Fadli Zon Kritik Jokowi Soal Pemilihan Tim Ekonomi
Fadli Zon mengkritik langkah Presiden Joko Widodo dalam memilih tim ekonomi. (Kolase/Instagram @fadlizon/Antara Puspa Perwitasari)
News

Fadli Zon Kritik Jokowi Soal Pemilihan Tim Ekonomi

Dinilai salah langkah.

Muhammad Wirawan Kusuma
Jumat, 08 November 2019 17:08 WIB 08 November 2019, 17:08 WIB

INDOZONE.ID - Politisi Partai Gerindra Fadli Zon menilai Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah salah langkah memilih tim ekonomi dalam Kabinet Indonesia Maju. Dia mempertanyakan kapasitas dari para pembantu Jokowi di bidang ekonomi.

Fadli Zon mengatakan, Jokowi seharusnya bisa memilih orang-orang baru yang lebih mumpuni di periode kedua pemerintahannya. Tentunya untuk bisa memecah kebekuan ekonomi.

Sayangnya, lanjut Fadli Zon, hal itu tak terjadi. 

"Celakanya, ketimbang mencegah laju deindustrialisasi, pemerintah kini malah bermimpi dengan wacana Revolusi Industri 4.0,' kata Fadli Zon dalam keterangan tertulisnya yang diterima Indozone, Jumat (8/11). 

Menurutnya, Indonesia tak akan bisa menghadapi resesi karena tim ekonomi pemerintah gagal memahami persoalan ekonomi riilFadli Zon juga melihat pemerintah tidak punya terobosan dalam menghadang laju deindustrialisasi, sektor yang bisa menyerap banyak angkatan kerja. 

"Deindustrialisasi adalah kondisi di mana kontribusi industri manufaktur mengalami penurunan dari waktu ke waktu. Jika negara mengalami deindustrialisasi, itu artinya situasi buruk bagi pemerintah. Sebab, biasanya deindustrialisasi diikuti dengan melonjaknya pengangguran yang dipicu oleh adanya PHK," ungkap Mantan Wakil Ketua DPR RI itu.

Menurut data BPS (Badan Pusat Statistik), kontribusi sektor manufaktur masih 21,07 persen pada 2014. Sementara pada tahun 2015, angkanya turun menjadi 20,99 persen. 

Pada 2016 dan 2017 angkanya masing-masing turun menjadi 20,51 persen dan 20,16 persen. Puncaknya adalah pada 2018 lalu, di mana kontribusi sektor manufaktur hanya 19,86 persen. 

Kontribusi industri manufaktur terhadap PDB juga terus turun, yaitu dari 21,07 persen pada 2014, berturut-turut menjadi 20,99 persen (2015), 20,51 persen (2016), 20,16 persen (2017) dan 19,86 persen (2018).(MA)

Artikel Menarik Lainnya:

Muhammad Wirawan Kusuma
TERKAIT DENGAN INI
ARTIKEL LAINNYA
LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU