The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Remaja Alami Syndrome TikTok, Begini Kata Psikolog
Remaja terkena tiktok syndrome. (Istimewa)
Health

Remaja Alami Syndrome TikTok, Begini Kata Psikolog

Belum ada riset.

Rabu, 24 Juni 2020 17:56 WIB 24 Juni 2020, 17:56 WIB

INDOZONE.ID - Beberapa waktu lalu, publik sempat dikejutkan dengan beredarnya sebuah video seorang remaja berusia 18 tahun yang mengaku mengalami TikTok Syndrome. Video berdurasi 1.10 menit tersebut berisikan pernyataan Kesar tentang peristiwa aneh yang dialaminya.

Dalam video yang dibagikan akun @kesarnst di laman Instagram, ia menuturkan bahwa ketertarikannya pada TikTok membuatnya ketagihan. Ia juga mengaku tubuhnya mendadak suka bergerak sendiri tanpa bisa dikontrol, termasuk saat tidur.

"Saya harus minum obat dua kali sehari untuk meditasi agar tubuh saya tidak bergerak-gerak terus. Dokter menyarankan agar saya mengurangi main TikTok," kata Kesar dalam video tersebut.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by kesarnst (@kesarnst) on

Mengetahui hal tersebut, psikolog sekaligus Pembina Yayasan Aksi Baik Bangka Belitung, Mazdha Ariefriyendho, M.Psi memberikan tanggapannya terkait kecanduan seseorang terhadap media sosial, seperti TikTok.

"Hingga saat ini belum ada riset yang menunjukkan bahwa adiksi media sosial seperti TikTok bisa menyebabkan kegilaan bagi para penggunanya," kata psikolog, Mazdha Ariefriyendho, M.Psi,.Psikolog, saat dihubungi Indozone, Rabu (24/6/2020).

Dalam beberapa kasus, seseorang yang mengalami adiksi akut dalam jangka waktu yang lama bisa mengalami berbagai macam gangguan. Misalnya, penurunan kepercayaan diri, gangguan tidur, kecemasan hingga depresi.

Padahal tujuan sebelumnya hanya ingin menunjukkan aktualisasi diri melalui platform seperti TikTok.

"Secara garis besar, media sosial seperti TikTok memberikan dampak positif maupun negatif pada setiap penggunanya, tergantung bagaimana pemanfaatannya. Namun, TikTok Syndrom seperti yang dialami remaja tersebut belum ada riset mendalamnya," ujarnya.

Apabila gejala yang dirasakan telah mengganggu aktivitas ada baiknya mulai mengurangi bahkan berhenti memainkannya alias sosial media detox.

"Pengguna bisa beristirahat sejenak dan mempertimbangkan tata cara bermain platform digital seperti TikTok," tambahnya.

Saat fisik dan mental sudah stabil, pengguna bisa aktif kembali bermain TikTok, namun dengan porsi yang lebih terkontrol. Misalnya memilih konten-konten inspiratif bukan hanya sekadar hiburan semata tanpa ada manfaatnya.


Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Fiddy Anggriawan
Yulia Marianti
Syarifah Noer Aulia

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US
JOIN US