The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Defisit APBN Rp1.400 Triliun, Ini Cara Pemerintah Mengatasinya
Gubernur Bank Indonesia Perry warjiyo.(Instagram/@bankindonesia)
News

Defisit APBN Rp1.400 Triliun, Ini Cara Pemerintah Mengatasinya

Sudah diperkirakan.

Rabu, 29 April 2020 12:11 WIB 29 April 2020, 12:11 WIB

INDOZONE.ID - Pemerintah telah memperkirakan, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 akan melebar 5,07%, atau sekira Rp1.400 triliun. Pemerintah pun menyiapkan berbagai strategi untuk memenuhi angka defisit tersebut, salah satu caranya adalah melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN), penerbitan obligasi, penggunaan kas Negara, pinjaman ADB hingga pemanfaatan dana Badan Layanan Umum (BLU). 

"Kebutuhan defisit pemerintah bisa dipenuhi. Rp1.400 triliun itu akan dipenuhi dari mana? Dari Rp 500 triliun itu dipenuhi dari saldo kas pemerintah di BI maupun perbankan, terus dari dana BLU, pinjaman program ADB, Bank dunia dan dari penerbitan obligasi valas," ujar Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo dalam video confference hari ini, Rabu, (29/4/2020). 

BI sendiri, kata Perry, juga melakukan berbagai upaya untuk mengatasi defisit APBN tersebut, sekaligus mengintervensi pergerakan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, salah satunya melalui keikutsertaan BI dalam lelang SBN di pasar primer atau perdana. 

Logo Bank Indonesia.
Logo Bank Indonesia.(Instagram/@bankindonesia)

Sebagaimana diketahui, melalui penerbitan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2020, BI kemudian memiliki wewenang untuk ikut melakukan bidding di pasar perdana, tanpa menunggu ada investor asing yang melepas SBN-nya  di pasar sekunder. 

Perry pun mengungkap, beberapa hari lalu BI ikut serta dalam lelang perdana SBN, dimana target dalam pelelangan SBN tersebut adalah Rp20 triliun, dengan target maksimal Rp40 triliun. Adapun posisi lelang BI sendiri adalah non kompetitor bid atau tidak mengejar keuntungan. BI sendiri menyiapkan Rp7,5 triliun dalam proses lelang tersebut, namun karena yield yang tinggi (8,08%), maka BI hanya mendapatkan SBN senilai Rp2,3 triliun. Sedangkan sisanya, Rp14,3 triliun SBN, berhasil dibeli oleh investor lain. 

"Target-target lelang insya Allah cukup untuk pembiayaan fiskal. Di awal mungkin investor minta yield (imbal hasil) terlalu tinggi, karena mengira yang akan diterbitkan tinggi. Pemerintah akan nubruk-nubruk, padahal tidak," ujar Perry. 

Gubernur BI ini berharap, pasar masih akan mencerna angka-angka ini dengan baik, sehingga ketika ini sudah bisa dicerna dengan naik, maka kondisi pasar akan berangsur normal.  

"Minggu-minggu ini pasar masih mempelajari ini, makanya dari bid Rp 44,4 triliun yang dimenangkan Rp 16,6 kemarin. Mungkin pasar meminta yield (imbal hasil) terlalu tinggi. Lama-lama yield akan turun dan mendorong pemenang akan lebih banyak," pungkasnya.


Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Desika Pemita
Sigit Nugroho
TERKAIT DENGAN INI

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US
JOIN US