Di Nepal, Remaja Putri akan Diusir dari Rumah Saat Menstruasi
REUTERS/Navesh Chitrakar
News

Di Nepal, Remaja Putri akan Diusir dari Rumah Saat Menstruasi

Rabu, 11 Desember 2019 13:05 WIB 11 Desember 2019, 13:05 WIB

INDOZONE.ID - Di Nepal, remaja putri yang mengalami menstruasi akan diusir dan dibiarkan tidur di luar rumah. Meskipun sudah pernah ada remaja putri yang meninggal dan undang-undang yang melarang aturan tersebut, tetap saja pengusiran remaja putri yang sedang menstruasi terjadi.

Berdasarkan sebuah penelitian, 8 dari 10 remaja putri di Karnali  sampai lemas karena diusir dari rumah saat mereka sedang menstruasi.

nepla
NPR

Karnali menjadi provinsi di Nepal yang masih sering ditemukan praktik pengusiran remaja putri. Masyarakat di provinsi ini menganggap bahwa remaja putri yang sedang menstruasi adalah najis.

Remaja putri yang diusir dari rumah biasanya akan tidur di sebuah gubuk kecil. Di dalam gubuk ini, mereka rentan sekali menghadapi berbagai bahaya, seperti diperkosa, digigit ular bahkan bisa kehilangan nyawa karena keracunan karbondioksida dari api yang digunakan untuk menghangatkan tubuh.

"Para perempuan dewasa dan remaja yang berbicara dengan kami itu takut ular dan binatang-binatang yang muncul pada malam hari, atau takut diserang oleh orang-orang tidak dikenal," kata seorang peneliti, Jennifer Thomson.

Hasil dari penelitian tersebut kemudian dimuat dalam jurnal Sexual and Reproductive Health Matters.

nepal
theconversation.com

"Walaupun mereka belum mengalaminya secara langsung, tekanan psikologisnya sangat nyata," tambah Jennifer yang juga menjadi pengajar bidang politik perbandingan di University of Bath di Inggris.

Praktik Hindu yang dikenal dengan nama chhaupadi ini sebenarnya sudah lama ada berlaku di Nepal. Namun, pada tahun 2015, chhaupadi dilarang untuk dilakukan.

Tapi tetap saja chhaupadi masih dipraktikkan. Padahal, sudah diberlakukan berbagai hukuman seperti denda dan hukuman penjara. Hukuman ini baru diterapkan satu tahun yang lalu, setelah seorang remaja, satu orang ibu dan putranya meninggal. Insiden ini membuat parlemen setempat mengadakan penyelidikan.

nepal
The Swaddle

Dalam menjalankan tugasnya, para peneliti telah mewawancarai 400 remaja putri berusia 14 tahun hingga 19 tahun di Karnali, provinsi di Nepal barat. Namun, dari penelitian tersebut ditemukan sebanyak 77 persen orang masih melakukan praktik ini.

Hasil penelitian ini muncul kurang dari satu pekan setelah polisi menangkap seorang pria karena saudara ipar perempuannya, meninggal di dalam gubuk. Penahanan pria ini menjadi yang pertama kali terjadi di Nepal.

Para pegiat mengatakan, perlu upaya yang lebih keras untuk meningkatkan kesadaran dan merubah anggapan orang-orang, bahwa perempuan dewasa dan remaja putri yang sedang menstruasi adalah najis serta membawa sial dalam masyarakat.

Tak hanya dianggap najis dan pembawa sial, perempuan yang sedang menstruasi tidak dibolehkan untuk bertemu anggota keluarga dan  keluar rumah. Mereka bahkan diminta untuk makan secara hemat dan dilarang menyentuh berbagai benda, termasuk susu, patung keagamaan dan hewan ternak.

nepal
wateraid.org

Namun, ada tanda-tanda bahwa praktik itu sedang berubah. Minggu lalu, sebuah desa di Nepal Barat mengumumkan akan memberi imbalan sebesar 5.000 rupee Nepal (sekitar Rp615 ribu) untuk setiap wanita yang menolak untuk dikurung di gubuk. Pemberian imbalan ini dimaksudkan sebagai upaya mengurangi praktik chhauppadi.

"Pendekatan menyeluruh menyangkut kesehatan dan pendidikan harus sampai pada setiap keluarga dan mendidik orang-orang bahwa haid adalah suatu proses biologis dan tidak membuat perempuan menjadi najis," kata pembela hak-hak perempuan, Radha Paudel.

"Menstruasi harus dianggap sebagai hal yang bermartabat dan alami. Kalau tidak demikian, tidak akan ada perubahan," sambungnya.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Putri
Putri

Putri

Writer

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU