The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Bergelar Profesor, Kapolda Irjen Eko Rupanya Guru Besar STIK-PTIK, Heran Kena Kibul Rp 2 T
Kapolda Sumatra Selatan (Sumsel) Irjen Pol Prof Eko Indra Heri. (Foto/Antara)
News

Bergelar Profesor, Kapolda Irjen Eko Rupanya Guru Besar STIK-PTIK, Heran Kena Kibul Rp 2 T

Kamis, 05 Agustus 2021 15:56 WIB 05 Agustus 2021, 15:56 WIB

INDOZONE.ID - Sosok Kapolda Sumatra Selatan (Sumsel) Irjen Pol Prof Eko Indra Heri yang kena prank keluarga Akidi Tio mau sumbangkan Rp 2 triliun untuk penanganan Covid-19 ternyata berstatus guru besar dan gelar profesor.

Eko merupakan satu-satunya orang yang dipercaya hingga diamanahkan sumbangan dari keluarga karena pernah mengenal almarhum Akidi Tio saat masih bertugas di Langsa Aceh. Kampung halaman Akidi Tio.

Dibalik puja-pujian sumbangan yang bernilai sampai trilunan rupiah itu, nyatanya bohong. Rupanya akal-akalan Heryanti, putri bungsu Akidi Tio.

Ini membuat Kapolda Sumsel Irjen Pol Prof Eko Indra Heri harus meminta maaf kepada publik.

"Saya minta maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia, khususnya Kapolri, Pimpinan di Mabes Polri, anggota Polri, masyarakat Sumsel, tokoh agama dan tokoh adat termasuk Forkompinda Sumsel, Gubernur, Pangdam dan Danrem," kata Irjen Pol Eko Indra Heri di Mapolres Sumsel, Palembang, Kamis (5/8/2021).

Permintamaafan yang disampaikan Eko setelah Polda Sumsel menetapkan anak bungsu Akidi Tio, Heryanti, menjadi tersangka dalam kasus tersebut.

Kapolda Sumsel Irjen Eko Indra Heri saat terima donasi Rp 2 triliun. (Ist)
Kapolda Sumsel Irjen Eko Indra Heri saat terima donasi Rp 2 triliun. (Ist)

Atas peristiwa ini, nama Kapolda Eko pun jadi sorotan publik.

Sebenarnya siapakan dan bagaimana sosok Irjen Eko? Berikut profil Irjen Pol Eko Indra Heri.

Pria kelahiran Palembang pada 23 November 1964 ini sebelumnya menjabat Asisten Kapolri Bidang SDM di tahun 2018.

Jebolan Akademi Kepolisian tahun 1988 itu juga sempat menempati posisi-posisi penting lainnya, seperti Kasat/Pidum Dit Reskrim Polda Sumsel (2003), Kapolres Lahat (2005) dan Kapolres Demak (2007).

Karier Eko terus meningkat setelah bertugas di Mabes Polri dan menjabat sebagai Kasubbag Sisdalpers Bag Jiansis Rojianstra SDE SDM Polri. Berlanjut menjadi Gadik Utama Dit Akademik PTIK di tahun 2020 dan Karo SDM Polda Lampung (2011).

Kapodal Sumsel Irjen Eko Indra telah meminta maaf terkait hibah Rp 2 triliun. (Foto/Instagram/polisi_sumsel)
Kapodal Sumsel Irjen Eko Indra telah meminta maaf terkait hibah Rp 2 triliun. (Foto/Instagram/polisi_sumsel)

Dari banyak pengalamannya itu, Eko dipercaya menempati kursi Kapolda Sumsel.

Selain moncer kariernya di kepolisian, Eko juga mantab di bidang akademik. Baru-baru ini, ia dikukuhkan sebagai Guru Besar Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK-PTIK).

Eko menjadi guru besar dalam Ilmu Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM). Gelar profesor pun disandangnya.

"Kita menghadapi tantangan perubahan zaman. Saya harap penganugerahan sebagai guru besar ini dapat menjadi contoh bagi masyarakat luas, terutama generasi millennials untuk terus mencari ilmu dan meningkatkan kualitasnya," ungkap Eko, Selasa (22/6/2021).

Eko tidak menyangka akan menjadi orang yang mendapat prank. Dirinya mengaku hanya berikhtiar untuk melakukan kebaikan.

"Saya kan niat baik. Ada orang mau menyumbang untuk Sumsel melalui saya, maka saya salurkan," ungkapnya, Senin (2/8/2021).

Eko tidak menampik kecewa akibat prank yang diduga dilakukan Heriyanti. Saat kondisi sulit akibat COVID-19, ia mengira memang ada orang baik yang akan menyalurkan bantuan.

"Saya tidak mengharapkan apa-apa. Saya hanya berpikir positif saja," ungkap dia.

Saat ini, Eko mengatakan Heriyanti masih diperiksa di Polda Sumsel sebagai tersangka kasus penghinaan terhadap negara. Ia menyerahkan seluruh proses hukum kepada penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sumsel.

"Tim sedang bekerja saat ini," ujar dia.

Akui kekhilafan

mengakui, kesalahan ada pada dirinya secara pribadi karena tidak berhati-hati dalam memastikan donasi yang diproyeksikan untuk penanggulangan COVID-19 Sumatera Selatan yang dimandatkan kepadanya tersebut sampai akhirnya menimbulkan kegaduhan.

"Kegaduhan yang terjadi dapat dikatakan sebagai kelemahan saya sebagai individu. Saya sebagai manusia biasa memohon maaf, Ini terjadi akibat ke tidak hati-hatian saya," kata dia.

Kegaduhan dana hibah tersebut bermula saat itu dirinya dihubungi Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Lesty Nurainy dan dokter keluarga almarhum Akidi Tio, Hardi Darmawan di rumah dinasnya, Jumat (23/7), untuk membicarakan pemberian donasi.

"Saat itu saya sebagai kapolda hanya dipercayakan untuk menyalurkan bantuan ini uangnya diminta untuk dikawal transparansinya saja," ungkap dia.

Namun karena menaruh kepercayaan terhadap inisiasi kemanusiaan tersebut lantas tidak terlalu mendalami kepastiannya, sebab sudah diyakinkan uang tersebut tinggal diproses pencairannya saja.

Hingga akhirnya sampai saat ini uang tersebut masih belum jelas keberadaannya dan berujung kepelikan bagi kedua belah pihak.

Ia menjelaskan, sama sekali tidak mengenal anak perempuan almarhum Akidi Tio yang bernama Heryanti melainkan hanya mengenal ayahnya dan anak sulungnya yang bernama Johan saja.

"Saya hanya kenal dengan Akidi Tio saat di Palembang dan Johan saat saya bertugas di Aceh Timur, sedangkan Heriyanti saya sama sekali tidak kenal dia," ujarnya seperti dilansir Antara.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Fahrizal Daulay
JOIN US
JOIN US