The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Sering Dipakai Pembunuh, Ini Cara Racun Sianida Tewaskan Korban Menurut Ahli Forensik
Kasus-kasus pembunuhan dengan racun Sianida. (Pexels/Davide Baraldi)
News

Sering Dipakai Pembunuh, Ini Cara Racun Sianida Tewaskan Korban Menurut Ahli Forensik

Dan tanda fisik yang dialami korban.

Selasa, 04 Mei 2021 13:02 WIB 04 Mei 2021, 13:02 WIB

INDOZONE.ID - Kasus takjil berisi sate beracun yang dikirim pelaku Nani Apriliani Nurjaman tengah menjadi perhatian masyarakat. Apalagi setelah korbannya seorang anak kecil yang menjadi salah sasaran.

Berdasarkan hasil pemeriksaan forensik, ditemukan kandungan racun kalium Sianida di dalam bumbu sate tersebut. Menurut keterangan polisi, racun tersebut diberi secara online oleh sang pelaku yang kini sudah ditahan polisi.

Sepertinya, ini bukan kasus sianida pertama yang terjadi di Indonesia. Sekitar lima tahun lalu, masyarakat Indonesia juga dihebohkan dengan kopi sianida dengan terdakwa Jessica Wongso yang dinyatakan oleh pengadilan sebagai pembunuh Mirna Salihin, sahabat sendiri.

Tidak hanya di dunia nyata, kasus pembunuhan dengan sianida juga sering digunakan para pelaku pembunuhan di dunia fiksi. Sehingga, racun tersebut sering disebut sebagai racun pilihan para pelaku pembunuhan era sekarang di luar arsenik dan strychnine.

Lantas, bagaimanakah racun tersebut membuat seorang korban bisa membuat korban tewas dengan cepat? 

Indozone berhasil menghubungi dr. Stephie Anindita, dokter spesialis forensik dan medikolegal dari Rumah Sakit Bhayangkara Polda DIY. Dalam penjelasannya, dr. Stephie menjelaskan bagaimana reaksi tubuh saat racun ini masuk ke dalam tubuh seseorang.

Baca Juga: Terkuak, Mbak Sate Sianida Ternyata Seorang Pegawai Salon, Aiptu Tomi Awalnya Pelanggannya

"Sianida dapat masuk ke tubuh melalui saluran napas dan selaput lendir (mulut, mata) juga melalui saluran cerna.  Sianida bekerja dengan cara mengikat ion ferric dari cytocrome oxidase pada mitokondria sehingga terjadi penghambatan pernapasan sel," kata Stephie kepada Indozone, Senin (3/5/2021).

"Akibatnya oksigen tidak dapat digunakan untuk metabolisme sel," tambahnya.

Menurut dokter forensik tersebut, gejala yang dialami oleh pasien atau korban yang terkena racun tersebut merupakan hasil dari hipoksia sel secara menyeluruh. Korban akan mengalami gejala khusus. 

"Napas tersengal dan denyut nadi meningkat, nyeri kepala, pusing berputar, kebingungan, penurunan kesadaran, henti napas, penurunan tekanan darah dan gangguan irama jantung," jelasnya.

Selain itu, pada visum atau pemeriksaan fiksi, korban yang terkena racun sianida akan memperlihatkan beberapa tanda-tanda.

"Pada pemeriksaan fisik, apabila pasien terpapar sianida dengan cara dihirup, pasien dapat mengingat mencium wangi seperti kacang almond atau bau yang sangat pahit, dilaporkan pada lebih dari 60% kasus. Kulit pasien tampak kemerahan karena jumlah oksigen yang berlebihan pada aliran darah, karena oksigen tidak bisa digunakan dalam sel," pungkasnya.

Saat ini, sianida masih bisa ditemukan secara bebas lantaran fungsinya digunakan untuk beberapa hal. Seperti pembunuh hama, percetakan, dan lainnya, tidak termasuk untuk membunuh seseorang.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Edi Hidayat
M Fadli
Edi Hidayat

Edi Hidayat

Editor
M Fadli

M Fadli

Writer
JOIN US
JOIN US