The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Ternyata, Patah Hati Juga Memberikan Efek Negatif untuk Tubuh
Ilustrasi patah hati. (photo/Ilustrasi/Pexels/burak kostak)
Fakta Dan Mitos

Ternyata, Patah Hati Juga Memberikan Efek Negatif untuk Tubuh

Jumat, 22 Januari 2021 16:17 WIB 22 Januari 2021, 16:17 WIB

INDOZONE.ID - Patah hati merupakan suatu keadaan dimana dapat melelahkan hati setelah mengalami putus cinta ataupun ditolak. Gejala awal dari patah hati adalah akan merasakan ingin menangis seharian dan berbaring di kasur serta tidak akan berbicara kepada siapapun. Patah hati juga dapat membuat seseorang merasa kehilangan kemudi dalam hidupnya. Selain melelahkan hati, patah hati juga dapat membawa dampak buruk bagi fisik. 

Dimana, ketika mengalami patah hati setidaknya berada pada tahap awal, sering menyebabkan kekacauan pada jadwal tidur seseorang atau sering disebut dengan Insomnia. Insomnia yang terjadi pada saat patah hati adalah merupakan hal yang biasa ketika masih melajang. Stres yang disebabkan pas patah hati juga dapat mengganggu proses biologis yang biasanya dapat membantu jadwal tidur pada malam hari. 

Kecemasan dan jantung akan berdebar seiring berkaitan dengan patah hati. Sangatlah penting untuk mengetahui bahwa kesedihan serta kehilangan putus cinta dapat mengganggu kerja dari sistem saraf. Pada tahap ini, kemungkinan akan menimbulkan perasaan hilang kendali. 

Serta, terdapat beberapa kasus ekstrem dimana patah hati dapat memicu gejala seperti serangan jantung. Sindrom patah hati atau lebih dikenal dengan sebutan Takotsubo cardiomyiopathy dapat menggambarkan kondisi dimana tubuh akan mengalami gejala seperti serangan jantung akibat stres yang disebabkan oleh patah hati. 

Hal tersebut dapat terjadi dikarenakan akan terdapat perubahan elektrokardiogram serta tes darah pada seseorang patah hati sangtalah mirip dengan pasien serangan jantung. 

Lantas, bagaimana cara untuk mengatasi sindrom patah hati? Akan terdapat beberapa cara untuk mengatasi sindrom tersebut yaitu dengan melakukan yoga, meditasi, menyibukkan diri serta membaca buku. Akan tetapi jika sindrom tersebut masih ada maka disarankan untuk menceritakan hal yang anda rasakan kepada teman, sahabat,keluarga, orang tua serta kepada psikiater.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US
JOIN US