The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Ketua IDI Mengaku Tak Punya Niat Jebloskan Jerinx ke Penjara: Kalau Bebas Tidak Masalah
Kolase foto Ketua IDI Terpilih 2021-2024 Dr Muhammad Adib Khumaidi (YouTube Deddy Corbuzier) dan Jerinx saat ditahan (istimewa)
News

Ketua IDI Mengaku Tak Punya Niat Jebloskan Jerinx ke Penjara: Kalau Bebas Tidak Masalah

Jumat, 23 Oktober 2020 16:40 WIB 23 Oktober 2020, 16:40 WIB

INDOZONE.ID - Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Terpilih 2021-2024 dr Muhammad Adib Khumaidi kembali angkat bicara mengenai perseteruan organisasinya dengan musisi asal Bali, I Gede Ari Astina alias Jerinx.

Adib menceritakan hal tersebut saat menjadi bintang tamu dalam program podcast bersama Deddy Corbuzier yang diunggah ke kanal YouTube miliknya, Kamis (22/10/2020).

Deddy awalnya bertanya mengenai kasus yang menimpa Jerinx. Mendengar hal tersebut, Adib terlihat tertawa. 

"Ini kalau kasusnya Jerinx ketika menyampaikan rapid test terhadap ibu-ibu hamil dan sebagainya menurut saya ternyata IDI juga setuju tentang rapid test itu tidak terlalu penting," kata Deddy mengawali.

Mendapat pertanyaan itu, Adib menjelaskan bahwa institusinya tidak terima dengan unggahan Jerinx di media sosial yang dinilai telah menyinggung.

"Bukan. Jadi begini. Rapid test itu kemarin itu sudah tertuang dalam satu pedoman yang dibuat Gugus Tugas (COVID-19). Bukan oleh IDI sebenarnya, memang di dalam Gugus Tugas ada Tim Pakar, ada juga tim pakar dari IDI. Salah satu screening pada saat itu, apalagi saat pasien berdarah-darah itu kan risiko tinggi bagi nakes kan. Salah satunya screening pada saat itu, karena keterbatasan, maka adalah dengan rapid test," jawab Adib.

"Jadi saya tidak melihat sisi kritisi dari seorang Jerinx. Kami sering diskusi, saya dengan dr Gede Sutejo itu sering berdiskusi, bahkan menjelang itu kami berdiskusi terus bahwa yang jadi masalah bukan masalah apa yang kemudian disampaikan Jerinx mengenai rapid test, tidak. Tapi saat menyinggung institusi," sambungnya.

Deddy pun kemudian melontar pertanyaan lebih dalam. Dia memperjelas bahwa laporan IDI didasarkan atas sebutan kacung oleh Jerinx.

"Nah ini menarik ini, dok. Karena begini, kan kalau mengkritisi kan dok ya, saya juga sering mengkritik. Ini kita ngomong, debat dan sebagainya. Tapi mungkin cara mengkritiknya. Cara mengkritiknya jadi pertanyaan, seperti itu. Dan ketika dokter mengatakan menyinggung sebuah institusi, itu kan memang cara bicara dia agak-agak...," kata Deddy sembali tertawa.

"Ya paham lah," sambung Adib. "Ya banyak juga orang yang seperti itu banyak juga." 

"Cuma apakah ini gara-gara kata kacung?" tanya Deddy balik.

"Yes. Jadi pada saat ini itu di saat itu adalah benar-benar kondisi yang secara psikologis, kita benar-benar dalam kondisi yang sistem, apa semuanya masih apalah. Teman-teman masih banyak berjuang pada saat itu dengan kondisi yang, apalagi yang meninggal banyak lah ya. Sehingga kondisi yang kemudian ada kata-kata itu respons ini, mohon maaf kita bicara respons, respons dari teman-teman itu benar-benar mengakibatkan satu kondisi yang menurut saya ini mempengaruhi kondisi psikologisnya teman-teman yang sedang bekerja pada saat itu," kata Adib.

"Really?" tanya Deddy.

"Yes, itu yang kenapa, dr Sutejo kan sampaikan bahwa saat itu yang disampaikan, jadi kenapa dia melaporkan, adalah sebagai hak daripada warga negara. Hak dari IDI juga melaporkan. Ini loh ada warga negara yang ngomongi kita kayak begini. Kita laporkan saja, mengenai pasal bukan urusan kita. Itu adalah proses penyidikan dalam kepolisian. Tapi ada kondisi, ini loh tolong, karena apa, sebagai konsekuensi yang harus kita sampaikan. Dan itu kita membawahi seluruh anggota kita. Jadi ada reaksi seperti itu di anggota, maka ada proses di anggota, ini harus diinikan, karena apa, kalau tidak itu akan melemahkan semangat teman-teman," kata Adib.

"Saya tidak membela Jerinx, saya tidak membela IDI, saya berada di tengah-tengah. Karena Jerinx juga kalau ngatain saya juga sering. Tahu lah ya. Dia ribut dengan saya juga sering," kata Deddy. "Cuma begini, seandainya saya mengatakan di Twitter 'wah IDI ini kerjaannya gak benar, bertentangan terus,' apakah saya juga dilaporkan kalau ngomong gitu?"

"Biasa kalau bertentang-bertentangan, it's ok. Tapi saat bicara 'kacung'. Ada kata-kata yang menurut saya itu benar-benar menyinggung perasaan seluruh anggota kami. 'Kacung' itu, kata-kata 'kacung' itu kan sebuah hal yang sangat negatif lah, bahasa itu kan bahasa yang negatif," jawab Adib.

"Kalau saya bilang 'tidak benar' kan juga penuduhan sebenarnya," Deddy menyela.

"Tapi bukan dalam membahasakan tadi, mas. Inikan membahasakannya saja. Ya kalau yang bicara IDI gak benar, banyak itu, dari media banyak, dan kita tidak membuat respons apa-apa. Tapi saat bicara itu 'kacung', dan kita bukan masalah WHO, enggak. Bahasa 'IDI kacung' itu loh, itulah kemudian menurut saya, kami juga punya hak melaporkan," kata Adib.

"Kami tidak punya target agar menang, enggak. Saya yakin, seperti dr Gede Sutejo pun mengatakan bahwa bilang, yang penting kita, silakan diproses. Masalah nanti Jerinx bebas tidak ada masalah. Dan kita tidak ada bilang Jerinx harus dipenjara, tidak ada. Teman-teman juga tidak ada yang bilang dia harus masuk penjara, targetnya kita, tidak ada. Saya jamin kita tidak ada sampai seperti itu. Dan itu juga sudah disampaikan dr Gede Sutejo kemarin. Jadi beliau sangat wise menghadapi masalah ini, dan beliau karena kondisinya adalah ada di Bali, maka teman-teman di Bali yang melakukan proses pelaporan," kata Adib.

"Berarti yang melaporkan itu IDI Bali? Atau IDI-nya?" tanya Deddy.

"Jadi beliau dapat surat mandat dari kami, dari IDI pusat, untuk melakukan proses itu. Karena memang reaksi dari anggota," jawab Adib.

"Kenapa IDI tidak berusaha untuk menggapai Jerinx? Katanya kan Jerinx karena tidak digubris oleh IDI?" tanya Deddy lagi.

"Jadi begini, kadang-kadang ada suatu kondisi-kondisi yang mungkin gak semuanya harus kita respons," jawab Adib.

Tonton selengkapnya di bawah ini:


Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Nanda Fahriza Batubara

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US
JOIN US