The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Waduh! Peneliti Temukan Dahak pada Jantung Pasien COVID-19 Bergejala Parah, Ini Pemicunya
Ilustrasi penderita COVID-19 bergejala parah (Freepik)
Health

Waduh! Peneliti Temukan Dahak pada Jantung Pasien COVID-19 Bergejala Parah, Ini Pemicunya

Selasa, 28 Juni 2022 20:10 WIB 28 Juni 2022, 20:10 WIB

INDOZONE.ID - Sebuah studi di University of Stanford berhasil menganalisis kekentalan darah dari paru-paru pasien COVID-19.

Hasilnya para peneliti menemukan satu karakteristik dahak yang ada pada jantung yang menjadi tanda infeksi COVID-19 yang parah dan berlangsung lama.

Menurut temuan baru yang diterbitkan dalam jurnal JCI Insight, ada tiga zat berserat panjang yang memicu munculnya dahak mematikan yang mengakibatkan pasien COVID-19 membutuhkan ventilator.

Zat-zat tersebut berkontribusi pada pengentalan dahak sehingga pasien sulit untuk batuk dan detak jantungnya meningkat.

Tak hanya itu, zat-zat itu juga membuat dahak menolak pertukaran oksigen yang meningkatkan risiko peradangan dan penumpukan cairan.

Baca juga: Waspada! Ahli Sebut Virus Cacar Monyet Mudah Menyebar dan Sebabkan Berbagai Komplikasi

Bahkan menurut Profesor Penyakit Menular dan Mikrobiologi dan Imunologi, Paul Bollyky, salah satu zat tersebut juga berperan dalam memunculkan gejala Long COVID-19.

Di mana sekresi pernapasan yang kental dan bergetah adalah tanda utama dari infeksi virus corona COVID-19 yang parah.

Sayangnya, meski puluhan ribu penelitian telah menganalisis sampel darah pasien COVID-19, tapi orang-orang belum terlalu memperhatikan sampel dahak dari pasien COVID-19 parah.

Padahal akumulasi dari dahak ini sulit untuk dihilangkan sehingga akan berkembang menjadi batuk kering.

Sementara itu, menurut platform kesehatan Medical Express, ketiga zat yang ada dalam dahak pasien COVID-19 parah ini bersifat higroskopis.

Sifat inilah yang membuat dahak menyerap air seperti spons, menggumpal seperti agar-agar, mengganggu pertukaran oksigen dan mengentalkan dahak.

"Kami sengaja menganalisis dahak pasien ini untuk mencari tahu awal mula terbentuknya dan bagaimana dahak itu mempengaruhi respons imun," ungkap Paul.
 

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Abul Muamar
Anisa Rizwani
JOIN US
JOIN US