The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Arief Puyuono Sebut Edhy Prabowo Manusia Gak Ada Gunanya 'Si Gembala Lobster' Itu
Prabowo dan Edhy Prabowo (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A), Arief Puyuono (Instagram)
News

Arief Puyuono Sebut Edhy Prabowo Manusia Gak Ada Gunanya 'Si Gembala Lobster' Itu

Minggu, 29 November 2020 09:09 WIB 29 November 2020, 09:09 WIB

INDOZONE.ID - Mantan Wakil Ketua Umum Gerindra, Arief Poyuono ikut berkomentar terkait OTT KPK terhadap Menteri Perikanan dan Kelautan Edhy Prabowo dan sejumlah orang lainnya pada Rabu lalu (25/11/2020).

Tak tanggung-tanggung, Arief menyebut Edhy sebagai manusia tak berguna, dengan julukan si 'Gembala Lobster'.

"Ciptaan Tuhan itu semua ada gunanya, ada manfaatnya, kecuali itu, si 'Gembala Lobster' (tertawa). Manusia gak ada gunanya. Udah jadi menteri, enak. Dapat rumah dinas, dapat mobil dinas, dapat gaji, dapat pengawal, masih terima suap," katanya.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Political Jokes Indonesia (@politicaljokesid)

Menurut Arief, tertangkapnya Edhy ini sangat memalukan dan bakal merusak karier politik Prabowo. Ia bahkan menyebut peluang Prabowo untuk jadi presiden sudah tamat.

"Yang kasihan, Prabowo. Itu adalah murid kekasihnya Prabowo. Sekarang hampa Prabowo, udah gak ada kesempatan lagi jadi presiden, alias game over. Gimana dia mau ngomong tentang pemberantasan korupsi, kalau anak didiknya hari ini ditangkap KPK," ujarnya.

Jika pun Prabowo tetap ingin jadi presiden RI, kata Arief, Prabowo harus mundur dari kursi Menteri Pertahanan dalam kabinet Jokowi.

"Harusnya kalau dia mau bagus, dia mundur dari kabinetnya Jokowi. Dia bikin statement di depan umum, mengirim surat ke Pak Jokowi meminta mundur. Statment di depan umum, meminta maaf, bahwa dia tidak bisa mendidik dan mendisiplinkan kadernya. Harus kalau dia mau jadi presiden. Kalau gak mau jadi presiden ya, terus aja jadi menteri," kata Arief.

Dikemukakan Arief, bahwa OTT terhadap Edhy Prabowo ini sangat fatal, bahkan jauh lebih buruk dari kasus-kasus korupsi yang menyeret kader Gerindra terdahulu.

"Kalau anggota DPRD kena, itu gak terlalu. Ini kadernya di eksekutif. Dan pertama kali pemecah rekor OTT. Ongkos-ongkos taksi. Gimana dia mau bicara pemerintahan yang bersih. Wong kader terbaiknya koruptor. Selesai sudah," katanya.

"Prabowo orang baik, orang bener. Terbukti tidak mencuri. Sekarang dengan begini, hampa sudah. Hancur Gerindra, hancur nama Prabowo. Hancur! Mau diapain. Itulah alam. Alam memiliki keadilan tersendiri. Jadi si bangsat itu lebih mulia. Si Arif Puyuono bangsat itu lebih mulia," Arief menambahkan. 

Edhy ditangkap saat pulang dari Amerika Serikat (AS). Tak hanya Edhy Prabowo, KPK juga menangkap sejumlah anggota keluarga dari politikus Partai Gerindra itu.

Satu hal yang paling diketahui publik soal Edhy adalah ia merupakan anak buah Prabowo Subianto. Berdasarkan penelusuran Indozone.id, Edhy sudah ikut Prabowo sejak masih lajang, sampai akhirnya jadi Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) pada periode kedua pemerintahan Jokowi, sejak 23 Oktober 2019.

Jauh hari sebelum jadi menteri, Edhy bahkan pernah menjadi tukang pijat, tukang masak, tukang bersih rumah, dan tukang cuci baju Prabowo. Tak cuma itu, ke manapun Prabowo pergi, ia jadi sopir dan tukang bawa tas Prabowo.

Informasi itu disampaikan ajudan pribadi Prabowo, Rizky Irmansyah, melalui akun Instagram @rizki_irmansyah pada 3 Agustus 2020.

“Edhy itu orang hebat, ia setia pada pimpinannya sejak dulu hingga saat ini, Masih belum berubah sampai sekarang. Siapa yang menyangka dulu dia adalah ajudan saya, supir saya, tukang pijit saya, tukang masak saya, tukang cuci baju saya, tukang bersih2 rumah saya, dan mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga, tapi saat ini ia duduk sejajar dengan jabatan yang dgn saya, sama sama sebagai Menteri," demikian ditulis akun @rizki_irmansyah.

Sebelum kenal Prabowo, Edhy sempat diterima di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) pada tahun 1991 di Magelang, Jawa Tengah.

Namun, karier militer Edhy cuma seumur jagung. Dua tahun kemudian, tahun 1993, ia dipecat dari kesatuannya.

Dari situ, ia kemudian pergi ke Jakarta. Di ibukota, ia tinggal di rumah orang tua temannya. Belakangan, tahulah dia bahwa temannya tersebut merupakan karib Prabowo Subianto yang saat itu masih berpangkat letnan kolonel dan menjabat Komandan Grup III TNI AD.

Oleh Prabowo, Edhy dibiayai kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Moestopo. 

Lama kelamaan, hubungan Edhy dan Prabowo semakin dekat. Ketika Prabowo pegal-pegal, dia akan memijati Prabowo. Ketika Prabowo lapar, dia akan memasak untuk Prabowo. Rumah Prabowo pun ia yang bersihkan. Pakaian Prabowo pun dia yang mencucikan.

Namun atas semua pengabdiannya kepada Prabowo, dia dijadikan orang kepercayaan. Dia, antara lain, diajak Prabowo saat berdomisili di Jerman dan Yordania ketika Prabowo tengah merintis bisnis di sana.

Ketika Prabowo mendirikan Partai Gerindra, Edhy pun ikut bergabung sebagai kader. Entah bagaimana ceritanya, dia jadi calon anggota DPR dari Dapil Sumatera Selatan II dan berhasil menang karena meraup suara terbanyak pada tahun 2009. Pada periode 2009-2014, Edhy tergabung dalam Komisi VI DPR-RI yang mengurusi perdagangan, perindustrian, koperasi dan BUMN.

Kemudian pada 2014, Edhy kembali terpilih sebagai anggota DPR RI dari Dapil Sumatra Selatan I setelah memperoleh 75.186 suara. Pada periode 2014-2019, Edhy menjabat sebagai Ketua Komisi IV DPR-RI yang membidangi pertanian, perkebunan, kehutanan, kelautan, perikanan dan pangan.

Di luar politik, Edhy pernah jadi atlet pencak silat. Ia belajar silat sejak masih muda, hingga kemudian menjadi atlet pencak silat nasional dan ikut Pekan Olah Raga Nasional (PON) dan beberapa kejuaraan lainnya tingkat mancanegara. Saat sudah jadi anggota DPR, ia aktif mengurus perguruan silat Satria Muda Indonesia.

Nama Prabowo di belakang namanya sendiri disebut-sebut merupakan nama pemberian Prabowo, karena ia dianggap sebagai anak angkat.

Selain meraih gelar sarjana di Fakultas Ekonomi Universitas Moestopo, Edhy juga meraih gelar Magister Manajemen dari Swiss German University (SGU), Serpong (tahun 2004) dan juga gelar S-3 Ilmu Komunikasi dari Universitas Padjadjaran, Sumedang (2020).

Artikel Menarik Lainnya:

Abul Muamar
Abul Muamar

Abul Muamar

Editor

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US
JOIN US