destia mengaku tetap ada batas yang tidak bisa dilewati teknologi.
"Kalau sedih banget atau habis energi, tetap pengennya ngobrol sama orang," ungkap Destia.
Ia mengakui AI membantunya memahami situasi dan rangkaian pikiran yang berantakan. Bahkan beberapa kali ia meminta AI membuatkan balasan chat untuk teman, pacar, maupun urusan pekerjaan.
Namun, untuk mendapatkan rasa nyaman yang sesungguhnya, ia tetap mencari manusia.
"AI bisa kasih jawaban. Tapi manusia bisa kasih pelukan, ekspresi dan rasa dimengerti," jelasnya.
Mungkin disitulah letak fenomena ini. Di tengah dunia yang semakin digital, AI menjadi tempat persinggahan baru bagi gen z untuk mencari perspektif dan menenangkan pikiran.
Namun pada akhirnya, kebutuhan paling dasar manusia masih sama seperti dulu, yakni ingin didengar, dipahami, dan terhubung dengan manusia lain.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan