The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Studi Temukan Diet Tinggi Lemak Sebabkan Kanker Usus dan Usus Besar
Ilustrasi makanan diet tinggi lemak. (photo/Ilustrasi/Pexels/Rachel Claire)
Fakta Dan Mitos

Studi Temukan Diet Tinggi Lemak Sebabkan Kanker Usus dan Usus Besar

Minggu, 13 Juni 2021 15:18 WIB 13 Juni 2021, 15:18 WIB

INDOZONE.ID - Baru-baru ini, terdapat sebuah studi baru yang menemukan bahwa diet tinggi lemak dapat memicu serangkaian penyakit yang mengarah pada kanker usus dan usus besar. Temuan penelitian ini dipublikasipklan di jurnal 'Cell Reports'. Selama beberapa dekade, dokter dan ahli gizi telah mendesak orang untuk batasi asupan makanan tinggi lemak, mengutip hubungan dengan hasil kesehatan yang buruk dan beberapa penyebab kematian di AS. 

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit atau CDC, komponen makanan tinggi lemak jenuh seperti daging merah dianggap sebagai faktor risiko kanker usus besar. Diet dianggap sangat mempengaruhi risiko kanker kolorektal, serta perubahan kebiasaan makanan yang dapat mengurangi hingga 70% dari beban kanker ini. 

"Ada bukti epidemiologis untuk hubungan kuat antara obesitas dan peningkatan risiko tumor," kata asisten profesor School of Life Sciences, Miyeko Mana.

"Dan di dalam usus, sel puncak adalah kemungkinan sel asal kanker. Jadi, apa hubungannya? Nah, diet adalah sesuatu yang memberi makan pada siklus obesitas dan kanker kolorektal." katanya. 

Studi baru yang dipimpin oleh Mana dan timnya telah tunjukkan secara lebih rinci daripada sebelumnya mengenai bagaimana diet tinggi lemak dapat memicu serangkaian peristiwa yang mengarah pada kanker usus dan usus besar. Ketika makanan dipecah dan lewati usus, makanan akan berinteraksi dengan sel induk usus (ISC) yang berada di sepanjang permukaan bagian dalam usus. ISC ini berada dalam serangkaian lembah usus yang terlipat secara teratur, dikenal kriptus. 

"Kami menindaklanjuti mekanisme yang mungkin diperlukan sel puncak untuk beradaptasi dengan diet tinggi lemak --- dan di situlah kami menemukan PPAR," kata Mana.

"Ada keluarga dari 3 PPAR, bernama delta, alfa dan gamma. Awalnya, saya pikir hanya delta PPAR yang terlibat, tetapi untuk melihat apakah gen itu benar-benar bertanggung jawab atas fenotipe, Anda harus menghilangkannya," jelasnya.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Fernando Sutanto
JOIN US
JOIN US