Didemo Massa Priok, Menteri Yasonna Jelaskan Maksud Pidatonya
Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly (ANTARA/Hafidz Mubarak A).
News

Didemo Massa Priok, Menteri Yasonna Jelaskan Maksud Pidatonya

Tanggapi secara ilmiah

Rabu, 22 Januari 2020 14:45 WIB 22 Januari 2020, 14:45 WIB

INDOZONE.ID - Menkumham Yasonna Laoly akhirnya angkat bicara dan menjelaskan substansi pidatonya terkait faktor Criminogenic dari Kemiskinan.

Seperti diketahui Massa "Aksi Damai 221 Priok Bersatu" mendatangi Kantor Kementerian Hukum dan HAM (Kememkumham) Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (22/1/2020).

Banyak massa kecewa dengan ucapan Menteri Yasonna kala berpidato di Lapas Narkotika Kelas II A Jakarta, Jakarta Timur, Kamis (16/1). Yasonna menyebut kemiskinan adalah sumber tindakan kriminal. Yasonna mencontohkan bahwa anak yang lahir dari kawasan Tanjung Priok yang terkenal keras dan Menteng yang terkenal sebagai kawasan elit, akan tumbuh besar dengan cara berbeda.

Dengan banyaknya tekanan dan kecaman, Menteri Yasonna merespon melalui staf khususnya dengan berbagi keterangan resmi kepada Indozone, Rabu (22/1/2020).

"Mengingat kesalahpahaman serta akibat tidak mendengarkan pidato saya secara utuh di Lapas Narkotika Cipinang, pidato ini kemudian dipelintir oleh orang orang tertentu, yang pemahamannya tidak benar, dan jauh dari substansi yang dimaksudkan. Untuk itu, saya ingin meluruskannya. Perlu diketahui acara  di Lapas Narkotika Cipinang tersebut juga  dihadiri oleh Kepala BNN, Kepala BNPT, yang mewakili Kapolri, dan perwakilan beberapa Kementerian Lembaga," buka Yasonna dalam keterangan resminya.

Penjelasan tentang faktor criminogenic dari kemiskinan diakui Menteri Yasonna justru diapresiasi oleh Kepala BNN dan Kepala BNPT.

"Tujuan saya menjelaskan agar masyarakat tidak mempunyai pandangan yang terlalu punitive terhadap para narapidana, sebab crime is a social product instead of genetic product. Sebelum saya meneruskan, saya perlu menjelaskan: saya adalah Doktor dalam bidang Kriminologi dari universitas yang cukup reputable dari Amerika Serikat. Disertasi saya berjudul: “The Effectcs of Economic Conditions on Violent and Property Offending Rates.” Saya sungguh prihatin dengan komentar-komentar yang justru jauh dari nilai-nilai kepatutan, memberi komentar yang jauh dari maksud dan substansi yang sesungguhnya," lanjut Menteri Yasonna.

Dalam pidatonya, Menteri Yasonna menyebut bahwa crime is a social product, antara lain : faktor kemiskinan, pengangguran, kesenjangan pendapatan (faktor ekonomi), disintegrasi sosial, dll. Faktor genetic itu tidak signifikan menentukan kejahatan, kalaupun ada, faktor determinannya sangat kecil, oleh karena kejahatan adalah product social problems, maka masyarakat harus turut menyelasaikan faktor-faktor criminogen tersebut. 

"Karena faktor kemiskinan, maka daerah-daerah slums areas (daerah kumuh) lebih cenderung melahirkan lebih banyak crime dari daerah elit. Contoh daerah slums (kumuh)  di Tanjung Priok dibanding daerah Menteng, lebih cenderung (probalitas) memiliki tingkat kejahatan lebih tinggi. Itu bukan karena faktor genetik atau biologis," 

"Seorang jahat atau cenderung melakukan kejahatan bukan karena dari sononya (genetiknya) dia jahat. Itu teori tempo doeloe, yaitu teori Cesare Lombroso. Namun, hasil-hasil penelitian empirik para kriminolog dan sosiolog membuktikan tidak benar!" lanjut Yasonna.

Itu sebabnya, untuk membasmi kejahatan, tidak cukup hanya mengirim orang-orang ke penjara tapi kita harus menyelesaikan root causes-nya yaitu memperbaiki daerah-daerah slums (kumuh), miskin, meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat, meningkatkan pendidikan. 

Dan ini tanggung jawab kita bersama. Karena crime is a social product, maka masyarakat juga turut bertanggung jawab secara sosial dan moral untuk membasmi akar masalahnya (root causes). 

Menteri Yasonna Menyanyangkan Isi Pidato Dipelintir

demo priok
Massa "Aksi #221 Priok Bersatu" mendatangi Kantor Kemenkumham di Jalan Rasunan Said, Jakarta Selatan, menuntut Menteri Hukum dan HAM Yosanna Laoly minta maaf terkait penyataannya yang menyinggung masyarakat, Rabu (22/1/2020). (ANTARA/Laily Rahmawaty)

Menteri Yasonna mengakui komentarnya disalahartikan oleh pihak-pihak tertentu, pidato tersebut dipelintir sedemikian rupa, seolah-olah orang-orang Tanjung Priok semua adalah penjahat.

Menteri Yasonna akui sangat menyedihkan sekali mengambil kesimpulan seperti itu,

"Jumping into conclusion without knowing the whole story. Teman-teman anggota DPR tentu punya akses ke Kepala BNN (Komjend Heru Winarko) dan Kepala BNPT (Komjend Suhardi Alius) coba dicross-check! Jangan kita mengambil kesimpulan tanpa memahami konteks seutuhnya,"

Menteri Yasonna bahkan membuat contoh ekstrim utuk menunjukkan perbedaan penyebab kejahatan antara faktor genetik dan sosial ekonomi. 

"Saya contohkan, beri saya dua orang bayi, satu anak bayi yang lahir dari Ibu PSK dan ayahnya bandit dari slums areas misalnya dari daerah slums di Tanjung Priok dan Anak orang yang sangat berkecukupan dengan Ibu sangat terdidik dan ayah pengusaha misalnya dari Menteng. Kemudian kita tukar, bayi yang dari Tanjung Priok dipelihara oleh orang tua di Menteng, dan anak dari Menteng dipelihara di daerah kumuh oleh orang tua yang bermasalah tersebut, lihat 20 tahun lagi, siapa yang punya kecenderung (propensity) to commit crime? Saya yakin justru anak terlahir dari Menteng tersebut yang lebih cenderung terekspos pada perbuatan-perbuatan kriminal ketimbang anak yang terlahir dari ayah dan Ibu dari Tanjung Priok tersebut," jelasnya.

"Karena, crime is determined by socioeconomic factors rather than genetic factors. Inilah inti penjelasan yang diplintir tersebut! Jadi itu bukan menunjukkan daerahnya, tapi socioeconomic conditions, dan sudah tentu tidak mengeneralisasi daerah Tanjung Priok," tambahnya.

Diakuinya, apa yang disampaikan adalah penjelasan ilmiah ketimbang penjelasan politik.

"Saya berharap ditanggapi secara ilmiah, bukan secara politik!" pungkas Yasonna.


Artikel Menarik Selanjutnya

TAG
Fahmy Fotaleno
Ade Indra

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US