The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Keterlaluan Staf KPI Ngaku 10 Tahun Dilecehkan, Ditelanjangi Hingga Kemaluan Dispidol
Ilustrasi perundungan. (Istimewa)
News

Keterlaluan Staf KPI Ngaku 10 Tahun Dilecehkan, Ditelanjangi Hingga Kemaluan Dispidol

Kamis, 02 September 2021 11:53 WIB 02 September 2021, 11:53 WIB

INDOZONE.ID - Seorang pegawai Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat berinisial MS mengaku jadi korban bullying dan pelecehan seksual oleh sesama rekannya sendiri selama 10 tahun membuat publik terkejut.

KPI Pusat sendiri telah mengambil sikap dengan melakukan investigasi internal terhadap pengaduan MS yang laporannya telah beredar di media sosial dan grup-grup WhatsApp.

"Turut prihatin dan tidak menoleransi segala bentuk pelecehan seksual, perundungan atau bullying terhadap siapapun dan dalam bentuk apapun," kata Ketua KPI Pusat Agung Suprio melalui keterangan tertulisnya seperti yang diterima Indozone, Kamis (2/9/2021). 

Terkait kasus ini KPI Pusat mendukung aparat penegak hukum untuk menindaklanjuti kasus tersebut sesuai ketentuan yang berlaku.

Pihaknya kata Agung Suprio juga memberikan perlindungan, pendampingan hukum dan pemulihan secara psikologi terhadap korban.

Ketua KPI Pusat Agung Suprio. (Youtube/KPI)
Ketua KPI Pusat Agung Suprio. (Youtube/KPI)

Untuk itu mereka berkomitmen agar menindak tegas pelaku apabila terbukti melakukan tindak kekerasan seksual dan perundungan (bullying) terhadap korban, sesuai hukum yang berlaku.

Sementara itu MS selaku korban mengaku trauma berat itu pernah melapor ke kepolisian, namun tak digubris.

"Sudah tak terhitung berapa kali mereka melecehkan, memukul, memaki dan merundung tanpa bisa saya lawan," ungkap MS dalam keterangan persnya, Rabu (1/9/2021).

Gedung Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat. (Ist)
Gedung Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat. (Ist)

MS menjelaskan kejadian traumatis yang dialaminya sudah terjadi sejak dia bekerja di KPI Pusat pada 2011.

Sejak saat itu, dia kerap menerima perlakuan tak manusiawi dari rekan-rekan kerjanya.

"Mereka mengintimidasi yang membuat saya tak berdaya. Mereka secara bersama-sama merendahkan dan menindas saya layaknya budak pesuruh," kata dia.

Pada 2015, insiden paling tragis dalam hidupnya pun terjadi. Ada sekitar tujuh orang rekan kerjanya bersekongkol melakukan pelecehan seksual yang sama sekali tak pernah dibayangkannya.

Rekan-rekan kerjanya yang diketahui berinisial RE, EO, TS, SG, RT, CL dan FP bekerja sama menelanjanginya, lalu kelaminnya dicoret-coret menggunakan spidol, kemudian diabadikan dalam kamera ponsel.

"Mereka beramai-ramai memiting, melecehkan saya dengan mencoret coret buah zakar saya memakai spidol. Kejadian itu membuat saya trauma dan kehilangan kestabilan emosi," ungkap dia.

"Mereka mendokumentasikan kelamin saya dan membuat saya tak berdaya melawan mereka setelah tragedi itu. Semoga foto telanjang saya tidak disebar dan diperjualbelikan di situs online," lanjut dia.

Sejak kejadian itu, MS merasa hidupnya berada di titik paling rendah. Dia mengalami stres dan trauma berat. Fisiknya menjadi lemah hingga memunculkan penyakit.

"Saat ingat pelecehan tersebut, emosi saya tak stabil, makin lama perut terasa sakit, badan saya mengalami penurunan fungsi tubuh, gangguan kesehatan," kata dia.

Pernah lapor ke polisi tapi dicueki

Tahun demi tahun, perundungan yang merendahkan dirinya sebagai manusia terus dialaminya. Hingga pada akhirnya dia memutuskan mengadu ke Komnas HAM melalui email pada 11 Agustus 2017.

Lalu pada 19 Agustus 2017, Komnas HAM membalas email dan menyarankannya untuk membuat laporan ke kepolisian.

Atas saran Komnas HAM, dia melapor ke kepolisian, tepatnya di Polsek Gambir. Sayangnya, laporannya tak ditindaklanjuti. Dia malah diminta untuk mengadu saja terlebih dahulu ke atasan di kantor.

"Lebih baik adukan dulu saja ke atasan. Biarkan internal kantor yang menyelesaikan," ungkap MS saat menirukan saran petugas polisi.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Fahrizal Daulay

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US
JOIN US