Cerita Astronom soal Mitos Gerhana di Indonesia
Ahli astronomi sekaligus anggota Badan Hisab Rukyat Kementerian Agama (Indozone.id/Nani Suherni).
Fakta Dan Mitos

Cerita Astronom soal Mitos Gerhana di Indonesia

Kamis, 26 Desember 2019 11:45 WIB 26 Desember 2019, 11:45 WIB

INDOZONE.ID - Ahli astronomi sekaligus anggota Badan Hisab Rukyat Kementerian Agama, Cecep Nurwendaya, mengatakan fenomena gerhana kerap dikaitkan dengan deretan mitos di Indonesia.

Bahkan, Cecep mengatakan karena mitos itu tak jarang warga Indonesia zaman dulu tak bisa menikmati indahnya gerhana bulan dan matahari. Salah satu yang masih membekas dalam ingatannya adalah saat berkunjung ke Kecamatan Cepu, Blora, Jawa Tengah. 

"Saya ingat sekali 11 Juni 1983, waktu itu mitos masih banyak, saya waktu itu ada di Cepu, Migas Cepu dengan pengamat internasional. Itu karena mereka bule makanya pada saat gerhana mereka semua datang. Akan tetapi, warga sana malah menghilang semua, rupanya masuk rumah. Sumur ditutup katanya takut keracunan, pintu dan jendela ditutup semua, sudah selesai keluar lagi," ujar Cecep kepada Indozone, Kamis (26/12).

Saat itu, para turis dan ahli astronom internasional terkejut melihat reaksi warga. Padahal ungkap Cecep banyak warga luar negeri yang sengaja ke Indonesia, untuk memburu gerhana matahari dan bulan.

"Bule geleng-geleng kepala, saya bertahun-tahun mengumpulkan uang untuk ke Indonesian melihat gerhana matahari yang 5 menit, 11 Juni 1983, lah kok mereka disana malah ngumpet," tutur Cecep.

Cecep pun menjelaskan tentang deretan mitos yang terjadi di masyarakat soal gerhana matahari dan bulan. Warga Jawa dan pemeluk Hindu mengenal istilah Betara Kela yang hendak hidup abadi dengan menelan nektar, sehingga bisa mengalahkan matahari dan bulan.

Akan tetapi, niat Betara Kala pupus karena sebelum menelan tuntas nektarnya, ia dipanah di bagian lehernya.

"Dia dendam sama matahari jadi setiap masuk dia kejar terus, kalau kena ya jadi gerhana matahari, makanya kalau kena gitu masyarakat banyak yang mukul lesung. Ada yang mengatakan bahwa lesung itu jelmaan dari tubuhnya Betara kala. Supaya Betara Kala memuntahkan kembali," tambahnya.

Sementara, di kalangan warga China, mitos terjadi gerhana matahari dan bulan karena adanya naga raksana. Di Vietnam justru muncul katak yang diikat agar tak memakan matahari dan bulan, sedangkan di Korea dimitoskan dengan sosok serigala.


Artikel Menarik Lainnya

TAG
Alwan
Ivanrida
Nani Suherni
Alwan

Alwan

Editor
Ivanrida

Ivanrida

Writer
Nani Suherni

Nani Suherni

Reporter

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU