The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Cerita Saksi Hidup Pembantaian PKI: Sungai Bengawan Solo Memerah dan Bau Darah
Tarto, saksi hidup pembantaian PKI. (Z Creators/Eko Haryanto)
News

Cerita Saksi Hidup Pembantaian PKI: Sungai Bengawan Solo Memerah dan Bau Darah

Kamis, 29 September 2022 14:22 WIB 29 September 2022, 14:22 WIB

INDOZONE.ID - Bagi Tarto (70) warga Pucangsawit, Kelurahan Pucangsawit, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah ini peristiwa yang terjadi pada 1965 menyisakan kenangan pahit yang tak mungkin bisa dilupakan dalam hidupnya. 

Pada bulan Oktober usai terjadi pemberontakan G30S/PKI yang mengakibatkan gugurnya 7 pahlawan revolusi yaitu enam jenderal serta satu orang perwira pertama militer Indonesia. Di daerah-daerah salah satunya di Kota Surakarta PKI masih gencar melakukan teror dan penyerangan.

pembantaian pki
Sungai Bengawan Solo, lokasi pembantaian PKI. (Z Creators/Eko Haryanto)

Kala itu, para simpatisan PKI terus menyerang pihak-pihak yang mereka anggap lawan politiknya. Para pemuda aktivis ormas hingga para pengurus partai politik non komunis yang dianggap menghalang-halangi pemberontakan PKI banyak yang diculik kemudian dihabisi. 

Lokasi pembantaian yang dilakukan oleh PKI salah satunya adalah di Kedung Kopi. Sebuah tempat di pinggir Sungai Bengawan Solo yang sepi sering digunakan PKI untuk mengumpulkan para korban yang mereka culik. Pra korban datang dari berbagai wilayah di Kota Solo dan sekitarnya untuk kemudian disiksa secara sadis dan dibunuh.

pembantaian pki
Monumen Perisai Pancasila Kedung Kopi, tempat pembantaian PKI. (Z Creators/Eko Haryanto)

Tarto yang waktu itu masih berusia sekitar 13 tahun, tinggal bersama orang tuanya di dekat lokasi Kedung Kopi itu. Ia menceritakan pengalaman pahitnya menyaksikan langsung pembantaian yang dilakukan oleh PKI pada 1965. 

"Saat malam hari datang beberapa truk yang mengangkut orang-orang yang diculik. Mereka diikat, matanya ditutup terus dibawa ke sini. Saat terjadi penyiksaan itu, anggota PKI melarang warga sekitar Kedung Kopi keluar rumah,” ujar Tarto menceritakan pengalaman pedihnya. 

Tarto menambahkan, ia juga melihat aksi kejam yang dilakukan PKI dari lubang kecil di rumahya. 

“Jadi saya ya melihatnya dari lubang jendela Mas. Korban-korban itu dibunuh paling banyak dengan cara disembelih. Itu saya lihat lukanya di leher waktu korban sudah ditinggalkan begitu saja dipinggir sungai di pagi harinya air sungai itu kelihatan merah darah dan bau anyir,” imbuhnya. 

pembantaian pki
Lokasi pembantaian PKI. (Z Creators/Eko Haryanto) 

Kebanyakan warga Pucang Sawit yang tinggal di sekitar Kedung Kopi mendapatkan cerita pembantaian yang dilakukan PKI itu turun temurun dari orang tua mereka. 

Sementara Tarto adalah satu-satunya warga Pucang Sawit yang melihat langsung tragedi pembantaian tersebut. Di dekat lokasi pembantaian itu di dirikan Monumen Perisai Pancasila Kedung Kopi yang juga ditetapkan sebagai cagar budaya untuk mengingat sejarah kelam 1965. 

Artikel menarik lainnya: 

Bikin cerita serumu dan dapatkan berbagai reward menarik! Let’s join Z Creators dengan klik di sini.

Z Creators
Z Creators
TAG
Yayan Supriyanto
Eko Haryanto
Eko Haryanto

Eko Haryanto

Community Writer

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US
JOIN US