The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Orang Romawi Kuno Jadikan Mimpi sebagai Alat Diagnosis Penyakit, Gimana Caranya?
Ilustrasi pengobatan Galen dengan mengandalkan mimpi pasiennya. (Ancient Origins)
Fakta Dan Mitos

Orang Romawi Kuno Jadikan Mimpi sebagai Alat Diagnosis Penyakit, Gimana Caranya?

Marak pada masanya.

Minggu, 18 September 2022 13:30 WIB 18 September 2022, 13:30 WIB

INDOZONE.ID - Bagi orang Romawi kuno, mimpi bukan hanya dipandang sebagai bunga tidur melainkan terdapat kegunaan lainnya yakni sebagai alat diagnosis penyakit.

Para dokter Romawi mengadopsi banyak praktik dan filosofi dokter Yunani Hippocrates yang salah satunya mengatakan jika mimpi menjadi alat untuk mendiagnosis sebuah penyakit.

Baca Juga: Arkeolog Ungkap Komputer Pertama di Dunia Ditemukan pada 178 SM, Ini Buktinya

Dikutip dari Ancient Origins, para dokter Romawi percaya ketika seseorang bermimpi bisa menjadi suatu sinyal dari jiwa tentang ketidakseimbangan cairan dalam tubuh.

Mimpi dapat memberikan wawasan tentang pasien yang tidak bisa dilakukan dengan pengamatan langsung. Mimpi seringkali menunjukkan kekurangan dan kelebihan serta kualitas cairan tubuh.

Dokter Yunani di zaman Romawi, Galen, pernah menuliskan pengandaian saat mendiagnosis sebuah penyakit pasiennya. Jika seseorang bermimpi yang mengandung salju atau es dianggap menunjukkan kelebihan dahak.

Sementara mimpi yang menampilkan api menandakan peningkatan kadar empedu. Galen juga menambahkan apabila seorang pegulat bermimpi berjuang untuk bernapas sambil berdiri di tangki darah.

Menurutnya, pegulat itu menderita kelebihan cairan tubuh dan darahnya harus dibuang. Darah para gladiator diminum oleh penderita epilepsi seolah-olah itu adalah darah kehidupan.

Baca Juga: Mengenal Bulla, Kalung Jimat untuk Anak-anak Romawi Agar Terhindar dari Roh Jahat

Praktik ini pun membuat banyak masyarakat percaya dan berbondong-bondong datang kepada Galen untuk mengidentifikasi mimpi mereka. Namun, kebenaran penyakit hanyalah bisa dilakukan pembedahan saja untuk membuktikan kebenarannya.

Akan tetapi, bagi Romawi kuo sendiri melarang pembedahan manusia karena masalah agama, etika, dan kesehatan masyarakat. Tentu saja aturan ini menghalangi studi anatomi yang berujung dengan praktik Galen digalakkan.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Dina Agustina
Abdul Fattah
ARTIKEL LAINNYA
LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US
JOIN US