Penderita HIV/AIDS Mengeluh Sering Diintimidasi Saat Berobat
photo/Ilustrasi/voa-gny/org
News

Penderita HIV/AIDS Mengeluh Sering Diintimidasi Saat Berobat

Rizka
Sabtu, 12 Oktober 2019 12:21 WIB 12 Oktober 2019, 12:21 WIB

INDOZONE.ID - Kalangan orang dengan HIV/AIDS (ODHA) mengeluhkan jika mereka sering diintimidasi ketika berobat di beberapa layanan kesehatan hingga mengakibatkan mereka malas untuk memeriksakan kesehatan. Dampaknya, mereka yang terjangkit HIV bisa terdorong berada pada status penyandang AIDS.

Salah seorang penderita HIV/AIDS berinisial F mengaku mendapat perlakuan kurang ramah dari beberapa petugas layanan kesehatan.

"Kami sering mendapatkan pertanyaan-pertanyaan yang mengintimidasi sehingga banyak dari teman-teman yang malas untuk melakukan test HIV tersebut,” katanya di LSM Sebaya Lancang Kuning di Jalan Thamrin No.17 Pekanbaru, Jumat (11/10).

HIV/AIDS
photo/Ilustrasi/evanigeria.org

Menurut F, pelayanan kesehatan yang kurang ramah mengakibatkan teman-temannya khususnya komunitas lelaki seks lelaki (LSL) dan waria malas untuk pergi ke layanan kesehatan. Apalagi, pertanyaan yang selalu dilontarkan petugas kesehatan itu seperti, 'sudah berapa kali seks dalam seminggu?', 'kenapa jadi homo?' 'kenapa jadi waria?', 'kapan taubatnya?'.

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini, kata dia, yang mengakibatkan ODHA menjadi malas untuk datang memeriksakan kesehatan atau mengambil obat ke pusat layanan kesehatan masyarakat itu atau ke rumah sakit.

"Memang sebagian kecil pelayanan kesehatan tidak seperti itu, masih ada yang ramah terhadap ODHA dan kawan komunitas. Namun demikian, kami tetap berharap untuk semua layanan kesehatan dapat membuat program ramah kepada para pasien yang datang," katanya.

HIV/AIDS
photo/Ilustrasi/voa-gny/org

Ketua Yayasan Sebaya Lancang Kuning, Rozi Asnita menjelaskan keberadaan ODHA masih saja menimbulkan stigma negatif. Dampaknya, diskriminasi bagi para penderita HIV/AIDS meningkat, sehingga membuat ODHA cenderung menarik diri dari lingkungan dan tidak mau bersosialisasi.

Ia mengatakan, banyaknya stigma sosial dari masyarakat yang mengecam kaum lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) dan HIV sebagai penyakit kaum gay. Alhasil, banyak yang merasa takut untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

"Mirisnya, diskriminasi dalam kehidupan sosial tersebut membuat penderita HIV khususnya teman-teman komunitas seperti LSL dan waria malas untuk datang ke layanan ketika ingin melakukan tes, karena mereka merasa selalu diintimidasi," katanya.

HIV/AIDS
photo/Financial Express

Rozi mengakui bahwa memang tidak semua layanan yang ramah program terhadap teman-teman komunitas, begitu pun dengan kawan lainnya. Tak jarang, ada beberapa pihak tenaga kesehatan yang kurang menghargai nilai-nilai yang dianut oleh pasien terutama LSL dan waria.

Namun hingga saat ini, Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru terus berusaha membuat program bagaimana meningkatkan pelayanan kesehatan di daerah ini agar ramah terhadap komunitas ODHA.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Rizka
Rizka

Rizka

Editor
ARTIKEL LAINNYA
LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU