Kenapa Indonesia Tidak Lockdown? Jubir Covid-19 Buka Suara
Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 Achmad Yurianto (ANTARA)
News

Kenapa Indonesia Tidak Lockdown? Jubir Covid-19 Buka Suara

Banyak aspek yang harus dipikirkan.

Minggu, 29 Maret 2020 13:12 WIB 29 Maret 2020, 13:12 WIB

INDOZONE.ID - Jumlah pasien positif virus corona di Indonesia terus bertambah. Saat ini data per Sabtu (28/3/2020) jumlah pasien positif mencapai 1.155 orang, sementara yang meninggal dunia 102 orang.

Banyak pihak mendorong pemerintah Indonesia untuk segera melakukan lockdown agar mengurangi angka penularan dan kematian akibat virus corona. Namun hingga kini, pemerintah tidak melakukan lockdown. Hanya sejumlah kota saja melakukan lokal lockdown.

Menanggapi hal itu, Juru Bicara Covid-19, Achmad Yurianto buka suara. Menurutnya, lockdown harus dilihat dalam banyak aspek. Sebab yang harus dipikirkan bukan saja soal jumlah pasien virus corona yang terus bertambah, tetapi juga masalah perekonomian.

"Ini bukan masalah kesehatan saja, ini masalah sosial, masalah ekonomi, macam-macam. Kalau lockdown, seperti ojek online tidak bisa kemana-mana, yang kasih makan siapa?," ujar Yuri, sapaan akrabnya saat dihubungi Indozone, Minggu (29/3/2020). 

Selain itu, sambung Yuri, kebijakan memutuskan lockdown tidak melihat berapa jumlah pasien yang terinfeksi virus corona dan pasien yang meninggal dunia di negara itu, melainkan banyak hal yang dipikirkan oleh pemerintah, khususnya ekonomi bagi rakyat kecil.

Pemerintah tidak lockdown, apa alasannya?
Jubir Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 (ANTARA)

"Kalau kayak gini ini yang jadi pemikiran. Bukan masalah angka, 1000, 2000, bukan masalah itu. Lockdown tidak berbicara angka tetapi berbicara bagaimana menyelesaikan masalah," tuturnya.

Yuri sendiri tidak yakin dengan lockdown maka angka penyebaran virus corona bisa berkurang dan angka kematian menurun. 

"Saya enggak yakin deh dengan lockdown masalah itu akan selesai. Enggak yakin," katanya.

Pria kelahiran Malang, 11 Maret 1962 itu tak ingin jika lockdown dilakukan di Indonesia akan terjadi seperti di India. Di mana rakyat akhirnya melawan polisi demi bisa mencari kebutuhan hidup sehari-hari. 

"Kayak di India, begitu polisi represif menggebuki warga yang keluar rumah, akhirnya dilawan kan polisinya. Karena mereka harus hidup dari hari ke hari. Ini kenapa pemerintah akan berpikir banyak soal lockdown," ungkap Yuri. 

Yuri pun mencontohkan, dampak dari ditutupnya penerbangan ke Jayapura dari Jakarta, kini pihaknya sulit mengirimkan obat dan alat pelindung diri (APD) bagi tenaga medis dan masyarakat di Papua. 

"Sekarang kita punya problem, dengan tidak adanya penerbangan ke Jayapura, kita mau kirim obat aja susah, terpaksa pakai pesawatnya TNI. Kirim APD, mereka teriak-teriak tidak punya APD, mau kita kirim tapi penerbangan reguler tidak ada. Akhirnya pakai pesawat TNI," tuturnya. 


Artikel menarik lainnya

TAG
Susi Fatimah

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US